Memeriksa Kembali Max Havelaar Sunlie Thomas Sastra Serkap
Ilustrasi oleh: Arsip Sastra Serkap

Memeriksa Kembali Max Havelaar (Bagian 1)

10 Agustus 2026
tutur pandang

*Tulisan ini sudah pernah di tayang di media tenggara.id dengan tautan https://tengara.id/esai/memeriksa-kembali-max-havelaar/


Ja, ik, Multatuli ‘die veel gedragen heb’ neem de pen op.

Ik vraag geen verschoning voor de vorm van myn boek.

Die vorm kwam my geschikt voor ter bereiking van myn doel.

(Multatuli, Max Havelaar)

Pendapat bahwa Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda1 adalah sebuah novel antikolonial, saya kira, hanya akan dilontarkan oleh orang-orang yang tidak membaca novel itu secara teliti dan komprehensif. Atau, mereka yang justru dengan sadar melibatkan diri dalam mistifikasi terhadap novel tersebut dan sosok pengarangnya Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker. 

Saya sepakat dengan kesimpulan Rob Nieuwenhuys, bahwa tidak ada satu pun cuplikan yang bisa diambil dari novel Max Havelaar yang dapat digunakan sebagai bukti bahwa Douwes Dekker menolak kolonialisme seperti yang digembar-gemborkan oleh para pemujanya, kecuali barangkali beberapa kalimat yang sifatnya umum dan tidak tegas2.

Memang tidak terbantahkan kalau novel ini memiliki pengaruh yang besar. Bukan saja karena ia telah “mengguncang” masyarakat Belanda3 tidak lama setelah diterbitkan oleh De Ruyter pada 1860 dan ikut berandil membuat pemerintah Belanda menimbang ulang kebijakan mereka di tanah jajahan, tetapi juga bernapas panjang. Setidaknya hingga kini, 162 tahun setelah penerbitannya, ia telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa, masih terus diperbincangkan dan dikaji dengan berbagai pendekatan dan teori—termasuk dalam tulisan ini.

Selain dipandang sebagai buku yang membakar kesadaran politik dan menggugah moralitas khalayak Belanda, Max Havelaar juga disanjung-sanjung sebagai pencapaian baru sastra Belanda pada masanya, “yang ditulis dengan bahasa Belanda yang hidup” dalam gaya baru4 yang belum pernah ditulis sebelumnya.

Seperti diakui oleh Nieuwenhuys, berkat isinya yang “menampilkan” perjuangan tokoh utama Max Havelaar membela kepentingan rakyat tanah jajahan yang tertindas, novel ini kemudian seakan-akan menjadi sebuah buku yang telah dinanti-nantikan oleh negeri Belanda dan berisi suatu pesan kepada rakyat Belanda. Lebih lanjut Niewenhuys menulis,

"Setelah penerbitan buku Max Havelaar, maka pengarang Multatuli benar-benar dijunjung tinggi oleh mahasiswa-mahasiwa Akademi Pemerintahan di Negeri Belanda sebagai seorang pahlawan yang tak terkalahkan. Dan siapa yang berangkat ke Hindia Belanda pasti membawa buku Max Havelaar di dalam bagasinya atau menyimpannya di dalam ingatan5."

Pemujaan terhadap sosok Multatuli alias Douwes Dekker dan novelnya ini bahkan bukan hanya terjadi di Belanda, melainkan juga di Indonesia sampai hari ini. Apabila di Belanda sosok Multatuli sebagai “pejabat kolonial yang peduli kepada nasib rakyat koloni” seolah-olah telah jadi penyelamat muka kolonialisme Belanda, di Indonesia ia pun lazim dipandang sebagai orang Belanda pertama yang menentang penjajahan dan kerap diperlakukan bagaikan seorang pahlawan6.

Bahkan Pramoedya Ananta Toer, salah satu sastrawan terkemuka Indonesia, tidak segan-segan melabeli novel Max Havelaar sebagai buku yang telah membunuh kolonialisme lewat esainya “Best Story; The Book That Killed Colonialism” di New York Times Magazine, 18 April 19997.

Kuatnya propaganda dengan berbagai kepentingan politis maupun sekadar kepentingan pariwisata (di masa kini)—atau kesalahpahaman interpretasi atas teks Max Havelaar dan sosok Multatuli—yang terus-menerus direproduksi inilah kiranya yang menempatkan novel tersebut juga pengarangnya sebagai mitos par excellence dan ikon antikolonial sedemikian rupa, seakan-akan apa yang disampaikan novel itu seluruhnya benar-benar fakta historis yang teruji. Pengarangnya dianggap telah melakukan sebuah tindakan revolusioner yang hendak mematahkan sistem kolonial di era Tanam Paksa.

Atas alasan inilah, penelusuran terhadap riwayat hidup pengarang serta sejarah peristiwa yang diangkatnya ke dalam novel bagi saya menjadi sama pentingnya dengan analisis tekstual melalui pembacaan dekat atas novel itu sendiri, bahkan boleh dibilang sebagai hal yang tidak terelakkan.

