tutur pandang.
Berbagi cakrawala tentang ke-Indonesiaan, wacana sastra kita, juga opini.

Ketika Rawa Gambut Kehilangan Ingatannya
Kerusakan alam semakin sulit dipahami sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Hutan tidak hilang dalam satu malam, sungai tidak tiba-tiba kehilangan mata air, dan sebuah ekosistem tidak serta-merta ke...

Kulepas Kau ke Edinburgh
Tiga hari yang lalu setelah tulisan ini dibuat, saya mendengarkan pesan suara dari yang saya kagumi, sekarang ia dipinang kota Edinburgh. Entah anggapannya teman atau bukan, aku mengaguminya, sudah em...

Memeriksa Kembali Max Havelaar (Bagian Terakhir)
Apakah Multatuli alias Dekker lewat “Tindakan Lebak”-nya pernah mempersoalkan kolonialisme sebagai sebuah sistem? Tidak sama sekali. Yang ia lakukan hanyalah mencoba melakukan aksi kepahlawanan yang d...

Adakah Masa Lalu itu?
Di malam itu kau membaca tumpukan naskah sastra tutur di dalam almari kakek setelah puluhan tahun jenuh menjalani hidup bersama buku-buku baru yang semakin hari membuat kau semakin bertanya. Siapakah ...

Memeriksa Kembali Max Havelaar (Bagian 4)
Multatuli alias Eduard Douwes Dekker (yang lahir dari keluarga Protestan [Calvinis] di Amsterdam, 1820) diangkat sebagai asisten residen Lebak, Banten Selatan, pada 4 Januari 1856 oleh A.J. Duymaer va...

Memeriksa Kembali Max Havelaar (Bagian 3)
“Tuan-tuan kepala negeri Lebak, kita semua mengabdi raja Belanda. Tapi raja yang adil itu, yang ingin supaya kita melakukan kewajiban kita, jauh dari sini. Tigapuluh kali seribu kali seribu jiwa, ya, ...

Memeriksa Kembali Max Havelaar (Bagian 2)
Wacana kolonial (colonial discourse)adalah sebuah istilah diperkenalkan oleh Said lewat bukunya yang fenomenal, Orientalisme (1978). Istilah ini dikembangkannya dari pemikiran Michel Foucaul...

Folk Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.”Jika pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di sana. Berusahalah pembaca mengorek-orek arsip, baik digital maupun...

Memeriksa Kembali Max Havelaar (Bagian 1)
*Tulisan ini sudah pernah di tayang di media tenggara.id dengan tautan https://tengara.id/esai/memeriksa-kembali-max-havelaar/Ja, ik, Multatuli ‘die veel gedragen heb’ neem de pen op.Ik vraag geen ver...

Fiksi yang Menyelamatkan dan Narasi yang Menyesatkan: Refleksi dari Nippon Sangoku
Pernahkah Anda menyadari ironi paling pedih saat mengonsumsi sebuah cerita distopia? Kita duduk nyaman, membolak-balik halaman demi halaman kehancuran atau menonton episode per episode, tanpa sadar ba...
