Memeriksa Kembali Max Havelaar Sunlie Thomas Sastra Serkap
Ilustrasi oleh: Arsip Sastra Serkap

Memeriksa Kembali Max Havelaar (Bagian 4)

5 September 2026
tutur pandang

Multatuli alias Eduard Douwes Dekker (yang lahir dari keluarga Protestan [Calvinis] di Amsterdam, 1820) diangkat sebagai asisten residen Lebak, Banten Selatan, pada 4 Januari 1856 oleh A.J. Duymaer van Twist—selepas ia dan keluarganya berkesempatan bertemu secara pribadi dengan sang gubernur jenderal. Satu hal yang oleh Rob Nieuwenhuys dinilai sebagai kesalahan kebijakan Gubernur Jenderal van Twist adalah pengangkatan itu tidak melalui pembahasan dengan Raad van Indie (Dewan Hindia Belanda) sebab Dekker bukan berasal dari kalangan pamong praja.

Pengangkatan Dekker lebih dikarenakan oleh faktor kedekatan personal (saling kenal)32 ketimbang oleh pertimbangan matang dari van Twist. Meskipun sang gubernur jenderal memiliki alasan tersendiri yang dikemukakannya bertahun-tahun kemudian, yakni Dekker dianggapnya sebagai sosok yang bersimpati kepada kaum bumiputra33. Padahal Dekker bukanlah figur yang punya rekam jejak cukup bagus sebagai pegawai pemerintah. Tercatat dua kali ia dibebastugaskan dari jabatannya akibat kesalahan yang sama, yakni kesembronoannya yang keterlaluan dalam administrasi keuangan. Hal ini terjadi pada saat ia menjabat sebagai kontrolir di Natal, Sumatra Utara (1842-1843) dan ketika ia diperbantukan kepada residen Padang Hulu (1844).

Kita memang tidak tahu pasti apa yang diperbincangkan oleh Dekker dan van Twist dalam santapan-santapan malam mereka. Namun—seperti yang ditelaah Nieuwenhuys—dari pembincangan-pembincangan mereka ini, Dekker agaknya mendapatkan kesan bahwa van Twist adalah gubernur jenderal yang sesuai dengan pandangan dan idamannya34. Karena itu, Dekker sepertinya tidak menduga van Twist bakal menolak pengaduannya dan memutuskan untuk memindahkannya ke Ngawi. Perlu diingat, Dekker—sebagaimana yang diceritakannya dalam Max Havelaar—tidaklah dipecat dari jabatan, tetapi hanya dipindahtugaskan ke daerah lain. Namun, karena merasa kecewa pengaduannya ditolak, ia pun ngambek berat dan meminta berhenti.

Penelitian J. Saks yang dikemukakannya lewat Eduard Douwes Dekker, zijn jeugd en Indische jaren (Eduard Douwes Dekker, Masa Muda dan Masa Tinggalnya di Hindia Belanda) misalnya, menyatakan bahwa Multatuli telah menunjukkan gejala-gejala penyakit urat saraf sejak kecilnya. Ia “lekas merasa tersinggung dan berubah-ubah perangainya . . . menjadi permainan lonjakan perasaan dengan gelombang naik turun yang luar biasa kuatnya, dari bersemangat yang tinggi surut ke dalam kelesuan, dari murung tiba-tiba menjadi girang.” J. Saks juga menambahkan bahwa segi watak Dekker yang paling nampak adalah ambisinya, keinginan hendak menonjol selalu35. Temuan J. Saks ini jauh hari sebelumnya bahkan telah dipertegas oleh keponakan Dekker sendiri, yaitu Swath Abrahamsz dalam Multatuli als Indo-europeaan, Taal en letteren 1897, VIII, 5336.

Itu sebabnya jika kita betul-betul menganalisis “Perkara Lebak” secara komprehensif, tentunya kita bakal menemukan bagaimana penggambaran Multatuli tentang dirinya sendiri sebagai sosok yang lemah lembut serta penyabar dalam Max Havelaar justru tampak berkebalikan.

Bayangkan saja, dari sejak kedatangannya ke Lebak untuk berdinas sebagai asisten residen sampai pengunduran dirinya, Dekker hanya menghabiskan waktu tiga bulan saja di Rangkas Bitung. Dalam waktu sesingkat itu, dengan begitu percaya diri ia telah menuduh seorang bupati melakukan penyelewengan kekuasaan dan kelalain kewajiban yang cuma ia sandarkan pada arsip-arsip peninggalan Carolus serta keterangan-keterangan yang diperolehnya lewat obrolan dengan Letnan Collard dan Kontrolir van Hermet.