Sebagai sebuah novel autobiografis, Max Havelaar memang sengaja ditulis sebagai “pledoi” sang pengarang untuk merehabilitasi nama dan kehormatannya karena merasa telah diperlakukan secara tidak adil oleh atasannya, selain tentu saja—sebagaimana diungkapkan author-narrator Multatuli pada penutup novel—untuk menunjukkan kepada khalayak Belanda (yang menjadi sasaran pembaca novelnya) bahwa orang Jawa telah ditindas8.

Tujuan atau maksud penulisan novel Max Havelaar yang tersebutkan di atas belum lagi ditambah dengan kepentingan politik praktis Dekker, yakni untuk memperoleh jabatan lebih tinggi dalam pemerintahan kolonial Belanda seperti yang dikemukakan oleh Darren C. Zooklewat “Searching for Max Havelaar: Multatuli, Colonial History and the Confusion of Empire”.

Kisah Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda ditulis oleh Eduard Douwes Dekker dalam bentuk novel metafiksi yang multifokalisasi, di mana antar naratornya kadang-kadang saling menyela dalam narasi. Bentuk ini adalah pilihan sadar Dekker, yang mana melalui suara Multatuli pada bab terakhir dikatakannya sebagai bentuk yang “[…] aku rasa baik untuk mencapai tujuanku.”9

Apa itu novel metafiksi? Secara sederhana, karya metafiksi dapat dipahami sebagai karya yang menyadari dirinya sebagai fiksi dan secara sistematis menaruh perhatian atas statusnya sebagai suatu artefak dalam rangka mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang hubungan antara fiksi dan realitas10. Adapun ciri-ciri umum karya metafiksi menurut Waugh, antara lain: (1) Perayaan atas daya imajinasi kreatif serta ketidakpastian tentang validitas representasinya, (2) Kesadaran ekstrem terhadap bahasa, bentuk kesusastraan dan penulisan fiksi, serta (3) Ketidakmantapan hubungan fiksi dan kenyataan.

Karena itu, novel metafiksi secara unik cenderung menciptakan sebuah fiksi seraya membuat pernyataan soal penciptaan fiksi11. Masuknya pengarang ke dalam narasi untuk melakukan campur tangan terhadap jalan cerita atau terlibat langsung dengan para karakter, misalnya, adalah satu hal yang kerap kita temukan pada novel jenis ini.

Kendati istilah “metafiksi” sendiri baru diperkenalkan secara luas oleh William H Gass pada 1970 lewat bukunya Fiction and the Figures of Life12, tetapi karakteristik novel metafiksi boleh dibilang tampak cukup kentara pada Max Havelaar sejak bab pertama yang dibuka oleh suara Batavus Droogstoppel, seorang makelar kopi di Amsterdam dengan keinginannya menulis sebuah roman.

Saya adalah makelar kopi, tinggal di Lauriergracht No.37. Bukanlah kebiasaan saya menulis roman atau semacam itu, dan karena itu lama juga saya berpikir sebelum saya putuskan untuk membeli beberapa rim kertas ekstra, dan memulai karya yang barusan anda pegang, pembaca yang budiman, karya yang harus anda baca, kalau anda makelar kopi, atau mempunyai pekerjaan lain. Bukan saja saya belum pernah menulis sesuatu yang serupa dengan roman, tapi malahan saya tidak suka membaca yang semacam itu karena saya adalah seorang pedagang. (Max Havelaar, 1)

Cara pembukaan novel yang dituturkan langsung oleh Droogstoppel ini menunjukkan kepada kita adanya kesadaran ekstrem akan proses penulisan fiksi, ketika ia seakan mengambil posisi sebagai seorang narator-pengarang yang selama beberapa waktu akan membuat para pembaca berpikir bahwa ialah penyampai utama cerita yang memiliki otoritas penuh atas jalannya kisah.

Pada bab penghabisan barulah kita mengetahui bahwa Droogstoppel cuma salah satu dari tiga narator. Posisinya ternyata hanyalah seorang narator tingkat kedua berjenis character-narrator, yang tidak punya kekuasaan apa-apa atas narasi selain sekadar dijadikan sebagai alat untuk menyampaikan tujuan oleh narator-pengarang sesungguhnya, yakni Multatuli yang tidak lain adalah nama samaran sekaligus salah satu alter-ego dari Eduard Douwes Dekker.

Hal ini terlihat ketika seluruh peranan yang dimainkan oleh Droogstoppel sebagai narator sejak awal dalam narasi, termasuk memberi peran kepada narator lain yaitu Ernst Stern (yang di sini menjadi narator-karakter tingkat ketiga) untuk menulis novel, tiba-tiba dilucuti begitu saja oleh Multatuli sang narator utama. Karena itu, walaupun ia dibuat masih mencoba menyela narator-pengarang di penghujung novel, ia tidaklah lebih dari salah satu tokoh ciptaan dalam novel seperti Stern dan tokoh-tokoh lainnya.

