Tutur Pandang Adakah Masa Lalu itu Asmaran Dani
Ilustrasi oleh: Ferdi Semai

Adakah Masa Lalu itu?

•
13 September 2026
•
tutur pandang

Di malam itu kau membaca tumpukan naskah sastra tutur di dalam almari kakek setelah puluhan tahun jenuh menjalani hidup bersama buku-buku baru yang semakin hari membuat kau semakin bertanya. Siapakah aku? Adakah masa lalu di dalam sastra tutur itu yang setia mencintai Sungai Komering, Sungai Ogan, Sungai Lematang, Sungai Lakitan, Sungai Batanghari Leko, Sungai Kelingi, Sungai Rupit, dan Sungai Rawas.

Seketika itu juga buku-buku baru itu mendadak muncul di hadapan kau berdiri seperti ilmuwan yang sedang menasehati muridnya. Buku-buku baru itu mengatakan. Tak ada lagi masa lalu di dalam sastra tutur itu. Masa lalu kau itu, mandi, mencuci, buang air besar, dan sekumpulan bocah nakal berenang telanjang disengat matahari yang suram.

“Di setiap wilayah hulu sungai. Buku-buku baru itu mengatakan bahwa Suku Pasemah, Suku Ogan, Suku Komering, Suku Rawas, dan lainnya hanya peradaban tua masa lalu yang buruk,” setiap pagi di sekolah. Buku-buku baru itu selalu menasehati dengan ungkapan tersebut.

“Mereka yang hidup selama beberapa generasi di bentang alam uluan, sebagian besar masuk dalam lanskap Bukit Barisan, berupa perbukitan dan lembah. Kaya flora dan fauna hanya kutukan untuk masa depan, menghambat kemajuan sains dan teknologi bila kau jadikan sastra tutur itu sebagai masa lalu penuh keindahan,” buku-buku baru itu melototi kau.

Setelah menyadari bahwa tak ada masa lalu di dalam sastra tutur itu. Dan kau meyakininya, barulah buku-buku baru itu menganggap kau sebagai sahabat. Mengajak kau bermain menikmati produk-produk pengetahuan modern. Apa yang tidak diberikan oleh buku-buku baru itu. Semuanya diberikan, kecuali cerita masa lalu sastra tutur itu kepada kau. Buku-buku baru yang mengepung seluruh penjuru sekolah itu akan marah jika kau terus merongrong meminta cerita masa lalu di dalam sastra tutur itu.

Buku-buku baru itu akan marah. Saat kau menanyakan, siapa yang membusukkan kearifan lokal berupa sastra tutur dan pantun produk pengetahuan lokal dari masa lalu itu.

“kau tanyakan saja dengan keluarga priyayi atau pemuka agama yang gemar tidur di sofa. Apa yang kau harapkan dari pepatah-petitih romantis dan pantun cabul itu. Tak ada guna bagi kau. Baca saja aku, buku-buku baru yang akan membuat masa depan kau menjadi cerah,” buku-buku baru itu terkekeh.

Buku-buku baru itu semakin tertawa. Nikmat apalagi yang kau dustakan dari kehadiran buku- buku baru yang mengepung seluruh penjuru sekolah. Semua kenikmatan sudah diberikan, kepada sungai, kepada laut, kepada kota, kepada kampung yang semakin tercerahkan berkat kehadiran buku-buku baru itu.

Tanyakan saja kepada sekolah, bukankah sekolah juru bicara kejujuran yang paling jujur? Lihatlah mereka yang percaya kepada sekolah telah menjadi manusia modern. Melupakan kampung dan memilih untuk membangun kota. Masa lalu hanya peradaban tua sakit-sakitan, dan batuk tak kunjung sembuh. Gemar berpantun sampai tertidur di sofa priyayi. Apa yang kau

harapkan dari masa lalu yang demikian mengerikan itu?

Lalu kau menyempatkan untuk bertanya kepada sekolah mengenai masa lalu di dalam sastra tutur itu.

“Sejak zaman kolonial, buku-buku baru itu bersusah payah membangun peradaban dari satu kampung ke kampung lainnya. Apakah kau tak menyadari itu?”

“Buku-buku baru itu bukan penjajah apalagi penjahat, masa lalu di dalam sastra tutur itu harus hancur dan lenyap supaya kau melupakan identitas kau yang kumuh itu. Sehingga kau menjadi beradab di mata buku-buku baru itu. Untuk apa kau menyombongkan masa lalu dari lembaran sastra tutur yang tak menghasilkan tata-tertib cara berpikir terpelajar. Bukankah terpelajar harus selalu berpikir dengan metodologi seperti yang telah diberikan buku-buku baru itu?” Sekolah dengan angkuhnya menjawab.

