Tiga hari yang lalu setelah tulisan ini dibuat, saya mendengarkan pesan suara dari yang saya kagumi, sekarang ia dipinang kota Edinburgh. Entah anggapannya teman atau bukan, aku mengaguminya, sudah empat tahun terpagar oleh doa-doa. Ide menulis esai ini terjadi ketika ia berbicara mengenai mimpinya terawat dengan mengampu pendidikan di sana, dan sorenya di kota tempat ia lahir akan tergantikan dengan sorenya kota, Edinburgh, tetapi ia tidak pernah membicarakannya kepadaku.
Ada satu hal yang tak pernah ia bicarakan secara terbuka kepadaku: betapa sunyinya melangkah sendirian membelah benua demi mengejar sebongkah ilmu.
Pesan suara yang sebenarnya tak terlalu malam dikirimkannya, namun getar suaranya menyimpan dentam ingatan tentang sosok laki-laki yang mendidiknya hingga remaja. Ayahnya—seorang lelaki yang menempa jiwa perempuan Edinburgh itu dengan lisan dan keteladanan—menanamkan petuah yang meresap dalam ke hippocampus-nya, menelusuri setiap sel saraf tubuhnya dengan begitu lembut. Pesan-pesan sang ayah menjadi penyangga utama ketika kaki kecil perempuan itu dipaksa berdiri tegak di atas kenyataan, meskipun hak tinggi yang ia kenakan sering kali terasa seperti duri tajam yang memijak telapak kakinya. Rasa sakit itu tak jarang membuatnya hampir berhenti sejenak hanya untuk meneteskan air mata, sebelum akhirnya ia menyapu pipinya dan melanjutkan langkah menuju Edinburgh dengan kepala tegak.
Kekuatan kepercayaan terhadap potensi diri sering kali saya temui dari pengalaman pribadi, terutama saat mengamati motif apa yang membuat seseorang rela berkorban demi keyakinannya, dan perempuan Edinburgh itu adalah manifestasi paling nyata dari pencarian tersebut. Dari pengalamannya, saya banyak berpikir bahwa keberanian untuk mempercayai kapasitas diri sendiri jarang tumbuh di ruang hampa; ia didorong oleh kehangatan orang-orang terdekat maupun petuah lama yang diwariskan lintas generasi. Di zaman modern yang serba cepat dan sarat kecanggihan informasi ini, nilai-nilai spiritual serta ajaran leluhur rupanya masih tersimpan kokoh di dalam dada perempuan yang menuju Edinburgh itu, menjelma pegangan hidup yang tak tergoyahkan oleh zaman.
Melihat cara berpikirnya, perempuan Edinburgh itu seolah membawa kembali spirit belajar era Kerajaan Sriwijaya, masa ketika para biksu dari berbagai penjuru Nusantara dan mancanegara berbondong-bondong menuntut ilmu di pusat pengetahuan Muaro Jambi pada abad ke-8. Ia selalu mengingat pesan sang ayah yang pernah melintas di telinganya sebagai kompas hidup sekaligus motif utama untuk terus maju mendobrak keterbatasan. Sebagai seorang bapak yang memikul kewajiban moril untuk memberi tahu arah hidup, ayahnya pernah berbisik lirih kepada anak perempuannya itu bahwa ia harus mengantongi nilai-nilai pegangan tersebut jikalau ia berniat melakukan batu loncatan besar dalam hidupnya menuju yang ia cintai.
Ingatan itu berakar di balik kompor dapur rumah saya, tempat mamak memasak yang posisinya berhadapan langsung dengan meja kasir di bagian depan. Rumah saya bukan sekadar tempat tinggal yang diisi oleh bapak, mamak, saya, dan kakak perempuan saya, melainkan juga tempat usaha kuliner kecil-kecilan yang dirintis bapak sejak saya masih berada di dalam kandungan. Setiap kali selesai belanja dari pasar tradisional yang berjarak delapan menit dari rumah, mamak suka mengomel halus sambil mengiris tempe kesukaan saya. Di tengah gemericik minyak panas, mamak pernah menatap saya dan bertanya mengapa saya hanya ingin langsung bekerja setelah lulus SMK, apakah saya takut bertemu dengan pelajaran lagi atau sudah bosan belajar, itu pertanyaan yang kini terasa relevan saat saya membandingkan keputusasaan saya kala itu dengan keberanian perempuan Edinburgh yang tak pernah lelah meneguk pengetahuan.