Kemunculan mendadak Multatuli sebagai narator-pengarang untuk membebaskan Stern dan Droogstoppel dari tugas narator maupun untuk menyampaikan maksud dari penulisan novel Max Havelaar ini tentu saja semakin memperkuat metafiksionalitas novel tersebut. Lantaran kehadirannya yang singkat itu seperti hendak mempertegas “campur tangan pengarang dalam narasi” dan “pernyataan tentang penciptaan fiksi” yang menjadi ciri khas karya metafiksi.

Keberadaan tiga narator dengan fokalisasi masing-masing yang tampak saling bertolak belakang dan menghadirkan cerita berbingkai (atau cerita dalam cerita) tersebut barangkali bisa kita katakan sebuah strategi naratif yang cukup kompleks dari sisi bentuk, setidaknya untuk genre novel pada zamannya13. Akan tetapi, pertanyaannya kemudian, apakah bentuk yang dipilih Dekker sebagai “gayaku, itulah aku” ini hanyalah sebatas kesadaran akan teknik/gaya ungkap, atau ia memang relevan bagi Dekker dalam menyampaikan tujuan?

Bukankah Batavus Droogstoppel dan Ernst Stern sebetulnya hanya karakter-karakter yang diciptakan untuk mendukung penokohan Max Havelaar yang dipenuhi dengan penyanjungan?

Melalui pendapat dan pernyataannya tentang dirinya sendiri maupun para karakter lain dan beragam perkara, Droogstoppel ditampilkan Dekker sebagai sesosok lelaki dari masyarakat menengah ke atas Belanda yang hanya peduli kepada bisnis (penjualan kopi dan bursa)—juga (pseudo-) kesalehan ala agamanya.

Sebagaimana Droogstoppel sebagai narator-karakter mengungkapkannya, maksud dan tujuan makelar kopi ini menjadikan naskah yang dikirimkan oleh Sjaalman kepadanya sebagai sebuah novel tentu saja tidak ada hubungan dengan kepentingan sastra ataupun ketertarikan dan simpatinya atas perjuangan tokoh Max Havelaar “membela” rakyat inlander yang papa akibat penindasan. Semua itu semata-mata karena ia melihat adanya informasi berharga dari bungkusan naskah teman lamanya terkait dengan pekerjaaannya dalam bisnis pelelangan kopi. Kopi adalah hasil tanaman yang paling menguntungkan di bawah sistem Tanam Paksa sehingga paling akhir dihentikan, yakni pada 1917, empat puluh tujuh tahun setelah Undang-undang Agraria mencanangkan matinya sistem itu. Simaklah dua kutipan di bawah ini:

Hati saya melonjak, karena saya makelar kopi (Lauriergracht No.37) dan Menado adalah suatu merek yang baik.Jadi, Sjaalman yang menulis sajak-sajak cabul itu pernah bekerja dalam perusahaan kopi. Pandangan saya terhadap bungkusan itu jadi berobah. Saya menemukan karangan-karangan yang tidak saya mengerti seluruhnya, tapi yang sungguh memperlihatkan pengetahuan soal. Ada daftar-daftar,pemberitahuan-pemberitahuan, perhitungan-perhitungan dengan angka-angka yang sama sekali tidak memakai sanjak, dan semuanya itu dikerjakan dengan ketelitian dan kehati-hatian […]  (Max Havelaar, 29)

Saya selalu merenungkan buku saya, tapi karena saya cinta kebenaran, terus terang saya katakan, bahwa saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Satu hal sudah pasti: bahan-bahan yang saya temukan dalam bungkusan Sjaalman, penting untuk makelar kopi. Soalnya hanya, bagaimana saya harus memilih dan menyusun bahan-bahan itu dengan baik; tiap makelar tahu betapa pentingnya menyusun partai-partai dengan baik.

Tapi, menulis, kecuali surat-menyurat dengan principal, bukanlah keahlian saya, namun demikian saya merasa bahwa saya harus menulis, mungkin karena masa depan vak saya tergantung daripadanya. Keterangan-keterangan yang saya temukan dalam berkas-berkas Sjaalman, tidak hanya berguna untuk Last & Co saja; kalau hanya berguna untuk  Last & Co saja, tentu saya tidak bersusah payah untuk mencetak buku, yang juga akan dibaca oleh Busselinck & Waterman, sebab barang siapa yang menolong saingannya, adalah seorang gila; itu prinsip saya yang tegas. Tidak, saya menyadari bahaya yang mengancam seluruh pasaran kopi dengan kerusakan; —suatu bahaya yang hanya dapat dielakkan dengan mempersatukan tenaga semua makelar, malahan mungkin tenaga-tenaga itu tidak cukup kuat untuk itu, dan perlu diikutsertakan rafinadeur dan pedagang-pedagang nila […] (Max Havelaar, 41)

Intinya, berbagai informasi mengenai produksi kopi di Hindia Belanda dari naskah Sjaalman itu demikian penting di mata Droogstoppel dan dianggapnya bermanfaat luas bagi kemaslahatan negeri Belanda, mulai dari perusahaan pelayaran sampai pekerja kebun, dari pemilik kincir dan pendeta sampai Raja Belanda.

