Apakah Multatuli alias Dekker lewat “Tindakan Lebak”-nya pernah mempersoalkan kolonialisme sebagai sebuah sistem? Tidak sama sekali. Yang ia lakukan hanyalah mencoba melakukan aksi kepahlawanan yang dianggapnya sebagai tindakan mulia berdasarkan perspektif eropasentrisnya, dalam hal ini ia bukan saja merasa dirinya memikul kewajiban moral untuk berkorban demi rakyat Lebak, tetapi juga menganggap penderitaannya mewakili penderitaan rakyat Lebak yang menggantungkan nasib kepadanya. Akibatnya, dengan narsis ia pun menempatkan dirinya menjadi pelindung sekaligus juru bicara bagi orang Jawa yang tidak mampu bersuara. Salah satu contoh gamblang atas hal ini antara lain dapat kita petik dari teks peristiwa ketika Havelaar didatangi oleh para penduduk yang hendak mengadu dan mencari pelindungan kepadanya:
Kebanyakannya datang dari distrik Parangkujang di mana menantu bupati menjadi kepala; dan sekalipun kepala distrik itu juga mengambil bagian dari apa yang diperas itu, bukanlah rahasia bahwa ia seringkali merampok atas nama dan untuk bupati. Mengharukan betapa orang-orang malang itu percaya kepada kesatriaan Havelaar, bahwa ia tidak akan memanggil mereka untuk mengulangi keesokan harinya dimuka umum apa yang mereka katakan dalam kamarnya. Ini akan berarti penganiayaan bagi semuanya, dan bagi kebanyakan berarti kematian. (Max Havelaar, 254)
Walaupun tampak mengolok-olok khotbah Pendeta Wawelaar (Wawelaar artinya Tukang Celoteh atau “bicara bodoh dan menjemukan47”) dan misi Kristenisasi zending lewat narasi Droogstoppel sembari memihak pada pandangan “pluralisme” Frits yang menganggap orang Jawa bukan orang kafir, tetapi di sisi lain Dekker jelas tanpa segan-segan membandingkan dirinya dengan Kristus ketika ia berpidato sebagai Max Havelaar di depan para pembesar bumiputra48. Lebih jauh lagi lewat narator Stern, Multatuli juga menyajikan kisah cinta tragis Saijah dan Adinda yang mana—sebagaimana diakui oleh Stern—hanyalah bagian dari “perumpamaan” yang mencoba meniru gaya berkhotbah Yesus dalam Injil serta berfungsi sebagai semacam ilustrasi atas penderitaan rakyat Lebak dengan Saijah sebagai personifikasinya49. Stern berkata:
Tapi mengenai pokok utamanya….. O, semoga saya dituduh memfitnah! O, semoga saya dipanggil untuk membuktikan apa yang saya tulis! O, semoga orang berkata: “Saijah itu hanya khayalan anda, dia tidak menyanyikan lagu itu, tidak ada orang bernama Adinda tinggal di Badur!” Tapi hendaknya itu dikatakan dengan kekuatan kemauan untuk menegakkan keadilan, sesudah saya buktikan bahwa saya tidak memfitnah!
Apakah dusta perumpamaan orang Samaritan yang belas kasihan, sebab barangkali tidak pernah seorang musafir yang disamun dirawat di rumah keluarga Samaritan? Apakah dusta perumpamaan orang yang menyemai, sebab kita tahu bahwa tidak ada petani yang menebar benih di atas batu? (Max Havelaar, 300)
Karena itu, dalam hal ini—sebagaimana diungkapkan Zook—Multatuli pun merasa bahwa penderitaan yang ia dapatkan akibat membela nasib rakyat Lebak sederajat dengan penderitaan yang dialami oleh Yesus, yang mencari dan mengetahui kebenaran tetapi dianiaya lantaran hal tersebut50.
Tetapi, sekali pun hanyalah sebagai kisah perumpamaan (dengan akhir sedih Saijah tewas mengenaskan di ujung bayonet serdadu Belanda), tetap saja dalam cerita khayalannya ini Multatuli cuma menyalahkan para kepala bumiputra atas segala kemalangan nasib yang menimpa tokoh-tokohnya. Bahkan, dengan terang-terangan disebutkannya bahwa kerbau milik ayah Saijah dirampas oleh Kepala Distrik Parangkujang.