Bahkan ia tidak pernah mengadakan perjalanan dinas (turne) dan penelitian sendiri. Yang ia perbuat hanyalah tinggal di rumah untuk memeriksa laporan, nota, dan surat-surat yang ia temukan dalam arsipnya lalu menarik kesimpulan berdasarkan apa yang ia baca. Sehingga kata Nieuwenhuys: “[…] timbullah sebuah gambaran di mata penduduk seorang asisten residen yang duduk di bawah cahaya lampu seraya kepalanya dibungkus kain-kain basah untuk melawan sakit kepala yang terus-menerus itu37.”

Padahal, turne (inspeksi) itu—menurut Nieuwenhuys lebih lanjut—penting bagi pemerintahan dalam negeri. Karena lewat perjalanan berhari-hari di atas kuda dan menginap di pesanggrahan-pesanggrahan atau di rumah para kepala juga dengan pembicaraan dengan demang, lurah, jaro, jaksa, dan bila dikehendaki juga dengan orang-orang desa, seorang pejabat Belanda bisa mengenal lebih baik para penduduk dan kepala-kepala pribumi itu.

Dalam turne itulah seseorang dapat mengenal kehidupan di pedalaman dan belajar memahami serta merasakan banyak hal. Hanya dengan jalan demikian seseorang dapat mengetahui kenyataan yang tersembunyi di balik laporan-laporan. Namun, mengadakan turne itu saja tidaklah cukup; ada sifat-sifat dan kemampuan-kemampuan tertentu yang dibutuhkan, yaitu kesabaran dan kebijaksanaan, pengetahuan tentang bahasa serta kemampuan untuk bergaul dengan kepala-kepala itu secara akrab38.

Apakah Dekker memiliki kesabaran dan kebijaksanaan, pengetahuan tentang bahasa serta kemampuan untuk bergaul dengan para pembesar bumiputra? Ternyata tidak.

Di samping ketidakcakapan Dekker dalam bahasa Melayu (apalagi dalam bahasa Sunda), ceritanya mengenai dirinya sendiri dalam Max Havelaar sudah dengan cukup gamblang memperlihatkan kepada kita bagaimana sifatnya yang terlalu impulsif, terlalu lekas terdorong oleh perasaan, serta ceroboh dalam urusan keuangan. Sebuah ciri-ciri pribadi yang—menurut Subagio—tidak selayaknya terdapat pada penata usaha pemerintah yang baik. Wajar saja jika ia dianggap menggelapkan uang saat bertugas di Natal.

Yang paling kentara dari wataknya yang tidak sabaran dan ceroboh ini tentu saja adalah Perkara Lebak. Meskipun keterburu-buruan Dekker dalam kasus ini ternyata sedikit bisa dimengerti apabila kita kaitkan dengan bakal berakhirnya tugas van Twist sebagai gubernur jenderal. Hal ini lantaran ia memandang van Twist sebagai sekutu yang padanya ia letakkan segala harapan, termasuk harapan akan kenaikan pangkat.

Soal dirinya yang tidak pernah mengadakan turne selama masa dinas yang amat singkat itu, sebagai pengarang Multatuli kemudian berusaha menutupinya dengan cerita-cerita fiktif mengenai perjalanan Havelaar menunggu kuda di malam hari yang tidak diketahui kontrolir dan bupati untuk memeriksa perkara-perkara yang diadukan penduduk kepadanya.

Havelaar mencatat apa yang mereka katakan, kemudian ia menyuruh mereka itu pulang ke kampungnya. Ia berjanji bahwa hukum akan dijalankan, asal mereka tidak melawan dan tidak meninggalkan kampungnya, sebagaimana terniat oleh kebanyakannya. Seringkali ia, tidak lama sesudah itu berada di tempat di mana terjadi ketidakadilan, ya, acapkali ia sudah ke sana dan biasanya malam hari telah memeriksa perkara itu, sebelum si pengadu sendiri kembali di tempat tinggalnya. Demikianlah ia mengunjungi di daerah yang luas itu, desa-desa, yang duapuluh jam jauhnya dari Rangkas Betung, tanpa diketahui oleh bupati, bahkan oleh kontelir Verbrugge, bahwa ia meninggalkan ibukota. Maksudnya ia menghindarkan bahaya balas dendam terhadap pengadu, dan sekaligus supaya bupati jangan kehilangan muka dalam suatu pemeriksaan terbuka, yang apabila dilakukan oleh Havelaar, tidak akan berakhir dengan penarikan kembali pengaduan itu. (Max Havelaar, 254)

Tentu saja “tak diketahui kontrolir dan bupati” di sini amat penting bagi Dekker supaya pembaca tidak lagi memperdebatkan “kesahihan fakta” yang telah ia dekonstruksi tersebut—termasuk dengan menciptakan alibi “menghindarkan bahaya balas dendam terhadap pengadu, dan sekaligus supaya bupati jangan kehilangan muka dalam suatu pemeriksaan terbuka” yang sepintas terkesan masuk akal. Dalam hal ini Multatuli sebagai pengarang boleh dibilang berupaya melakukan koreksi terhadap dirinya sebagai Dekker demi membenarkan tindakan Dekker dalam “Perkara Lebak”. Tetapi, seperti yang dipertanyakan oleh Niewenhuys:

“Barangsiapa yang dapat menggambarkan kehidupan di kota kecil di pedalaman pada malam hari (Rangkasbitung semasa itu sebahagian masih terdiri dari hutan) dengan penjaga malamnya, peronda, rumah gardu, dan kentongannya, akan mengetahui bahwa praktis tidak mungkin bagi seorang asisten residen untuk mengadakan perjalanan dengan kuda dengan jarak beberapa puluh kilo di malam hari tanpa diketahui oleh orang. […]”

Sekalipun andai kata kita beranggapan bahwa benar-benar ia bisa keluar Rangkasbitung tanpa diketahui seorang pun, karena keteledoran para penjaga malam, tetapi toh kita akan bertanya pada diri sendiri, bahasa apa yang ia gunakan untuk berkomunikasi dengan penduduk gunung suku Sunda itu? Dan dengan cara apa ia—yang sangat kurang daya orientasinya—dapat menemukan jalannya ke wilayah di mana terdapat “penyelewengan yang sangat hebat”? yaitu tempat yang terletak jauh dari jalan besar di dalam kegelapan dan musim hujan (hujan turun hampir tiap malam dalam musim ini).  Apalagi jika dalam hal ini kita pikirkan bahwa wilayah sebelah Selatan Rangkasbitung itu masih sangat liar dan tanah pergunungan, suatu wilayah “yang liar dan sunyi”. Dengan demikian, bentuk romantis yang dibuat-buat oleh Dekker ini menunjukkan kekurangan pengetahuannya mengenai keadaan setempat39.

Apa yang menyebabkan Dekker enggan mengadakan turne? Apakah karena ia sadar bahwa kemampuannya berkomunikasi dalam bahasa setempat yang buruk? Atau, lantaran ia takut diracun? Atau, ia memang berpendapat bahwa pemeriksaan arsip saja sudah cukup baginya untuk mengetahui kebenaran? Barangkali semuanya betul. Namun, menjadikan peristiwa fiktif sebagai bagian dari pembenaran diri dalam sebuah novel autobiografis yang dimaksudkan untuk kepentingan politis tetap saja merupakan satu ketidakpantasan. Itu sebabnya, wajar apabila para pengecamnya seperti De Kock dan Maria Berdenis van Berlekon menganggap novel Max Havelaar penuh kebohongan, fitnahan, dan pemutarbalikan kenyataan serta hanya berisi pameran diri penulis yang serba sombong40.

Eduard Douwes Dekker datang ke Rangkasbitung dengan kecongkakan seorang pejabat kolonial yang menempatkan dirinya di posisi superior, bahkan merasa dirinya bak Juru Selamat yang mengemban tugas mulia menyelamatkan rakyat Lebak dari pengisapan oleh kepala-kepala negeri mereka sendiri. Karena itu, ia tidak mau tahu tentang keningratan Raden Adipati Karta Natanagara ataupun memposisikan sang bupati sebagaimana mestinya, yakni sebagai seorang kepala yang sesungguhnya dari struktur masyarakat yang berbeda. Satu hal yang telah diinsyafi oleh pemerintah kolonial Belanda lewat Peraturan Kebijaksanaan di Hindia 1854, khususnya Bab IV Artikel 67 yang berbunyi “[…] penduduk pribumi dibiarkan berada di bawah pimpinan langsung kepala-kepalanya sendiri yang diangkat atau diakui oleh pemerintah.”

Sikap Dekker kepada Bupati Lebak ini bisa dikatakan dingin, formal, dan selalu menjaga jarak seperti sikap seorang atasan kepada bawahan. Ia tidak pernah mengunjungi sang bupati meskipun jarak kediaman mereka hanya beberapa ratus meter, malah seperti sengaja menghindari pertemuan yang bersifat lebih cair lantaran prasangka buruknya terhadap sang bupati sejak awal. Sebaliknya bupati telah beberapa kali mengunjunginya di kantornya untuk urusan kedinasan. Bahkan setelah dua bulan ia menjabat, ia belum juga memberi petunjuk-petunjuk tentang pekerjaan dan penguasaan di daerahnya.