Itu sebabnya, meskipun berkali-kali dengan sinis dan penuh kebencian mencemooh karya sastra baik novel, puisi maupun drama yang dianggapnya tidak berguna dan penuh dengan kebohongan berbahaya14, ia tetap bertekad untuk menerbitkan bagian-bagian yang berguna dari naskah Sjaalman dengan menugaskan Ernst Stern, seorang pemuda Jerman putra langganannya yang sedang magang di kantornya untuk menulis ulang naskah tersebut dibantu oleh Frits putranya sendiri dan Marie putrinya yang bertugas menyalin.

Tidak hanya dideskripsikan (atau mendeskripsikan diri) sebagai pembenci karya sastra, dengan jelas Droogstoppel juga mengemukakan kebenciannya kepada orang miskin. Ia memahami kemiskinan sebagai akibat dari ketidaktaatan beragama dan sifat seseorang yang kurang baik. Karena itu, baginya orang-orang miskin tidak lain adalah kaum pemalas dan pendosa yang jauh dari karunia Tuhan. Logika berpikir Droogstoppel yang khas ini disamping bertolak dari caranya mengukur status seseorang yang selalu berdasarkan materi, tampaknya juga dipengaruhi (atau setidaknya dibungkus) oleh khotbah-khotbah yang disampaikan oleh Pendeta Wawelaar di gereja.

Alasan inilah yang membuatnya tidak menyukai Sjaalman yang tampak melarat, bahkan sudah merasa tidak nyaman dan mencoba menghindari lelaki bersyal itu sejak pertemuan kembali mereka pertama kalinya di depan sebuah toko buku.

Saya ceritakan, bahkan kami tiga belas orang di kantor, dan bahwa kami sibuk. Lalu saya tanyakan dia, apa kabarnya; kemudian saya menyesal telah memajukan pertanyaan itu, sebab ia rupanya dalam keadaan tidak begitu baik, dan saya tidak suka kepada orang miskin, sebab biasanya kemiskinan itu karena salah sendiri; Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang mengabdi kepadanya dengan setia. (Max Havelaar, 12-13)

Kegusaran Droogstoppel—yang tidak henti-hentinya mencitrakan diri sebagai orang baik yang saleh dan cinta kebenaran—kepada kaum miskin ini bisa kita temukan berkali-kali sepanjang novel ketika ia mengambil alih fokalisasi dari Ernst Stern. Bahkan keyakinannya bahwa Sjaalman adalah seorang bertabiat kurang baik semakin menguat selepas ia bertemu dan dijamu seorang mantan residen kaya-raya yang mengaku kenal Sjaalman dan menceritakan kepadanya kelakuan Sjaalman yang tidak beres di Hindia Belanda. Akibatnya Droogstoppel pun menyimpulkan bahwa orang baik dan rajin pasti akan berhasil di Hindia, sementara orang malas dan berkelakuan buruk bakal pulang sebagai orang yang menyedihkan.

Namun begitu ia juga beranggapan bahwa “orang miskin harus ada, itu perlu dalam masyarakat; asal dia jangan minta-minta dan tidak mengganggu siapa-siapa”15. Karena itu kaum miskin seperti rakyat jajahan di Jawa yang kafir,—menurut ia—harus diselamatkan dari neraka dengan disuruh kerja rodi, terutama dengan menanam kopi. Sebab bekerja keras akan memudahkan orang-orang kafir itu untuk menerima kebenaran Kristen.

Perhatikanlah kata-kata Droogstoppel berikut yang kiranya menunjukkan dukungannya terhadap pelaksanaan sistem Tanam Paksa:

Bukankah Injil barang yang paling mulia? Adakah yang lebih tinggi dari pada kebahagiaan? Maka bukankah kewajiban kita untuk membahagiakan manusia? Dan jika untuk itu diperlukan kerja,—saya sendiri dua puluh tahun mengunjungi bursa,—bolehkah kita melarang orang Jawa bekerja, pekerjaan yang diperlukan untuk kebahagiaan jiwanya, supaya nanti tidak akan dibakar dalam api neraka? Itulah ketamakan, ketamakan yang keji, jika kita tidak melakukan segala usaha supaya orang-orang malang yang sesat itu jangan mengalami masa depan yang dashyat, yang digambarkan oleh Pendeta Wawelaar dengan begitu fasih. Seorang perempuan jatuh pingsan, ketika ia bercerita tentang seorang anak kecil berkulit hitam; barangkali ia mempunyai anak yang kulitnya agak hitam; memang perempuan begitu. (Max Havelaar, 144)