"Hmm, sebenarnya apa yang Mamak bilang itu salah semua," jawab saya waktu itu mencoba membela diri di hadapan mamak. "Lalu kenapa?" tanya mamak sambil menggeser potongan tempe ke dalam wajan yang minyaknya sudah mendidih. Saya diam sejenak, menyadari betapa sayangnya jika ilmu SMK selama tiga tahun langsung ditelan rutinitas kerja tanpa ditiupkan cita-cita yang lebih luas. Mamak kemudian mencoel perut saya yang kala itu sedikit berlebihan berat badan, lalu menasihati agar saya jangan pernah memelihara pikiran sempit seperti katak dalam tempurung—sebuah nasihat ekologis dan mental yang hari ini justru dihidupi sepenuhnya oleh perempuan yang sedang terbang menuju Edinburgh itu.
Mamak saya kerap bercerita tentang masa kecilnya di dusun yang terisolasi, di mana untuk pergi sekolah dasar saja ia harus berjalan kaki membelah hutan dan melintasi dusun-dusun tetangga. Sekolahnya terletak sangat jauh di pedalaman, membutuhkan waktu dua jam perjalanan darat dari jalan lintas daerah sebelum dilanjutkan dengan menaiki perahu menyeberangi sungai. Saya selalu bersemangat mendengarkan kisah mamak yang pernah diusuli teman-temannya saat berangkat sekolah, sebuah masa di mana sepatu merupakan barang langka dan mahal sehingga mereka harus bersekolah menggunakan sandal jepit atau bahkan tanpa alas kaki. Ketangguhan mamak menembus keterbatasan geografis demi bersekolah itu, kini saya temukan kembali dalam aura ketabahan perempuan Edinburgh, yang tak gentar melintasi samudera demi cita-citanya.
Saya akui, saya tidak membaca rincian sejarah Kerajaan Sriwijaya semendalam para sejarawan dan arkeolog, tetapi untuk mengetahui warna favorit serta makanan penutup yang sering dihabiskan perempuan Edinburgh itu di penghujung hari, saya mengetahuinya di luar kepala. Pengetahuan imajinatif itu saya dapatkan saat menatap matanya yang berbinar di atas panggung kehidupan abad modern, bertolak belakang dengan beban berat yang menghimpit kepalanya. Mungkin perempuan yang menuju Edinburgh dan selalu saya sebut dalam doa itu pun belum menyadari betapa agungnya peradaban Sriwijaya di masa lalu, namun saya selalu membayangkan bahwa di masa depan, ruang diskusi antara saya dan dia bisa berujung pada perpaduan peta pemikiran antara hermeneutika dan tafsir kehidupan.
Di balik rasa bangga, sejujurnya terselip kekhawatiran yang mendalam di dalam dada saya terhadap keselamatan dan ketenangan jiwa perempuan Edinburgh tersebut. Zaman telah berubah secara dramatis; jika pada abad ke-7 para biksu hijrah dari negeri-negeri jauh menuju Muaro Jambi untuk mencari kedalaman spiritual, kini justru perempuan itu yang harus merantau jauh ke Edinburgh demi mengejar pengetahuannya. Kota Palembang yang dulu menjadi pusat gravitasi ilmu kini perlahan tergeser, membuat perempuan itu harus berpikir ekstra keras di Edinburgh untuk membawa pulang kembali kejayaan pemikiran yang sempat hilang dari tanah kelahirannya.
Langkah kakinya yang mantap menyusuri lapangan kampus Edinburgh sambil membahu laptop yang berat mengingatkan saya pada keteguhan para leluhur saat memahat prasasti batu. Tiga tahun lalu, gambaran beban yang dipikul perempuan Edinburgh itu terekam jelas dalam ingatan saya, persis ketika saya duduk melingkar bersama Om Ferdi dan Om Yudi yang sedang berdiskusi tentang makna tersirat dari Prasasti Talang Tuo. Ada benang merah yang mengikat antara beban laptop berisi draf akademis perempuan itu dengan bongkahan batu prasasti: keduanya sama-sama memuat cita-cita besar untuk mengubah tata kehidupan masyarakat menjadi lebih bermakna.