Berkali-kali lewat karakter Max Havelaar, ia juga menyatakan bahwa dirinya hendak mencari cara untuk menyadarkan Karta Natanagara dari kekhilafan secara lemah-lembut seperti seorang kakak mengingatkan adiknya yang telah salah jalan, karena ia merasa kasihan kepada sang bupati. Simak saja betapa angkuh pandangannya terhadap sang bupati lewat narasi Stern di bawah ini, yang penuh dengan kata-kata merendahkan Karta Natanagara seraya pada saat yang sama meninggikan dirinya sendiri:

Ia mulai dengan lemah lembut. Ia berbicara dengan adipati sebagai “saudara tua”. Janganlah anda kira bahwa saya, karena senang dengan pahlawan cerita saya, membagus-baguskan caranya berbicara, tapi dengarlah bagaimana sekali waktu sesudah percakapan demikian, sang bupati mengirim patihnya kepadanya untuk mengucapkan terima kasih ataus keikhlasan kata-katanya, dan bagaimana lama sesudah itu, sang patih dalam pembicaraanya dengan kontelir Verbrugge, sesudah Havelaar tidak lagi jadi asisten residen Lebak, jadi, sesudah orang tidak bisa mengharapkan apa-apa lagi dari padanya atau tidak perlu takut lagi kepadanya. —bagaimana sang patih itu merasa terharu teringat kata-kata itu, dan berseru: “Belum pernah ada tuan besar yang berbicara seperti dia!”

Ya, dia  hendak menolong, menyelamatkan, bukan mencelakakan. Ia kasihan kepada bupati. Ia tahu bagaimana tertekannya orang yang tidak punya uang, lebih-lebih jika ia terancam kehinaan dan keaiban, maka ia mencari-cari alasan untuk membenarkan sang bupati. Bupati itu sudah tua, dia adalah kepala suatu kaum yang hidup mewah di propinsi-propinsi yang berdekatan, di mana banyak dihasilkan kopi dan banyak hasil tambahan. Bukankah ia merasa hina jika tingkat hidupnya jauh di bawah keluarganya yang lebih muda? Lagipula ia fanatik dan mengira bertambahnya usianya, ia dapat membeli keselamatan jiwanya dengan membayarkan orang lain naik haji, dan memberi sedekah kepada penganggur-penganggur yang mendoa untuknya. Pejabat-pejabat sebelum Havelaar di Lebak, tidak selalu memberikan contoh yang baik, dan akhirnya keluarga bupati di Lebak itu, yang hidup atas biayanya, jadi begitu besar, sehingga sukar baginya untuk kembali ke jalan yang benar.

Demikianlah Havelaar mencari-cari alasan supaya jangan bertindak keras, dan sekali lagi, dan sekali lagi mencoba apa yang dapat dilakukan dengan cara yang lemah lembut.

Dan ia lebih jauh lagi menempuh jalan yang lebih dari lemah lembut. Dan dengan kemuliaan hati yang mengingatkan kesalahan-kesalahan yang membikin ia begitu miskin, ia selalu meminjami bupati itu uang atas tanggungjawabnya sendiri, sehingga bupati itu tidak terpaksa harus melakukan kejahatan mencuri, dan ia seperti biasa sampai lupa diri dan menghemat keperluannya sendiri dan keluarganya sehemat-hematnya, supaya dapat menolong sang bupati dengan uang sedikit yang masih dapat disisihkannya dari penghasilannya. (Max Havelaar, 238)

Apa yang diutarakan di atas tidak lain lagi-lagi cuma pencitraan diri belaka. Sebab jika Dekker memang sungguh-sungguh berniat menjaga muka sang bupati dan bersikap lemah lembut seperti yang dikatakannya, ia takkan dengan semena-mena mengusir para pemotong rumput bupati, sebab tindakan kasar itu jelas-jelas telah mempermalukan sang bupati di hadapan penduduk dan bawahannya—satu hal yang tergolong kurang ajar menurut norma di tanah Jawa-Pasundan.

Atas beragam tindakan gegabahnya, terutama tuduhannya terhadap bupati, Dekker kemudian dianggap keliru menilai relasi sosial antara bupati dan rakyatnya sekaligus bagaimana pola relasi ini bekerja. Prof. Dr. Sartono Kartodirjo dalam disertasinya Pemberontakan Petani Banten 1888 (1967)—seperti yang dikutip Nieuwenhuys—contohnya, menilai bahwa Multatuli tidak memahami latar belakang struktur patrimonial Jawa yang birokratis41. Termasuk apa yang disebut sebagai pundutan, yakni sumbangan dari penduduk untuk sesuatu upacaya yang selalu bersifat komunal dan suci yang diberikan dalam bentuk natura misalnya ayam, telur, juga kerbau.

Dalam Perkara Lebak,mengingat tingginya kedudukan sang bupati, sumbangan itu tergolong suatu “pundutan raja”, yaitu suatu pundutan berjumlah besar yang ia perlukan untuk upacara-upacara dalam rangka kunjungan keponakannya yang juga berkedudukan tinggi sebagai bupati Cianjur.