Saya akan kemukakan di sini beberapa keping dari khotbahnya, yang sangat menarik, sebab dari pidato Wawelaarlah saya memetik pendapat bahwa penghentian peraturan penanaman kopi di Lebak tidak sah, hal ini akan saya bicarakan nanti, lagipula sebagai orang yang jujur saya tidak mau pembaca tidak akan menerima apa-apa untuk wang yang dikeluarkannya. (Max Havelaar, 139)

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, pandangan paternalistik dan orientalis khas bangsa kulit putih terhadap rakyat jajahan yang dikemukakan dengan penuh keyakinan oleh Droogstoppel ini tidak hanya merupakan pemikiran pribadinya sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh misi zending pada masa itu yang didengarnya dari Pendeta Wawelaar, yang menganggap bahwa para penduduk di tanah jajahan harus diselamatkan dengan dikenalkan kepada agama yang benar, yakni agama Kristen.

Selama berabad-abad, dan mencapai puncaknya pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, misi penyebaran agama Kristen ini telah menjadi salah satu pembenaran praktik kolonialisme. Bahkan dapat dibilang sebagai salah satu dari tiga semboyan pendorong penjelajahan samudra bangsa Eropa termashyur yang “memunculkan” praktik kolonialisme dan imperialisme, yakni GoldGloryGospel.

Itu sebabnya dalam khotbah-khotbah Pendeta Wawelaar, diyakini betul bahwa bangsa Belanda—yang beradab dan makmur karena kekristenannya—memikul tugas suci dari Tuhan untuk membawa peradaban, pengetahuan, dan agama kepada orang Jawa yang tersesat lewat praktik kolonialisme. Perhatikan kutipan dari khotbah sang pendeta yang memperlihatkan secara jelas sikap ini:

Tapi, para Kekasih, Pendeta Wawelaar meneruskan, Tuhan adalah Tuhan cinta kasih. Ia tidak mau orang berdosa jadi binasa, tapi supaya ia bahagia dengan anugerah, di dalam Kristus, oleh kepercayaan! Karena itulah negeri Belanda terpilih untuk menyelamatkan apa-apa yang dapat diselamatkan dari orang-orang yang celaka itu. Untuk itu Ia, dalam kebijaksanaanNya yang tidak dapat diduga, memberikan kekuasaan kepada sebuah negeri yang kecil, tapi besar dan kuat karena pengetahuannya akan Tuhan, untuk menguasai penduduk daerah-daerah itu, supaya mereka dapat diselamatkan dari azab neraka oleh Injil yang suci dan mulia. Kapal-kapal negeri Belanda melayari samudera luas, dan membawa peradaban, kekristenan, kepada orang Jawa yang tersesat.

Tidak, negeri Belanda yang bahagia, tidak menginginkan kebahagiaan untuk dirinya sendiri; kita juga ingin membaginya kepada orang-orang yang celaka di pantai-pantai yang jauh, orang-orang yang terbelenggu dalam ketidakpercayaan, tahyul, dan kecabulan. (Max Havelaar, 141-142)

Sebagai fenomena politik, kolonialisme sesungguhnya dibangun di atas “imajinasi kolonial” (colonial imagination) tentang wilayah, orang dan budaya terjajah. Hal ini lantaran dalam eksploitasinya terhadap tanah jajahan dan para penghuninya, kolonialisme selalu menyertai diri dengan produksi pengetahuan kolonial yang lebih kerap bias dan manipulatif tentang masyarakat wilayah tersebut, yang ditulis semata-mata untuk melayani kepentingan sang penjajah. Dalam mendeskripsikan masyarakat jajahan, kaum kolonial seolah-olah menulis di atas kertas kosong tentang masyarakat yang sama sekali belum ditandai. Mereka menamakan, mencirikan, mengaji masyarakat terjajah tersebut dalam kerangka kerja bahasa dan aturan-aturan kolonial.

Karena itu, kawasan Timur yang selalu dianggap oleh orang Eropa sebagai daerah jajahan mereka yang terbesar, terkaya dan tertua, tidak hanya sekadar menjadi wilayah secara geografis dan lawan Barat dalam budaya dan struktur bahasa; tetapi ia adalah sesuatu yang dibakukan oleh perspektif Barat (atau meminjam Edward W. Said, “Ditimurkan”)16.

Untuk itu, digunakanlah dua cara yang saling menguatkan. Pertama, menciptakan wacana kolonial tentang dunia Timur sebagai identifikasi. Kedua, mengaduk struktur ciptaan mereka dengan tatanan masyarakat Timur dengan dalih pemberadaban yang direpresentasikan sebagai tanggung jawab kemanusiaan, bahkan tugas suci.