Prasasti Talang Tuo memuat mimpi agung tentang manusia yang menembus batas-batas kemampuannya, persis seperti mimpi yang dipeluk erat oleh perempuan Edinburgh dalam setiap helatan napasnya. Hal itu memicu renungan dalam diri saya: apakah prasasti yang terpancang di kota tempat ia tinggal hanya akan menjadi batu bisu yang terabaikan, ataukah ia mampu membakar semangat perempuan itu untuk bangkit sebagai sosok reformis seperti yang selalu didoakan? Di semester dua perkuliahan—masa di mana sebagian besar mahasiswa menikmati kelonggaran waktu—perempuan Edinburgh itu justru sudah memikul beban akademis dan ekologis yang begitu intensif, membuktikan keunggulan wataknya dibanding yang lain.
Dalam satu minggu terakhir di waktu sore yang remang, saya bersama teman saya, Adwan, berbocengan menaiki sepeda motor. Motor inilah yang sehari-hari saya gunakan menembus hiruk-pikuk pasar untuk berbelanja bahan baku usaha kecil orang tua saya. Ketika tugas-tugas rumah tangga selesai, kami biasanya mampir ke kedai kopi yang diasuh mahesa. Sambil menyesap kopi tubruk beraroma kayu manis dan memikirkan kabar perempuan Edinburgh di negeri jauh, Mahesa—pengasuh kedai kopi itu—tiba-tiba menghampiri dan bertanya apakah sore ini kami jadi berkunjung ke rumah Om Ferdi di kawasan Kamboja. Teringat janji kemarin, saya pun mengangguk setuju, membayangkan betapa kayanya diskusi sore itu yang kelak bisa saya bagikan sebagai bahan cerita untuk perempuan yang berada di Edinburgh.
Kami berangkat bertiga menembus kemacetan Palembang selama dua puluh menit. Saya membonceng Adwan—seorang pemuda dari wilayah Jalur yang sedang berjuang menata kebingungannya—sementara Mahesa mengendarai motor putihnya dengan helm senada, menggendong tas lusuh yang berisikan arsip peristiwa sejarah Indonesia. Perjalanan menembus asap kota sore itu terasa menyesakkan dada; di tengah kota, suara mesin motor dan debu jalanan bergentayangan, seperti pikiran saya yang berkali-kali terbang memikirkan perempuan Edinburgh, membayangkan apakah udara dingin di Skotlandia sana terasa lebih bersih dibandingkan dengan udara tanah kelahirannya yang kian sesak oleh kejahatan lingkungan.
Setibanya di rumah Om Ferdi, Mahesa sudah mendahului kami karena mengambil rute utama, sementara saya dan Adwan agak terlambat akibat salah memilih jalan pintas. Setelah memarkirkan motor dan melepas sepatu di ambang pintu, saya mendengar riuh diskusi yang sudah memanas dari dalam ruang tamu. Suara Asmaran Dani yang khas dan memenuhi ruangan, bersahut-sahutan dengan suara asing yang tak kalah gagah—suara Om Yudi, adik dari Om Ferdi.
Om Yudi dan Om Ferdi menyapa kami dengan basa-basi yang hangat. Om Yudi menanyakan proyek yang sedang digarap Mahesa, sementara Om Ferdi memuji kejeliaan Adwan dalam menulis artikel budaya yang sempat diterbitkan di media masa. Di sudut ruangan, saya hanya sibuk mengeluarkan buku catatan dari dalam tas buku yang tak pernah absen saya bawa sejak semester pertama perkuliahan untuk mencatat apa yang keluar dari mulut si dosen, mulai dari materi kuliah dosen hingga kisah asmara percintaan dosen yang melekat ingatanku. Kebiasaan mencatat ini kelak menjadi modal utama saya untuk merajut narasi tentang ekologi dan kebudayaan, yang secara khusus saya dedikasikan untuk di baca oleh perempuan Edinburgh di kala senggangnya.
