Mesin Cetak Sedang Dipanaskan

Situs web kami sedang dalam perbaikan. Namun, jaring Sastra Serkap tetap dibentangkan untuk menangkap rintihan kata dari ujung jarimu. Kalian tetap dapat mengirimkan karya melalui surel.

Catatan Redaksi Untuk Penutur

Dari segenggam layar di tanganmu, tidak perlu repot untuk susah payah membaca karya sastra, baik yang lalu, hari ini, maupun yang belum tertulis dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Kamu dapat memerintahkannya menulis tentang matahari meleleh di atas mi instan, bersanding dengan mayones dan saus cabai. Perintah-perintah itu bisa terjadi dan terpenuhi dengan segera, secepat kamu menoleh ke langit kamar lalu melihat segenggam layar di tanganmu—kegiatan-kegiatan meninabobokan, memvalidasi igauanmu sebagai pembaca.

Untuk itu, Sastra Serkap tidak berangkat menjadi dongeng sebelum tidur atau karangan dari masa lampau yang tak tahu muara rimbanya untuk kemajuan dunia kesusastraan kita. Sastra Serkap menjadi medium ekspresi bagi penutur yang hidup dan mendiami teksnya. Jikalau ia menulis pohon, haruslah ia sebagai perawat pohon, bukan penebang pohon. Jikalau ia menulis sungai, haruslah ia hidup di sepanjang sungai atau paling tidak memiliki pengalaman empiris tentang sungai. Semuanya memang berkelindan dengan kehidupan penutur, bukan yang tiba-tiba jatuh dari bibir langit jadi syair, tuturan panjang, dan tutur pandang.

Perihal Syair

Kami membuka segala kemungkinan jenis syair, baik berbentuk puisi, sajak, puisi prosa, tuturan, maupun gaya eksplorasi lainnya.

Perihal Tuturan Panjang

Tuturan Panjang memang asing terdengar di dunia kesusastraan Indonesia atau bahkan sedikit sekali jejaknya. Sastra Serkap membuka rubrik ini untuk menghidupkan semangatnya kembali. Tuturan Panjang dikenal luas oleh masyarakat Melayu, baik yang mendiami sepanjang sungai maupun di perbukitan. Tentunya mereka sangat akrab dengan Tuturan Panjang yang dipergunakan sebagai medium bercerita. Umumnya Tuturan Panjang dikehendaki untuk nasihat, petuah, dan juga larangan.

Perihal Tutur Pandang

Tutur Pandang sendiri merupakan rubrik yang kami sediakan untuk para penutur yang ingin berbagi cakrawalanya tentang ke-Indonesiaan, wacana sastra kita, juga opini yang menjembatani pengetahuan antara pembaca dengan problem yang sedang kita hadapi.

Format Tulisan

Panjang: Maksimal 2000 kata
Bentuk: Syair (4-10 karya), Tuturan Panjang, dan Tutur Pandang.
Format File: .doc
Rubrik & Bentuk: 1. Syair (4-10 karya): Membuka segala kemungkinan jenis syair; puisi, sajak, puisi prosa, tuturan, maupun eksplorasi lainnya.

2. Tuturan Panjang: Medium bercerita, nasihat, atau petuah. Kami menghidupkan kembali semangat prosa masyarakat Melayu yang bermukim di pesisir maupun perbukitan. Menerima tulisan dalam bentuk cerita pendek (cerpen), resensi (baik buku, film, maupun lainnya), pun tulisan yang berani melawan pakem.

3. Tutur Pandang: Ruang opini, esai, dan kritik untuk berbagi cakrawala tentang ke-Indonesiaan dan wacana sastra kita.
Format File: .doc/docx
Font: Times New Roman / Calibri
Ukuran 12pt, Spasi 1,5
Penamaan: Nama File: judul_namapenulis
Subjek Email: jenis tulisan (syair, tuturan panjang, tutur pandang).
Catatan Penting: Bio penulis di file terpisah dan cantumkan foto juga akun Instagram kalian. Kami mencari penutur yang hidup dan mendiami teksnya. . Untuk penutur lokal, dalam konteks ini berdomisili di Kota Palembang, diwajibkan mengirimkan naskah dalam bentuk HARD COPY. Hal ini dikarenakan kami membuka kesempatan dialog atas karya-karya yang hendak diterbitkan di laman jejaring kami. Untuk itu, dialog sangat penting guna mendorong kemajuan budaya dan aktivitas sastra di iklim yang gersang; Palembang itu sendiri.