Hal lain yang menunjukkan Dekker dengan “Tindakan Lebak”-nya bukan ingin mematahkan sistem kolonial, tetapi justru membelanya adalah ia tidak pernah keberatan menjadi pejabat dalam sistem itu. Tidak pula di kemudian hari setelah Max Havelaar terbit. Ini terbukti dari kesediaannya dicalonkan menduduki jabatan seperti menjadi Residen Pasuruhan, keanggotaan Dewan Hindia, dan jabatan Menteri Jajahan (ditawarkan oleh seorang menteri berhaluan konservatif51).
Usulnya menjatuhkan pemberhentian sementara kepada bupati bukanlah suatu tindakan yang ditujukan kepada sistem. Malahan hal itu sangat cocok dengan sistem. Pada zaman itu hanya kaum sosialis, yang justru ditolak oleh Multatuli, yang menganalisis sistem kolonial secara mendasar dan tegas atas dasar filsafat Marxisme, lalu menyimpulkan bahwa kemiskinan dan penyelewengan yang terjadi di Jawa menjadi tanggungjawab sistem kolonial. Sebagaimana ditanyakan oleh Nieuwenhuys:
Apakah pemecatan beberapa bupati dan kepala yang menyeleweng dapat mengubah sifat sistem itu sendiri? Tidak sama sekali. Pertanyaan ini dapat juga dirumuskan sebagai berikut: apakah yang dapat dicapai oleh Dekker andaikata keinginannya terlaksana, yakti pemecahan atau pemberhentian sementara bupati Lebak, kecuali barangkali suatu perbaikan sementara?
Bagaimanakah ia akan berhasil menemukan cara yang mujarab dalam usaha memberantas penyelewengan. Semua hal ini berasal dari sistem kolonial. Semua hal ini, menurut istilah modernnya, bersifat struktural. Sedangkan kita dapat pula berkata bahwa Dekker justru membantu menegakkan sistem yang pada hakikatnya tidak adil dengan jalan memberinya pembungkus yang menyesatkan, seakan-akan tercapai keadilan yang lebih besar52.
Masih terdapat banyak bukti bahwa Multatuli alias Dekker sangat mendukung kolonialisme di bumi Hindia yang dapat kita temukan dalam novel Max Havelaar, buku yang oleh para pembelanya (termasuk Pramoedya) disejajarkan dengan novel Uncle Tom’s Cabin karya Harriet Beecher Stowe53 (Satu hal yang seyogianya memang diinginkan oleh Multatuli sendiri dengan menyebut judul buku tersebut dalam narasi Stern54).
Contohnya, Multatuli menunjukkan sikapnya yang cukup tegas dalam menghadapi pemberontakan rakyat terhadap kekuasaan Belanda seperti yang bisa kita baca dari pembelaan dirinya (lewat percakapannya dengan Kontrolir Verbrugge dan Letnan Ducklari) atas kasus tuduhan penggelapan kas terhadapnya di Natal, juga pengalamannya berdinas di Ambon. Selain menyatakan kegusarannya pada pemerintah Hindia Belanda lantaran sedikitnya bantuan yang diberikan kepadanya dalam aksi heroiknya memadamkan pemberontakan rakyat Ambon55, ia berulangkali pula mencemooh Jenderal Van Damme (Gubernur Sumatra Barat, Andreas Victor Michiels)—yang telah memberhentikannya untuk sementara dari tugas di Sumatra—termasuk dalam hal tidak ditaklukkannya wilayah Sumatra Utara oleh sang jenderal.