Penciptaan mitos “pribumi malas”, “orang Asia pembohong”, “otak orang kulit hitam kurang berkembang”, termasuk di sini citra tentang “orang-orang yang terbelenggu dalam ketidakpercayaan, takhayul, dan kecabulan” dalam khotbah Pendeta Wawelaar di atas, adalah contoh dari wacana kolonial yang diikuti oleh serangkaian diskursus moral misi pemberadaban (civilising mission)17.


*Tulisan ini akan dimuat berkala pada laman Sastra Serkap dalam skala satu minggu sekali. Keseluruhan naskah kritik yang ditulis Sunlie Thomas Alexander ini akan dipecah menjadi 5 bagian.

* *Tulisan ini mengajak pembaca untuk meninjau kembali novel Max Havelaar karya Multatuli melalui pembacaan yang lebih kritis dan kontekstual. Selama ini, karya tersebut kerap dipandang sebagai salah satu karya sastra penting yang menggugat praktik kolonialisme dan penindasan di Hindia Belanda. Namun, di balik citra tersebut, terdapat kompleksitas narasi, karakter, dan strategi penceritaan yang menarik untuk dikaji lebih jauh. Kehadiran tokoh seperti Batavus Droogstoppel, Ernst Stern, Sjaalman, dan Max Havelaar memperlihatkan bagaimana pengarang membangun berbagai sudut pandang untuk menyampaikan kritik terhadap masyarakat dan sistem kolonial. Melalui tulisan ini, pembaca diajak mempertanyakan kembali bagaimana mitos tentang Max Havelaar sebagai karya antikolonial terbentuk, sekaligus melihat hubungan antara bentuk sastra, kepentingan pengarang, dan realitas sejarah. Dengan demikian, Max Havelaar tidak hanya dibaca sebagai novel sejarah, tetapi juga sebagai teks yang terus relevan untuk memahami kolonialisme, kekuasaan, dan cara sastra membentuk ingatan kolektif.


Catatan Kaki

1Novel ini diterbitkan pertama kali dengan judul Max Havelaar of de Koffij-veilingen der Nederlandsche Handelsmaatschappij (Amsterdam: De Ruyter, 1860). Edisi Indonesia novel ini terbit berdasarkan terjemahan H,B. Jassin dengan judul Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda (1972). Selanjutnya ditulis Max Havelaar.

2Rob Nieuwenhuys, Mitos dari Lebak, terjemahan Sitor Situmorang (Depok: Komunitas Bambu, 2019), 111. Buku ini sebelumnya pernah diterbitkan dengan judul Hikayat Lebak oleh Pustaka Jaya pada 1977. Sebelum diindonesiakan oleh Sitor, buku ini merupakan seri esai Nieuwenhuys yang terbit secara bersambung di De Haagse Post pada awal 1975 dengan judul “De Mythe van Lebak”. Selanjutnya ditulis Mitos dari Lebak.

3Menurut Volgens Van Hoëvell, anggota Parlemen Belanda dari Partai Liberal pada 1860, novel Max Havelaar telah menyebabkan kecemasan besar dan kemarahan dalam banyak pikiran di negeri Belanda (“grote ongerustheid, ja ik durf zeggen verontwaardiging, in veler gemoed in dit land […] ontstaan”). Ia membuat seluruh Belanda merinding (“een rilling door het land”). Lihat dr. J. De Gier, “Rilling door het land”, dalam https://www.digibron.nl/viewer /collectie/Digibron/id/tag: RD.nl,20100514:newsml_2c6b375cc8894fb9fb99e9dedf2c13a4, diakses 12/02/2022.

4Seperti diungkapkan oleh Dr. Gerard Termorshuizen dalam “Pendahuluan” untuk cetakan kedelapan Max Havelaar terjemahan H.B. Jassin (2000), sebelum novel ini terbit, Douwes Dekker telah melatih diri menulis dengan gaya bahasa yang disebutnya (tampaknya kepada Arie Cornelis Kruseman, teman masa kecilnya yang menjadi penerbit di Harlem) sebagai “gayaku, itulah aku” ini melalui surat-surat kepada istrinya, Everdine Huberte van Wijnbergen (atau karakter Tine dalam Max Havelaar) pada masa pertunangan mereka. Lihat Max Havelaar, xviii. Sementara itu, Rob Nieuwenhuys dalam Oost-Indische Spiegel (1972), 142-143—sebagaimana dicatat Darren C. Zook—menyatakan bahwa lewat inovasi stilistikanya dalam Max Havelaar, Multatuli (Dekker) telah membuat terobosan definitif atas gaya formalistik sastra tradisional Belanda dan membebaskan dirinya, juga (kemudian) para penulis lain dari batasan tradisi yang akhirnya memungkinkan pengembangan sastra Belanda modern. Lihat Darren C. Zook,“Searching for Max Havelaar: Multatuli, Colonial History and the Confusion of Empire”. MLN 121 (2006), 1176-1177.

5Mitos dari Lebak, 3.