Dekker sendiri tahu bahwa bupati kesulitan uang, artinya ia dalam keadaan terpaksa harus menggunakan hak terhadap pundutan tersebut, sebab itu ia kurang gembira dengan kunjungan keponakannya, demikian ia memberitahu residen. Meski begitu, ia tetap berkewajiban untuk menyambut keponakannya sesuai dengan kehormatan yang ditetapkan adat. Apabila ia tidak melakukan hal itu, maka bukan hanya ia, melainkan juga penduduk akan merasa malu.

Namun, persoalannya, apakah Dekker betul-betul tidak memahami budaya dan masyarakat Banten, atau ia tidak mau tahu sama sekali akan hal ini? Bukankah sebagai Multatuli dalam Max Havelaar ia sendiri telah menulis bahwa:

Jika  alun-alun di depan kediaman bupati dalam keadaan kacau balau, maka penduduk sekitar situ akan malu, dan tidak sedikit wibawa yang akan diperlukan untuk mencegahnya membersihkan tanah lapang itu dari rumput-rumput, dan menyesuaikannya dengan keadaan yang pantas bagi martabat bupati. Jika mereka hendak dibayar, hal itu umumnya akan dianggap sebagai penghinaan. (Max Havelaar, 66)42

Lantas mengapa ia tidak bertindak sesuai dengan pengetahuannya tersebut dan tetap berlaku kasar pada sang bupati, bahkan tetap bersitegang dalam sikapnya kendati bupati telah mengiriminya surat yang amat sopan untuk memohon diperkenankan memanggil kembali para pemotong rumput itu?

Saya kira, hal ini selain pemahamannya tentang budaya Banten yang sebenarnya minim, yang hanya sebatas kulit luar saja, sikapnya tersebut dengan mudah diterangkan melalui perasaan superior Barat yang berlaku pada masa itu (dan sampai jauh di kemudian hari), terutama di kalangan para pejabat muda dengan cita-cita modern mereka tentang hukum Barat dan keadilan secara Barat. Oleh Dekker, norma dan nilai Eropa inilah yang dijadikannya sebagai standar dalam memandang segala sesuatu. Seperti yang dinyatakan oleh seorang bupati Tuban yang dapat berbicara dan menulis dalam bahasa Belanda:

Apa yang disebut ‘penindasan’ dan ‘pemerasan’ (….) seringkali tidak merupakan tindakan yang jahat, malahan hampir-hampir merupakan suatu kebiasaan dalam pandangan orang-orang Pribumi. Akan tetapi, pejabat-pejabat Eropa dengan pengertian Barat itu, telah belajar untuk memandang hal itu sebagai suatu pelanggaran yang berat. Bilamana mereka itu dalam hal demikian ini mau meminta nasihat kepala-kepala desa atau pejabat-pejabat Pribumi, maka mungkin mereka akan dapat membeda-bedakan apa yang dapat atau tidak dapat dilakukan oleh seorang kepala desa dan apa yang bertentangan dengan adat desa43.

Masalahnya dalam kasus ini adalah Dekker bukan saja enggan berdiskusi dengan para kepala bumiputra, tetapi ia juga tidak mau menoleransi bahwa masyarakat Hindia Belanda mengenal suatu hukum lain selain hukum tertulis Eropa yang dipaksakan dari atas dan tidak berakar dalam rasa keadilan kepala-kepala maupun rakyat. Padahal bagi mereka, ketimbang hukum Belanda, adat yang tidak tertulis itulah kenyataan. Apa yang di mata orang Barat disebut sebagai “sewenang-wenang”, “penyalahgunaan kekuasaan”, dan “pemerasan”, di mata penduduk Jawa itu hanyalah suatu kebiasaan komunal, misalnya dalam hal ini kerja bakti dan persembahan upeti kepada bupati. Apalagi hal ini bertalian erat dengan kedudukan bupati sebagai suatu lambang dalam kehidupan masyarakat. Begitu pun sebaliknya, apa yang menurut pengertian Barat termasuk hukum atau peraturan, bisa jadi adalah suatu ketidakadilan bagi penduduk bumiputra.

Dekker sepertinya hendak menutup mata untuk melihat bahwa benih penyelewengan para kepala bumiputra yang ia persoalkan itu tidaklah semata-mata disebabkan oleh soal dikukuhkannya sistem kepala-kepala adat itu sendiri, melainkan juga karena pengakuan atas sistem kepala-kepala adat itu diadakan dalam bentuk penguasaan Barat yang dijalankan oleh pemerintah sehingga telah menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial. Pertumbuhan benih-benih tersebut kemudian dirangsang oleh penggajian yang buruk dan pada umumnya juga oleh kepicikan gubernemen.