“Anda tahu, Havelaar mulai, bagaimana tanah-tanah milik Belanda di Pantai Barat Sumatera berbatasan dengan kerajaan-kerajaan merdeka di sudut Utara, antaranya Aceh adalah yang paling penting. Kata orang ada satu pasal rahasia dalam perjanjian 1824, dalam mana kita berjanji kepada orang Inggeris tidak akan melewati sungai Singkel. Jadi jenderal van Damme yang dengan “faux air Napoleon” ingin meluaskan pemerintahan seluas-luasnya, tertumbuk pada rintangan yang tidak dapat diatasi dalam jurusan itu. Saya cenderung percaya akan adanya pasal rahasia itu, sebab saya heran juga mengapa raja-raja Trumon dan Analabu, yang daerah-daerahnya penting untuk perdagangan lada yang ramai di sana, tidak ditaklukkan sudah lama ke bawah kedaulatan Belanda. Anda tahu betapa mudah mencari dalih untuk memerangi kerajaan-kerajaan kecil seperti itu, dan menaklukkannya. Mencuri suatu wilayah selalu lebih mudah dari mencuri kincir. Tentang jenderal van Damme saya rasa kincirpun dia mau merampasnya, kalau dia suka, maka saya tidak mengerti mengapa ia tidak menaklukkan daerah-daerah di Utara itu, sekiranya untuk itu tidak ada alasan-alasan yang lebih kuat dari hukum dan keadilan. (Max Havelaar, 203)
Bahkan tanpa malu-malu ia mengkonstruksi citra kepahlawanan Herman Willem Daendels—Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1811 yang telah mengeksploitasi rakyat Jawa habis-habisan melalui kerja paksa untuk membangun infrastruktur atas kepentingan kolonial Belanda—dengan penuh kekaguman:
Orang akan keliru sekali, jika mempunyai gambaran tentang seluruh jalan besar di pulau Jawa, menurut ukuran jalan di daerah Lebak itu. Jalan raya yang sebenarnya, dengan cabang-cabangnya yang banyak, yang disuruh Marsekal Daendels buat dengan pengorbanan yang besar dari rakyat, sesungguhnya merupakan suatu pekerjaan yang hebat, dan kita takjub dengan semangat orang itu, yang dengan menempuh segala kesukaran yang dilintangkan orang-orang yang iri hati dan kawan-kawannya di tanah air, berani menghadapi rakyat yang enggan dan kepala-kepala yang tidak senang, untuk mengerjakan sesuatu, yang sampai sekarang masih menimbulkan kekaguman tiap pengunjung dan sepantasnya dikagumi. (Max Havelaar, 51)
Hal ini belum lagi ditambah dengan cara Multatuli memperlakukan nama para tokoh novelnya yang didasarkan pada tokoh-tokoh nyata. Semua tokoh Belanda dalam Max Havelaar diberinya nama samaran, termasuk dirinya sendiri (sebagai Max Havelaar dan Sjaalman) dan sang istri Everdine van Wijnbergen (menjadi Tine). Sebut saja Slijmering (berarti Lidah Bergetah) yang tidak lain adalah Residen Brest van Kempen, Kontrolir Verbrugge (Kontrolir Langevelt van Hermett), Letnan Ducklari (Letnan P.A.A. Collard) yang menjadi komandan garnisun pada masa itu, Asisten Residen Slotering (C.E.P. Carolus), dan Jenderal van Damme (Jenderal Andreas Victor Michiels). Tetapi untuk tokoh-tokoh pribumi seperti Raden Adipati Karta Natanagara dan Demang Parangkujang, tetaplah dipergunakan olehnya nama asli mereka secara lengkap dalam cerita.
Seperti yang dipertanyakan oleh Subagio Sastrawardoyo: “Adakah ini suatu tanda, bahwa Douwes Dekker dilepeti kesombongan dan purbasangka kolonial juga, dengan merasa tidak perlu menyembunyikan nama yang sebenarnya, karena berbeda dengan menghadapi orang-orang Belanda, tidak mengapalah menghina orang bumiputra di muka khalayak ramai pembaca?”
Meskipun dari segi bentuknya (metafiksi dan gagasan pengadopsian gaya cerita berbingkai ala hikayat Seribu Satu Malam) Max Havelaar memang tampak cukup cemerlang di tengah arus perkembangan sastra Belanda pada abad ke-19 yang kering lantaran kebanyakan pengarangnya adalah para pejabat gereja dan ahli hukum yang cuma bisa menulis karangan-karangan bersifat didaktis56; gaya penceritaan dan isi novel ini secara umum terasa cukup membosankan, terutama dari sisi betapa subjektifnya Multatuli memberikan penghargaan berupa sanjungan-sanjungan narsis dan norak terhadap tokoh Max Havelaar yang adalah pembayangan dirinya sendiri sebagai karakter serba positif dan pusat segala peristiwa.
Karena itu, meskipun Multatuli seolah-olah tidak peduli pada buruknya kualitas novel ini selain pada tujuannya menulis57, pembongkaran terhadap riwayat hidup sang pengarang justru memberikan kita sejumlah fakta bahwa Max Havelaar tidak lain hanyalah siasat Dekker untuk membenarkan sejak terjang dan perilakunya lewat sejumlah kebohongan dalam karya fiksi. Seperti yang dikatakan oleh Nieuwenhuys: Guna mengaburkan hal yang sesungguhnya terjadi, Dekker merajut imajinasi dan realitas. Ia bersembunyi dalam selimut ketidakjelasan58.