Kau berlari menuju kamar mandi sekolahan, mengunci pintu. Menjerit dan menangis. Membuka beberapa lembaran sastra tutur yang kau simpan di dalam saku.

Masa lalu itu tiba-tiba hadir:

*Kalu dide pacak ngiloki, Njage jadilah

[Kalau tidak bisa memperbaiki, menjaga jadilah].

Kau harus mengetahui. Aku telah berkomitmen untuk berjuang menjaga lingkungan atau alam.

*Jangan Ngeghuh Ulu Mandian” [Jangan mengeruhkan air di hulu pemandian].

Aku menjaga “ulu mandian” atau hulu air. Generasi kakek dan nenek kau menggunakan sumber air dari pegunungan. Air itu mengalir ke permukiman dan dijadikan sebagai sumber air bersih. Aku telah mengingatkan kepada siapa saja yang membuang sampah di hulu air pasti berdampak buruk bagi kehidupan manusia, flora, dan fauna sehingga hulu air harus dijaga.

“kau hidup dari generasi di bentang alam, sebagian besar masuk dalam lanskap Bukit Barisan, berupa perbukitan dan lembah, yang kaya flora dan fauna.”

“Kau hidup harmonis dengan alam sejak kakek dan nenek mengajari kau memetik buah-buahan, memanfaatkan hutan, sungai, dan laut secukupnya untuk kebutuhan kau dan anak cucu. Dulu kau begitu harmonis hidup berdampingan berbekal pengetahuan lokal, memaknai nilai-nilai produk budaya. Ingatlah suara kakek dan nenek saat menembangkan pantun di setiap pagi sembari mengajak kau bermain bolak-balik balok di tepi sungai. Maka kau akan menjadi jenius dan menjadi manusia bermoral. Senantiasa menghargai flora dan fauna yang telah aku wariskan,”

Pembatas ume kite betige [Pembatas kebun kita bertiga]

Jaoh parak bukan pemisah [Jauh dekat bukan pemisah]

Yang penting ati pepadu juge [Yang penting hati tertaut juga]

Sadarilah bahwa pantun ini menggambarkan sistem pengelolaan lahan pertanian pada masyarakat. Perbatasan lahan diatur dengan menanam pohon-pohon. Pantun itu juga memiliki sampiran tentang hubungan harmonis di dalam masyarakat.

Padilah kuning di liring bukit [Padi sudah kuning di lereng bukit] Ngetam banyak makai tuai [Panen berlimpah menggunakan tuai] Empuk dimak tahankan dikit [Meskipun tak enak sabar sedikit] Kebile agung dik betembai [Bila merasa besar tidak terbiasa]

Kau harus tahu bahwa pantun itu menggambarkan lanskap wilayah hulu Sumatera Selatan yang lestari dan indah. Berupa perbukitan, lembah, sungai-sungai kecil, yang dihiasi sawah dan hutan.

Sape ye dimak ditulung [Siapa yang tak enak ditolong]

Sawah libagh padi beghenas [Sawah luas padi bernas]

Sambil ngetam kite berejung [Sambil memanen padi kita berpantun]

Dikde teghase aghi panas [Tidak terasa hari panas]

Aku telah mengajarkan kakek dan nenek kau gotong-royong. Seperti yang digambarkan dalam pantun di atas.

Satra tutur bersemayam di setiap ritual dan bagian dari identitas kau. Sebaiknya kau menziarahi makam kakek dan nenek. Siapakah buku-buku baru itu? Bukankah buku-buku baru itu telah memisahkan kau dari masa lalu itu? Buku-buku baru bersama sekolah terus merumuskan kau, merumuskan hutan, sungai, laut, dan semua kekayaan kearifan lokal.

“Buku-buku baru itu semakin merayakan keberhasilan sudah memisahkan kau dari masa lalu. Hargai dan kenalilah masa lalu itu, sebab masa lalu itu belasan abad yang mampu hidup harmonis dengan alam. Sedangkan buku-buku baru itu hanya datang membuat kau semakin kesurupan identitas.”

***Pantun di dalam Prosa ini bersumber dari Esai Budaya “Pesan Ekologi pada Sastra Tutur Masyarakat Uluan Sumatera Selatan” karya Taufik Wijaya, yang terbit di media Mongabay 10 Desember 2021 dan telah mengizinkan penulis untuk memuat pantun di dalam karya Prosa ini.