6Di Belanda, propaganda Max Havelaar sebagai novel yang menggugat kolonialisme pun terus direproduksi sampai sekarang, seperti lewat keberadaan Museum Multatuli di Amsterdam, beragam peringatan ulang tahun novel Max Havelaar, penobatannya sebagai karya berbahasa Belanda terpenting sepanjang masa pada 2002, atau pengadaptasian novel itu dalam berbagai format baru. Sementara di Indonesia, khususnya di Lebak, Banten, yang menjadi latarcerita Max Havelaar sekaligus tempat “Peristiwa Lebak” Douwes Dekker, selain didirikannya museum dengan nama yang sama sebagai museum antikolonial pertama di Indonesia, kita menemukan pula penggunaan nama “Saijah-Adinda” untuk dua perpustakaan umum dan nama yayasan yang didirikan oleh tokoh Lebak Uwes Qowy serta gelar untuk duta putra-putri pariwisata Kabupaten Lebak. Ada pula Festival Seni Multatuli, sebuah program seni tahunan yang diadakan oleh Pemda Kabupaten Lebak. Sebuah organisasi gerakan jurnalisme publik juga menamakan diri mereka dengan nama “Project Multatuli”.

7Lihat Pramoedya Ananta Toer, “Best Story; The Book That Killed Colonialism” dalam The New York Times Magazine. 18 April 1999, Section 6, 112. Lihat https://www.nytimes.com/1999/04/18/magazine/best-story-the-bookthat-killed-colonialism.html, diakses 15/09/2021.

8Max Havelaar, 347.

9Ibid., 346-347.

10Patricia Waugh. Metafiction:The Theory and Practice of Self-Conscious Fiction(London & New York: Routledge: 1984), 2. Selanjutnya ditulis Metafiction. Waugh menulis, “Metafictionis a term given to fictional writing which self-consciously and systematically draws attention to its status as an artefact in order to pose questions about the relationship between fiction and reality. In providing a critique of their own methods of construction, such writings not only examine the fundamental structures of narrative fiction, they also explore the possible fictionality of the world outside the literary fictional text.”

11Metafiction, 6.

12Metafiction, 2-3. Bandingkan dengan “Metafiction” dalam https://en.m.wikipedia.org/wiki/Metafiction dan Jerome Klinkowitz, “Metafiction” (26 July 2017) dalam https://doi.org/10.1093/acrefore/9780190201098.013.546, diakses 15/02/2022.

13Cerita berfokal internal adalah fokalisasi dengan pemandang berada di dalam cerita atau pemandang adalah salah satu tokoh. Fokalisasi jenis ini dibedakan lagi menjadi tiga jenis, yaitu fixed atau tetap (seluruh cerita dipandang melalui sudut pandang salah satu tokoh saja), variable atau berubah (di dalam cerita ada pergantian pemandang dari satu tokoh ke tokoh lain), dan multiple atau jamak (sebuah peristiwa dipandang melalui sudut pandang beberapa tokoh).

14Droogstoppel bahkan dengan tegas dan penuh cemooh menyalahkan para orangtua yang mengenalkan sajak kepada anak-anak, ia juga begitu mencemaskan Frits ketika anak lelakinya itu membacakan sajak romantis yang ditemukan dalam bungkusan naskah tulisan Sjaalman kepada anak-anak gadis keluarga pedagang gula Rosemeijer. Lihat Max Havelaar, Bab I dan Bab III.

15Max Havelaar, 19.

16Eduard W. Said, Orientalisme: Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai Subjek, terjemahan Achmad Fawaid (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 7-8. Selanjutnya ditulis Orientalisme.Said berkata: Timur mengalami “orientalisasi” (Timur ditimurkan) tidak hanya karena sifatnya yang—bagi orang Eropa abad XIX—cenderung aneh dan eksotik, tetapi juga karena Timur dapat dijadikan atau lebih tepatnya dipaksa untuk menjadi “Timur”-nya orang Eropa (“boneka” Timur bagi orang Eropa). Untuk ini Said mencontohkan bagaimana perjumpaan Gustave Flaubert dengan Kuchuk Hanem, seorang pelacur Mesir, telah menciptakan model wanita Timur yang menimbulkan pengaruh luas di daratan Eropa dan mungkin juga di dunia. Padahal, si pelacur tersebut tidak pernah berbicara tentang dirinya, tidak pernah mengungkapkan perasaannya, kehadirannya ataupun riwayat hidupnya kepada Flaubert. Flaubert-lah yang justru berbicara atas nama dan mewakili sang pelacur. Flaubert adalah orang asing, laki-laki, dan secara komparatif lebih kaya, dibandingkan dengan Kuchuk Hanem yang adalah orang Timur, perempuan, dan memang lebih miskin. Semua ini adalah fakta historis dominasi yang tidak hanya memungkinkan Flaubert menguasai Kuchuk Hanem secara fisik, tetapi juga memungkinkan Flaubert untuk berbicara atas nama Kuchuk Hanem dan menerangkan kepada para pembacanya mengapa ia (Kuchuk Hanem) menjadi perlambang “khas” bagi Timur.