Sekali lagi, baik dalam”Perkara Lebak” di dunia nyata maupun dalam cerita novel Max Havelaar, Douwes Dekker alias Multatuli alias Max Havelaar sama sekali tidak pernah menggugat ketidakabsahan dan ketidakpatutan kekuasaan kolonial Belanda di bumi Nusantara, yang ia gugat hanyalah bagaimana kebijakan-kebijakan pemerintah Belanda di tanah Hindia yang dijalankan oleh para pembesar bumiputra telah menyengsarakan rakyat jajahan. Dan semua itu diabaikan oleh para pejabat kolonial.
Tapi datanglah orang-orang asing dari Barat; mereka itu menjadikan dirinya pemilik tanah itu. Mereka hendak mendapat untung dari kesuburan tanah itu, dan menyuruh penduduk memberikan sebagian tenaga dan waktunya untuk menghasilkan tanaman-tanaman lain, yang lebih menguntungkan di pasar-pasar Eropah. Untuk menggerakkan orang-orang yang sederhana itu, cukuplah mempunyai pengetahuan politik sedikit. Mereka patuh kepada kepala-kepalanya; jadi cukuplah kalau dapat mempengaruhi kepala-kepalanya itu, dengan menjanjikan sebagian keuntungan kepada mereka ….., dan, — mereka berhasil.
Kalau kita perhatikan betapa banyaknya hasil-hasil pulau Jawa, yang dilelang di negeri Belanda, menjadi yakinlah kita betapa suksesnya politik itu, meskipun tidak mulia. Sebab, kalau ada orang bertanya apakah si petani sendiri mendapat upah sebanding dengan hasilnya, maka saya harus mengatakan tidak. Pemerintah mewajibkan menanam di tanahnya sendiri apa yang dikehendaki oleh pemerintah; pemerintah menghukumnya, jika ia menjual hasil yang diperoleh dengan cara itu kepada siapapun juga, kecuali pemerintah, dan pemerintah sendiri yang menetapkan harga, yang akan dibayarnya untuk itu. Ongkos-ongkos pengangkutan ke Eropah dengan perantaraan badan perdagangan yang diberi hak istimewa, tinggi; wang penggairah yang diberikan kepada kepala-kepala, memberatkan pula harga beli, — dan karena seluruh perdagangan harus memberikan untung, keuntungan itu tidak bisa didapat dengan cara lain dari membayar si orang Jawa sekedar supaya ia jangan mati kelapangan, hal mana akan mengurangi tenaga hasil bangsa itu.
Pun kepada pejabat-pejabat Eropah dibayarkan upah sebanding dengan penghasilan….
[…]
Bahaya kelaparan? ….. Di pulau Jawa yang subur dan kaya itu, bahaya kelaparan? Ya, saudara pembaca; beberapa tahun yang lalu ada distrik-distrik yang seluruh penduduknya mati kelaparan, …. ibu-ibu menjual anaknya untuk makan, …. ibu-ibu memakan anaknya sendiri….
Tapi kemudian negeri Belanda turun tangan. Di ruang-ruang sidang perwakilan rakyat orang merasa tidak senang dengan hal itu, dan gubernur jenderal tatkala itu memerintahkan jangan lagi menambah apa yang disebut Hasil-hasil Pasar Eropah sampai orang kelaparan ….. Saya jadi merasa geram. Siapakah yang dapat menuliskan hal-hal demikian tanpa merasa geram?
Akhirnya saya akan membicarakan jenis penghasilan yang terakhir dan terutama dari kepala-kepala Bumiputera, yakni penggunaan sewenang-wenang tenaga orang dan milik rakyat. (Max Havelaar, 63-64)
Perlawanan Dekker maupun gugatan yang kemudian dilakukannya lewat novel Max Havelaar terhadap kebijakan para pejabat pemerintah Belanda tidak bisa ditafsirkan begitu saja sebagai sebentuk penolakan terhadap kolonialisme. Karena itu, novel itu juga tidak bisa serta-merta dianggap telah membantu gerakan liberal mempermalukan pemerintah Belanda hingga menciptakan sebuah kebijakan baru yang dikenal sebagai kebijakan etis, yang agenda utamanya adalah mempromosikan irigasi, migrasi antar-pulau, dan pendidikan di Hindia Belanda—seperti yang dikatakan oleh Pramoedya.