Dalam hal ini kita pun dapat melihat betapa arogannya sikap paternalistis dan orientalis yang ditunjukkan oleh seorang Dekker dalam memandang permasalahan yang ia temui pada masyarakat jajahan di Hindia, ketika ia bukan saja mencoba memaksakan peraturan dan hukum kolonial (yang menurut pendapatnya adalah “baik”) tetapi juga sebentuk moralitas humanisme Barat dan Kristen (Calvinis?). Padahal ia juga menulis sebagai berikut:

Tapi menurut pendapat saya kesalahan penguasa demikian, dalam beberapa hal tidak boleh dinilai terlalu keras, dan terutama tidak menurut pengertian-pengertian Eropah. Penduduk sendiri akan merasa aneh, barangkali karena tidak biasa, jika ia selalu dan dalam segala hal berpegang erat pada ketentuan-ketentuan mengenai angka untuk orang wajib rodi yang harus bekerja di pekarangannya, sebab selalu ada saja kemungkinan bahwa keadaan tidak tercakup dalam ketentuan. (Max Havelaar, 218)

Begitu besarnya ego Dekker ini, sehingga ketika Kern (seorang ahli linguistik) dan Quack (seorang ekonom) menghimbau agar setelah Max Havelaar terbit, orang Belanda mestinya lebih memperhatikan nasib orang Jawa, Multatuli pun naik pitam. Kern dan Quack dianggapnya musuh karena titik berat mereka jatuh pada “nasib orang Jawa” dan bukan pada “pembela orang Jawa”, yaitu Douwes Dekker (Multatuli) sendiri (Idee 1034/5)44.

Ego yang besar inilah—menurut David Albert Peransi—yang menjadi titik pangkal Dekker menuliskan novel dengan memakai pola hitam-putih: Tokoh Max Havelaar menjadi raksasa, orang suci dan bersih, sedangkan Raden Adipati digambarkan hitam pekat, dan rakyat Banten hanya menjadi pelengkap penderita saja.

Dengan begitu, apa bedanya tokoh Havelaar dengan Droogstoppel yang diciptakannya untuk mengolok-olok para pengecamnya itu? Meskipun karakteristik dan pandangan keduanya tentang rakyat Jawa dibuat seakan-akan saling memunggungi, bukankah mereka sama-sama mencitrakan diri sebagai orang baik yang penuh hasrat memuji diri sendiri dan cenderung merasa pandangannya paling benar? Hanya saja Droogstoppel menyampaikan kenarsisan dan pandangan orientalis-rasisnya itu lewat narasinya sendiri, sementara pamer diri Havelaar disuarakan lewat simpati Stern terhadap kisah kepahlawanannya di Lebak. Narator-karakter pemuda Jerman yang fasih berbahasa Belanda ini memang sengaja ia ciptakan untuk mengisahkan moralitas “kepahlawanan” dan “kemartiran” Havelaar dengan penuh puja-puji.

Sebagaimana yang dilihat oleh Darren C. Zook, terlepas dari kerangka struktur naratif Max Havelaar yang saling terkait bahwa karakter Max Havelaar pada dasarnya adalah foil sastra Multatuli, struktur sastra novel itu sama tidak konsistennya dengan etika politik sang pengarang. Multatuli sesungguhnya lebih dekat dengan Droogstoppel yang tidak menarik dan malang daripada dengan Max Havelaar yang “pahlawan”45. Karena itu Zook kemudian menarik contoh dari bagian awal novel di mana Droogstoppel mengecam ketidakbergunaan dan kebohongan panggung pertunjukan dan drama secara umum:

If we, in the spirit of Clifford Geertz, keep in mind here the elaborate array of ritualized gestures and deferential locutions that constituted Javanese political culture, it becomes clear that the address to the chiefs of Lebak, and the “real life” version of the affair which spelled the end of Multatuli’s hopes to move into the colonial elite, are little more than mirror images of Droogstoppel’s critique of theater. Droogstoppel confuses his critique of theater with his misunderstanding of its methods and intent, and Multatuli, like Max Havelaar, cannot distinguish between his critique of native injustice and his misunderstanding of the intricacies of native society46.

Lalu, dari hal apa para pemuja Multatuli dapat menjadikan Douwer Dekker atau Max Havelaar atau Multatuli (ketiganya sama saja) sebagai simbol antikolonialisme? Bagian manakah dari novel Max Havelaar yang bisa dinilai menentang kolonialisme, apalagi mematahkannya?


32Dekker kenal secara pribadi dengan van Twist melalui sepupu perempuan istrinya yang menikah dengan E. De Waal, pejabat sekretaris umum yang sangat dipercaya oleh sang gubernur jenderal. De Waal inilah—yang kemudian dikenal sebagai pencipta hukum agraria pada 1870—yang memperkenalkan Dekker dan istrinya ke Istana Buitenzorg (Bogor). Mitos dari Lebak, 25.