Di dalam ruangan berukuran lumayan besar itu, mungkin hanya saya sendiri yang mencatat obrolan menggunakan pena di atas kertas, sementara lima orang lainnya mencatat dan mengolah ide di dalam pikiran mereka masing-masing. Ketika Mahesa mengeluarkan bubuk kopi dari kedainya untuk diseduh oleh Om Ferdi, aroma kopi hangat menyergap indera kami. Saya terus mengoreskan pena, merekam setiap peribahasa Melayu dan kearifan lokal yang keluar dari mulut Om Yudi. Setiap kata yang terucap di ruangan itu seolah menjadi kelegehan akan kayanya bahasa yang ingin saya kirimkan lewat tulisan kepada perempuan Edinburgh, agar ia tak pernah kehilangan akar budayanya meski telah bermukim di Eropa.
Diskusi sore itu perlahan bergeser menyinggung keprihatinan bersama: sudah lebih dari belasan bahkan puluhan hari masyarakat Indonesia, khususnya di Sumatra Selatan, mengalami kesusahan bernapas secara bebas akibat pekatnya asap karhutla. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi secara masif ini jelas merupakan bentuk kejahatan lingkungan yang disengaja dan tersistematis. Realitas empiris ini dirasakan langsung saat saya melintasi jalan tol Palembang tujuan Prabumulih tahun lalu; di sepanjang jalan, hutan di kiri dan kanan jalan terbakar hebat. Rombongan kami yang terdiri dari lima orang terpaksa berhenti karena jarak pandang yang terhalang asap tebal—sebuah tragedi ekologis yang memprihatinkan, yang juga sempat membuat perempuan Edinburgh sebelum ia berangkat meninggalkan Palembang menyimpan kesedihan.
Peristiwa kabut asap tersebut menimbulkan gejolak batin yang hebat di dalam diri saya, memicu pertanyaan mendasar: mengapa bencana yang sama terus berulang setiap tahun? Jika ditarik benang merahnya dengan peribahasa "katak dalam tempurung", fenomena karhutla ini mencerminkan sesat cara berpikir para pemangku kepentingan dan pelaku pembakaran. Leluhur Melayu masa lalu selalu menggunakan contoh alam di sekitar mereka untuk memberikan nasihat hidup dan kompas moral. Ketiadaan rasa hormat terhadap nasihat leluhur inilah yang kini merusak lingkungan Palembang, sebuah krisis ekologi yang terus saya kabarkan kepada perempuan Edinburgh agar ia tetap mengingat betapa terlukanya tanah kelahirannya saat ini.
Kota Palembang, tanah kelahiran perempuan yang kini menempuh studi di Edinburgh itu, telah kehilangan keindahan pemandangan sorenya akibat tertutup jelaga asap. Padahal, sejarah mencatat bahwa peradaban Sumatra Selatan sejak era Sriwijaya hingga masa kolonial dibangun di atas fondasi kebudayaan maritim dan lahan basah. Masyarakat kuno Palembang telah terbiasa hidup harmonis di atas perahu dan rumah rakit di sepanjang Sungai Musi. Mereka memahami betul dinamika alam rawa dan pasang surut air sungai secara mandiri tanpa merusaknya, sebuah kearifan ekologis asli yang kini mungkin kedepannya bisa membantunya dan dipelajari oleh perempuan Edinburgh melalui kacamata akademis internasional.
Sejarah mencatat bahwa pada tahun 684 Masehi, sebuah amanat ekologis yang sangat maju dipahat di atas Prasasti Talang Tuo oleh Raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Prasasti tersebut berisikan firman tentang kemakmuran dan penataan lingkungan: lahan gambut dan kawasan hijau diperintahkan untuk ditanami tanaman produktif seperti kelapa, pinang, aren, sagu, bambu haur, dan wuluh. Pembangunan Taman Sriksetra dijadikan acuan untuk pengelolaan kebun, bendungan, dan kolam di seluruh wilayah kerajaan. Visi ekologis Sriwijaya abad ke-7 ini menjadi bukti sejarah yang mungkin itu saya dan ia diskusikan bersama perempuan Edinburgh, sebagai bukti bahwa tanah kelahirannya pernah menjadi pelopor perlindungan alam dunia.