Jika kita mau memeriksa teks Max Havelaar sedikit lebih cermat, bukankah Multatuli sendiri menulis bahwa penderitaan dan kelaparan rakyat di pulau Jawa telah menjadi perhatian dalam ruang-ruang sidang perwakilan rakyat? Artinya dalam hal ini, sebelum Max Havelaar terbit dan menggemparkan negeri Belanda pun, Partai Liberal Belanda telah mengkritik keras kebijakan Tanam Paksa dan menginginkan suatu politik balas budi.
Lagipula, niat Partai Liberal Belanda memperjuangkan perhapusan sistem Tanam Paksa tidak lain adalah demi membuka peluang bagi penanaman modal swasta di Hindia Belanda sehingga dapat mengembangkan pasar bebas yang sesuai dengan prinsip-prinsip kapitalisme. Di kemudian hari sistem ekonomi pasar bebas ini terbukti bukannya memperbaiki kondisi kehidupan rakyat di Hindia, justru kian menyengsarakan rakyat dengan meluasnya perkebunan-perkebunan swasta yang melakukan perbudakan para kuli kontrak.
Lebih jauh lagi, sistem ini juga melahirkan perdagangan manusia dalam kasus penambangan timah di Pulau Bangka dan Belitung. Banyak kuli Cina bukan cuma didatangkan dari Cina Daratan maupun pasar kuli di Singapura dan Semenanjung Malaya lewat bujuk-tipu, tetapi juga dieksploitasi habis-habisan setiba mereka di tempat kerja tanpa bisa melepaskan diri seumur hidup. Perbudakan kuli tambang Cina inilah yang antara lain menimbulkan Pemberontakan Liu Ngie di Bangka (1899-1900) yang membuat pemerintah kolonial Belanda harus mengirim pasukan militer dari Batavia untuk memadamkannya59.
Insiden Koba menyoroti kondisi pertambangan yang mengerikan. Sembilan pertambangan di sana hampir tidak menguntungkan, tetapi kepala parit mengambil keuntungan yang sangat berlebihan dari kuli dengan menetapkan harga yang sangat tinggi di toko-toko mereka dan menerapkan sanksi berat dalam bentuk uang atau tambahan kerja atas pelanggaran kecil yang dilakukan kuli. Dengan membiarkan kuli terlilit hutang, membuat tidak mungkin untuk kuli-kuli meninggalkan pertambangan, apalagi kembali ke Tiongkok. Di tahun 1898, seorang kepala parit di Koba membunuh seorang kuli yang lari, tapi ia kembali ke pertambangan. Korban ditendang, dianiaya dan dibiarkan di dalam sebuah tong arak hingga mati60.
Baik kelompok Liberal maupun Konservatif boleh dikatakan sama-sama memanfaatkan Max Havelaar untuk tujuan mereka. Jika para politisi dari golongan Liberal hanya memanfaatkan Max Havelaar untuk menunjukkan kebobrokan tata kelola kolonial, yang tidak lain dari retorika kolonialis demi kepentingan mereka memperoleh keuntungan yang lebih besar yakni penerbitan Undang-undang Agraria 1870 yang memungkinkan dikuasainya kegiatan ekonomi oleh pihak swasta. Sebaliknya, kelompok Konservatif juga menggunakan Max Havelaar sebagai serangan terhadap kaum Liberal, terutama dalam hal bengisnya para pengusaha swasta mengeksploitasi petani selepas berakhirnya sistem Tanam Paksa.
Kedua golongan itu—seperti halnya seorang Dekker—sama-sama berbicara mengatasnamakan rakyat Jawa yang menderita. Rakyat Jawa dalam hal ini adalah kelompok subaltern dalam definisi Gayatri Chakravorty Spivak (yang dikembangkannya dari pemikiran Antonio Gramci)61. Yakni kelompok masyarakat yang dianggap tidak memiliki kemampuan dan kebebasan untuk bersuara, sehingga selalu terwakilkan oleh dominasi wacana kekuasaan. Akibatnya, lebih sering mereka hanya diletakkan sebagai objek untuk kepentingan yang mewakilinya, termasuk di sini kaum intelektual dan penulis yang berbicara atas nama mereka dan persoalan mereka tetapi bukan benar-benar demi kepentingan mereka.