17Simon Philpott, Meruntuhkan Indonesia: Politik Postkolonial dan Otoritarianisme, terjemahan Zuly Qodir dan Uzair Fauzan (Yogyakarta: LKiS, 2003), 48.


Kepustakaan

Adipurwawidjana, Ari J. “Pola Narasi Kolonial dan Pascakolonial”. Jurnal Kalam, 14, 1999.

Alatas, Syed Hussein. 1989.Mitos Pribumi Malas. TerjemahanAhmad Rofie dan Zainab Kassim.Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Alcoff, Linda Martín.“The Problem of Speaking for Others”. Cultural Critique, Winter 1991-1992, pp. 5-32, dalam http://alcoff.com/content/speaothers.html, diakses 20/06/2022.

Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths and Helen Tiffin. 2001. Post-Colonial Studies: The Key Concepts. London: Routledge.

Chabibah, Uswatul. “Sisi Lain Eduard Douwes Dekker: Pejabat yang Tak Pernah “Blusukan”” dalam https://tirto.id/sisi-lain-eduard-douwes-dekker-pejabat-yang-tak-pernah-blusukan-gan6, diakses 15/09/2021.

Defoe, Daniel. 2007. Robinson Crusoe. New York: Oxford University Press Inc.

Defoe, Daniel. 2010. Robinson Crusoe. Terjemahan Peusy Sharmaya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

De Gier, dr. J. “Rilling door het land”, dalam https://www.digibron.nl/viewer/collectie/Digibron/id/tag: RD.nl,20100514:newsml_2c6b375cc8894fb9fb99e9dedf2c13a4, diakses 12/02/2022.

Dewi, Christiana. Max Havelaar dan Citra Antikolonial: Sebuah Tinjauan Poskolonial. Atavisme. Vol.11, No.1 2008, hlm. 23-37.

Erlang, Niduparas (ed.). 2018. Simposium: Pascakolonial dan Isu-isu Mutakhir Lintas Disiplin. Lebak:Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak.

Erlang, Niduparas (ed.). 2019. Membaca Ulang Max Havelaar. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.

Faruk, Dr. 2007. Belenggu Pasca-Kolonial: Hegemoni & Resistensi dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Klinkowitz, Jerome. “Metafiction” (26 July 2017) dalam https://doi.org/10.1093/acrefore/9780190201098.013.546, diakses 15/02/2022.

Morton, Stephen Morton. 2008. Gayatri Spivak; Etika, Subaltern dan Kritik Penalaran Poskolonial. Terj. Wiwin Indiarti, SS, M.Hum. Yogyakarta: Penerbit Pararaton.

Multatuli. 2000 (Cet.8). Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda. Terj. H.B. Jassin. Jakarta: Djambatan.

Nieuwenhuys, Rob. 2019. Mitos dari Lebak. Terj. Sitor Situmorang. Depok: Komunitas Bambu.

Peransi, David Albert. “Max Havelaar, Mitos Belanda yang Membuat Kita Terkecoh”. jurnalfootage.net dalam https://sites.google.com/site/nimusinstitut/max-havelaar, diakses 15/09/2021.

Philpott, Simon. 2003. Meruntuhkan Indonesia: Politik Postkolonial dan Otoritarianisme. Terjemahan Zuly Qodir dan Uzair Fauzan. Yogyakarta: LKiS.

Said, Edward W. 1995. Kebudayaan dan Kekuasaan: Membongkar Mitos Hegemoni Barat. Terjemahan Rahmani Astuti. Bandung: Mizan.

Said, Edward W. 2003. Orientalism. London: Penguin Books.

Said, Edward W. 2010.Orientalisme: Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai Subjek. Terjemahan Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saparudin, Endin (ed.). 2021. Manis Tapi Tragis. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.

Sastrowardoyo, Subagio. 1990. Sastra Hindia Belanda dan Kita. Jakarta: Balai Pustaka.

Toer, Pramoedya Ananta. “Best Story; The Book That Killed Colonialism”. The New York Times Magazine, 18 April 1999, Section 6, hal. 112, dalam https://www.nytimes.com/1999/04/18/magazine/best-story-the-bookthat-killed-colonialism.html, diakses 15/09/2021.

Waugh, Patricia.1984. Metafiction: The Theory and Practice of Self-Conscious Fiction. London & New York: Routledge.

Wikipedia. “Metafiction” dalam https://en.m.wikipedia.org/wiki/Metafiction, diakses 15/02/2022.

Wikipedia. “Uncle Tom’s Cabin” dalam https://en.m.wikipedia.org/wiki/Uncle_Tom’s_Cabin, diakses  03/07/2022.

Zook, Darren C. “Searching for Max Havelaar: Multatuli, Colonial History and the Confusion of Empire”.MLN 121 (2006), hlm. 1169-1189.