Pada masa kejayaan Sriwijaya, taman, kebun, bendungan, dan kolam tersebar secara proporsional demi kebahagiaan seluruh makhluk hidup: manusia, tumbuhan, dan hewan. Raja Dapunta Hyang menginginkan seluruh flora tumbuh subur, panen melimpah, dan hewan ternak berkembang pesat, seiring dengan komitmen sosial untuk meniadakan kelaparan, pencurian, dan kejahatan. Nilai-nilai utopia ekologis pada Prasasti Talang Tuo inilah yang seharusnya menjadi bahan refleksi mendalam bagi kita hari ini.
Di tengah situasi krisis asap saat ini, relevansi peribahasa "katak dalam tempurung" dan amanat Prasasti Talang Tuo menjadi topik yang sangat mendesak untuk didiskusikan di ruang-ruang kelas, baik yang ber-AC maupun yang terbatas fasilitasnya. Penemuan prasasti di Palembang seharusnya membuka mata para pemimpin dan akademisi bahwa bencana kebakaran hutan adalah sinyal kegagalan kita dalam merawat warisan leluhur. Mengutip slogan yang sering diucapkan para petinggi negeri bahwa "bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya," hal itu kini hanya menjadi jargon kosong tanpa tindakan nyata.
Kerajaan Sriwijaya berhasil mencapai kejayaan maritim hingga kancah internasional karena masyarakatnya hidup bersatu dengan sungai dan laut. Sungai-sungai di Sumatra Selatan menjadi bagian dari Jalur Sutra Maritim, tempat kapal-kapal dagang dari Tiongkok, India, dan Timur Tengah berlabuh untuk bertukar komoditas. Keberhasilan ini dicapai berkat kearifan lokal dalam mengelola tata ruang air dan daratan. Kontras antara kejayaan masa lalu dan keterpurukan ekologis masa kini menjadi fokus perhatian perempuan Edinburgh, yang bertekad membawa pulang formula pembangunan berkelanjutan dari pengembaraan akademisnya.
Sungguh menarik untuk membandingkan pengetahuan abad ke-7 yang terbatas teknologi dengan kemudahan akses informasi di era modern saat ini. Di masa lalu, tanpa teknologi canggih, para penguasa Sriwijaya mampu menyusun perencanaan lingkungan yang begitu presisi dan berpihak pada kesejahteraan ekologis. Sebaliknya, manusia modern yang dilengkapi teknologi kompleks justru membiarkan lahannya terbakar demi keuntungan jangka pendek.
Memetik nilai sejarah untuk menjawab tantangan masa kini adalah sebuah keharusan sejarah. Cara manusia abad ke-7 memitigasi bencana dan merencanakan pengelolaan lahan harus dijadikan acuan untuk membangkitkan kesadaran ekologis generasi muda. Pemikiran kritis ini tidak hanya menjadi beban pemerintah semata, tetapi juga tanggung jawab moral masyarakat luas untuk tidak membakar lahan secara sembarangan selama musim kemarau.
Kabut asap yang menyelimuti Palembang dan beberapa wilayah Indonesia tidak hanya merusak kesehatan warga lokal, tetapi juga mengekspor polusi ke negara-negara tetangga.
Penanganan bencana yang terkesan lambat memperlihatkan ketidaksiapan sistemik kita dalam menghadapi karhutla, banjir, hingga gempa bumi. Indonesia seolah tak pernah berenti diuji oleh bencana yang sebagian besar dipicu oleh kelalaian manusia sendiri—sebuah kondisi memprihatinkan yang kerap dibahas oleh perempuan Edinburgh dalam surat-surat elektronik yang dikirimkannya dari kota tempat ia kini bermukim.
Banyak regulasi lingkungan yang dibentuk saat ini melenceng dari niat awal dan gagal diadaptasi oleh masyarakat bawah. Kota Palembang sebenarnya memiliki kesempatan emas untuk menjadikan sejarah Sriwijaya sebagai sumber etika lingkungan modern. Prasasti Talang Tuo harus digeser posisinya: bukan sekadar cagar budaya yang kaku di museum, melainkan bahan kurikulum pendidikan ekologis di sekolah, kampus, dan komunitas warga. Gagasan transformasi nilai sejarah menjadi aksi ekologis.