33Bertahun-tahun setelah terbitnya novel Max Havelaar, Gubernur Jenderal van Twist mengemukakan alasannya menempatkan Dekker sebagai asisten residen di Lebak ini dalam sepucuk surat kepada temannya Dr. Kronenberg: “Saya belajar kenal dengannya di Bogor, di mana ia tinggal setelah kembali dari cutinya sambil ia menunggu penempatan baru. Selama santapan malam, atau lebih tepat setelah santapan-santapan malam (…) saya telah beberapa kali berbicara dengannya dan ia telah mendapat simpati saya karena ia dapat merasakan nasib orang-orang Pribumi. Ketika ada lowongan di Lebak dan saya mengetahui bahwa di sana terdapat banyak hal yang kurang memuaskan, saya berpendapat bahwa ia merupakan seorang yang tepat untuk tempat ini. Walaupun Raad van Indie tidak mengusulkannya, saya telah mengangkatnya menjadi asisten residen.” Ibid., 25-26. Bandingkan dengan kutipan yang diberikan dalam “Pendahuluan” untuk Max Havelaar, x-xi.

34Max Havelaar., 28.

35J. Saks, Eduard Douwes Dekker, zijn jeugd en Indische jaren (Rotterdam: W.L. & J.Brusse, 1937), 9—seperti yang dikutip Subagio Sastrowardoyo dalam Sastra Hindia Belanda dan Kita, 41.

36Swath Abrahamsz kemenakannya sendiri yang seorang dokter, menulis bahwa Douwes Dekker, pamannya itu mengidap “neuruasthenie”, yang pada zaman itu diartikan sebagai gangguan kejiwaan. Ditandai oleh perasaan keakuan yang kuat dan ketidakmampuan mengendalikan emosi. Nah, di suatu daerah di mana seorang seperti Raden Adipati Kartanagara dianggap raja oleh penduduk, keakuan Douwes Dekker (Multatuli) yang begitu besar tidak dapat menerimanya. Karena di Lebak mestinya hanya ada satu “aku”, yaitu Eduard Douwes Dekker (Swarth Abrahamsz,Multatuli als Indo-europeaanTaal en letteren 1897, VIII, 53)—sebagaimana dikutip oleh David Albert Peransi dalam esainya, “Max Havelaar, Mitos Belanda yang Membuat Kita Terkecoh”, jurnalfootage.net dalam https://sites.google.com/site/nimusinstitut/max-havelaar, diakses 08/08/2020.

37Mitos dari Lebak, 50. Bandingkan juga dengan halaman 56: Seorang insinyur dinas pekerjaan umum [R.A. Van Sandick] dahulu menceritakan di dalam bukunya Leed en Lief in Bantam (Sukaduka di Banten) pada 1892, bahwa Kontrolir Bergsma (seorang pengagum buku Max Havelaar yang ditempatkan di Lebak pada 1862 atas permintaannya sendiri) telah mengumpulkan semua kepala Pribumi dan menanyakan kepada mereka siapa yang masih dapat mengingat Asisten Residen Douwer Dekker. Ternyata hanya ada satu orang. Ya, ia masih ingat Dekker sebagai “Tuan Asisten yang belum keliling,” katanya. Inilah yang paling menonjol baginya mengenai Dekker. Pemberitahuan dari Kontrolir Bergsma ini dilengkapi oleh apa yang terdengar sendiri oleh Van Sandick, yaitu “Seorang pemuka Pribumi yang setiap hari saya jumpai selama setahun di Sayira, daerah Lebak, dan yang pada 1856 bekerja sebagai juru tulis pada kantor asisten residen menyatakan bahwa Tuan Dekker tidak pernah pergi turne. Selama jangka waktu yang pendek selama berada di Lebak itu, ia selalu menguncikan dirinya di kantor.”

38Mitos dari Lebak, 55.

39Mitos dari Lebak, 56-57.

40Sastra Hindia Belanda dan Kita, 41-42.

41Mitos dari Lebak, 77-78.

42Terjemahan yang lebih baik atas ini saya peroleh dari kutipan dalam buku Mitos dari Lebak: “Apabila alun-alun di depan rumah bupati keadaannya seperti belukar, maka penduduk di sekitarnya mesti akan malu, sehingga akan diperlukan kekuasaan yang besar untuk mencegah mereka membersihkan lapangan itu dari rumput-rumputan dan membuat lapangan itu lebih sesuai dengan kedudukan bupati. Memberi pembayaran guna pekerjaan itu umumnya akan dipandang sebagai suatu penghinaan.” Mitos dari Lebak., 61.

43Mitos dari Lebak., 63. Nieuwenhuys juga mengutip Prof. Van Vollenhaven, penyusun buku hukum adat di Hindia Belanda, yang menyatakan bahwa apabila suatu perkara secara begitu saja dipandang sebagai suatu “pemerasan”, maka itu adalah suatu “pandangan Barat yang picik” (65).

44David Albert Peransi, “Max Havelaar, Mitos Belanda yang Membuat Kita Terkecoh”. jurnalfootage.net dalam https://sites.google.com/site/nimusinstitut/max-havelaar, diakses 15/09/2021.

45Darren C. Zook,“Searching for Max Havelaar: Multatuli, Colonial History and the Confusion of Empire”, 1175. Selanjutnya ditulis “Searching for Max Havelaar”.

46“Searching for Max Havelaar”, 1175-1176.


KEPUSTAKAAN

Adipurwawidjana, Ari J. “Pola Narasi Kolonial dan Pascakolonial”. Jurnal Kalam, 14, 1999.

Alatas, Syed Hussein. 1989.Mitos Pribumi Malas. TerjemahanAhmad Rofie dan Zainab Kassim.Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Alcoff, Linda Martín.“The Problem of Speaking for Others”. Cultural Critique, Winter 1991-1992, pp. 5-32, dalam http://alcoff.com/content/speaothers.html, diakses 20/06/2022.

Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths and Helen Tiffin. 2001. Post-Colonial Studies: The Key Concepts. London: Routledge.

Chabibah, Uswatul. “Sisi Lain Eduard Douwes Dekker: Pejabat yang Tak Pernah “Blusukan”” dalam https://tirto.id/sisi-lain-eduard-douwes-dekker-pejabat-yang-tak-pernah-blusukan-gan6, diakses 15/09/2021.

Defoe, Daniel. 2007. Robinson Crusoe. New York: Oxford University Press Inc.

Defoe, Daniel. 2010. Robinson Crusoe. Terjemahan Peusy Sharmaya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

De Gier, dr. J. “Rilling door het land”, dalam https://www.digibron.nl/viewer/collectie/Digibron/id/tag: RD.nl,20100514:newsml_2c6b375cc8894fb9fb99e9dedf2c13a4, diakses 12/02/2022.

Dewi, Christiana. Max Havelaar dan Citra Antikolonial: Sebuah Tinjauan Poskolonial. Atavisme. Vol.11, No.1 2008, hlm. 23-37.

Erlang, Niduparas (ed.). 2018. Simposium: Pascakolonial dan Isu-isu Mutakhir Lintas Disiplin. Lebak:Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak.

Erlang, Niduparas (ed.). 2019. Membaca Ulang Max Havelaar. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.

Faruk, Dr. 2007. Belenggu Pasca-Kolonial: Hegemoni & Resistensi dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Klinkowitz, Jerome. “Metafiction” (26 July 2017) dalam https://doi.org/10.1093/acrefore/9780190201098.013.546, diakses 15/02/2022.

Morton, Stephen Morton. 2008. Gayatri Spivak; Etika, Subaltern dan Kritik Penalaran Poskolonial. Terj. Wiwin Indiarti, SS, M.Hum. Yogyakarta: Penerbit Pararaton.

Multatuli. 2000 (Cet.8). Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda. Terj. H.B. Jassin. Jakarta: Djambatan.

Nieuwenhuys, Rob. 2019. Mitos dari Lebak. Terj. Sitor Situmorang. Depok: Komunitas Bambu.

Peransi, David Albert. “Max Havelaar, Mitos Belanda yang Membuat Kita Terkecoh”. jurnalfootage.net dalam https://sites.google.com/site/nimusinstitut/max-havelaar, diakses 15/09/2021.

Philpott, Simon. 2003. Meruntuhkan Indonesia: Politik Postkolonial dan Otoritarianisme. Terjemahan Zuly Qodir dan Uzair Fauzan. Yogyakarta: LKiS.

Said, Edward W. 1995. Kebudayaan dan Kekuasaan: Membongkar Mitos Hegemoni Barat. Terjemahan Rahmani Astuti. Bandung: Mizan.

Said, Edward W. 2003. Orientalism. London: Penguin Books.

Said, Edward W. 2010.Orientalisme: Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai Subjek. Terjemahan Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Saparudin, Endin (ed.). 2021. Manis Tapi Tragis. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.

Sastrowardoyo, Subagio. 1990. Sastra Hindia Belanda dan Kita. Jakarta: Balai Pustaka.

Toer, Pramoedya Ananta. “Best Story; The Book That Killed Colonialism”. The New York Times Magazine, 18 April 1999, Section 6, hal. 112, dalam https://www.nytimes.com/1999/04/18/magazine/best-story-the-bookthat-killed-colonialism.html, diakses 15/09/2021.

Waugh, Patricia.1984. Metafiction: The Theory and Practice of Self-Conscious Fiction. London & New York: Routledge.

Wikipedia. “Metafiction” dalam https://en.m.wikipedia.org/wiki/Metafiction, diakses 15/02/2022.

Wikipedia. “Uncle Tom’s Cabin” dalam https://en.m.wikipedia.org/wiki/Uncle_Tom’s_Cabin, diakses  03/07/2022.

Zook, Darren C. “Searching for Max Havelaar: Multatuli, Colonial History and the Confusion of Empire”.MLN 121 (2006), hlm. 1169-1189.