Di tengah kepungan asap yang kian pekat, pesan damai dari Kerajaan Sriwijaya justru terasa semakin nyaring dan relevan untuk didengar. Prasasti Talang Tuo mengingatkan bahwa manusia tidak pernah hidup sendirian di bumi ini; ada tumbuhan, satwa, air, dan ekosistem rawa yang merupakan bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia. Ketika alam dirawat dengan kasih sayang, kebaikan akan memantul kembali kepada manusia. Palembang tidak pernah kekurangan modal sejarah, yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk menerjemahkan nilai-nilai tersebut menjadi tindakan nyata—sebuah keyakinan yang selalu dipegang teguh oleh perempuan Edinburgh di sepanjang perjalanan akademisnya.
Asal-usul kebesaran Sriwijaya dapat ditelusuri lebih jauh melalui Prasasti Kedukan Bukit (683 M) yang menceritakan perjalanan suci (dapunta hyang) dalam mendirikan kerajaan. Dari sana kita belajar bahwa sistem pemerintahan yang tertata dan kekuatan politik yang luas selalu berakar dari niat suci untuk memakmurkan rakyat dan alam. Narasi sejarah ini menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering bagi perempuan Edinburgh, membakar semangatnya untuk membuktikan bahwa keturunan bangsa maritim mampu bersaing dan bersinar di panggung pendidikan internasional.
Catatan perjalanan biksu Tiongkok, I-Tsing, pada tahun 671 M semakin mempertegas keunggulan Sriwijaya sebagai pusat peradaban dan ilmu pengetahuan dunia. I-Tsing menggambarkan Sriwijaya sebagai tempat berkumpulnya ribuan pelajar dan biksu yang mendalami tata bahasa dan filsafat, bahkan menyarankan para pelajar Tiongkok untuk singgah dan belajar di Palembang sebelum melanjutkan perjalanan ke India. Kejayaan pendidikan masa lalu ini menjadi pembanding yang ironis dengan kondisi saat ini, sekaligus menjadi dorongan moral bagi perempuan Edinburgh untuk menyerap ilmu sebanyak-banyaknya di Skotlandia demi menghidupkan kembali tradisi keilmuan di tanah airnya.
Masa keemasan Sriwijaya pada abad ke-8 hingga ke-10 Masehi membuktikan bahwa kejayaan ekonomi dan maritim dapat berjalan berdampingan dengan kelestarian alam dan kemajuan intelektual. Penguasaan Selat Malaka serta pemungutan pajak yang adil membawa kemakmuran yang melimpah bagi rakyatnya. Rekam jejak kejayaan ini terus memikat pikiran perempuan Edinburgh.
Kendati kejayaan Sriwijaya perlahan memudar pasca-serangan Kerajaan Cola dari India Selatan pada tahun 1025 M dan bergesernya pusat perdagangan ke kerajaan-kerajaan baru, warisan peradabannya tidak pernah benar-benar punah. Bahasa Melayu Kuno yang terpatri pada
batu-batu prasasti telah bertransformasi menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia—bahasa yang kini digunakan oleh perempuan Edinburgh untuk menuliskan catatan rindu dan pemikirannya tentang Indonesia dari kejauhan.
Warisan kebudayaan, kebhinekaan, dan semangat belajar yang ditinggalkan Sriwijaya tetap menjadi obor penerang bagi bangsa Indonesia hingga hari ini. Dari reruntuhan sejarah, kita diajarkan bahwa kekuatan sejati suatu bangsa tidak terletak pada kekuasaan fisik semata, melainkan pada keunggulan ilmu pengetahuan, keteguhan etika lingkungan, dan kemampuan menjalin persahabatan dengan dunia luar. Nilai-nilai luhur itulah yang kini diwujudkan secara nyata oleh perempuan Edinburgh melalui pengembaraan intelektualnya; dan dari jauh, di bawah langit Palembang yang perlahan pulih dari asap, doa-doa saya akan terus mengalir melepas langkahnya menggapai mimpi di kota Edinburgh.