Dalam novel Max Havelaar, fragmen Saijah dan Adinda berikut seluruh kisah tokoh Havelaar bukan saja secara gamblang memperlihatkan usaha representasi atas sang liyan (the other) yang dilakukan Multatuli, tetapi juga menunjukkan dengan kentara bagaimana representasi itu tidak terlepas dari hasrat kepentingan politik pribadi Dekker untuk merehabilitasi nama baiknya dan berusaha memperoleh jabatan yang lebih tinggi62. Dengan demikian, bukankah cukup jelas bahwa Multatuli juga mencari keuntungannya sendiri seperti halnya karakter Droogstoppel yang digambarkannya sebagai sosok tamak dan picik?
Tentu, berbicara untuk (maupun tentang) “sang liyan” bukanlah sesuatu tidak memungkinkan dan tidak boleh. Terdapat banyak contoh dari karya fiksi dunia atas hal ini yang bisa kita rujuk dan pertanyaan yang bisa kita ajukan terkait dengannya. Tetapi—seperti yang dikemukakan Linda Martín Alcoff dalam “The Problem of Speaking for Others” yang berangkat dari kajian subaltern Spivak—hal itu tidak bisa dipisahkan begitu saja dari konteks yang mendasarinya juga siapa yang berbicara, siapa yang dibicarakan, dan kepada siapa, lantaran adanya persoalan relasi kekuasaan dan hak istimewa yang tidak sama dan tidak sebanding.
Rituals of speaking are politically constituted by power relations of domination, exploitation, and subordination. Who is speaking, who is spoken of, and who listens is a result, as well as an act, of political struggle. Simply put, the discursive context is a political arena. To the extent that this context bears on meaning, and meaning is in some sense the object of truth, we cannot make an epistemic evaluation of the claim without simultaneously assessing the politics of the situation.
Although we cannot maintain a neutral voice, according to the first premise we may at least all claim the right and legitimacy to speak. But the second premise suggests that some voices may be dis-authorized on grounds which are simultaneously political and epistemic. Any statement will invoke the structures of power allied with the social location of the speaker, aside from the speaker’s intentions or attempts to avoid such invocations63.
Untuk itu, Alcoff menyarankan, seorang “pembicara”(speaker) hendaknya menginterogasi posisi dan konteksnya pada apa yang ia ungkapkan, dan ini harus menjadi bagian eksplisit dari setiap praktik diskursif serius yang kita lakukan. Salah satu caranya—sebagai prosedur yang bakal paling berhasil untuk menghindari distorsi representatif—adalah keterlibatan secara kolektif sang pembicara bersama kelompok sosial yang dibicarakannya (speaking about others maupun speaking for others). Atau, setidaknya sang pembicara pernah/sedang bergumul dengan pengalaman maupun persoalan yang serupa.
Tetapi dalam kasus Max Havelaar, persoalannya adalah kendati Dekker (maupun tokoh Havelaar) memang berdinas di Lebak, sebagai Havelaar dan Multatuli ia sesungguhnya berbicara tentang dan atas nama penduduk Banten Selatan hanya berdasarkan pertimbangan moral dan perspektif humanisme Eropa belaka, bahkan dalam status elite sebagai seorang pejabat kolonial yang amat berjarak (baca: penjajah merepresentasikan rakyat jajahan). Informasi-informasi yang diperolehnya, baik yang dipergunakannya untuk menuduh bupati maupun yang kemudian dipakainya untuk menulis Max Havelaar, boleh dibilang hampir sepenuhnya berasal dari bacaan atas arsip kolonial dan buku-buku karya penulis Belanda, atau pembicaraan dengan sesama orang Belanda.
Karena itu, seruan kerasnya tentang penderitaan rakyat Lebak pun rentan dibaca sebagai sekadar kedok bagi pencitraan politiknya sebagai pahlawan kolonial dan mesias, yang kemudian pada giliran berikutnya sebagai seorang martir yang dikorbankan (Ingat, nama Multatuli dalam bahasa Latin berarti “ik heb veel geleden” atau “aku yang banyak menderita”) oleh kekuasaan di atasnya.
Sebagai teks, novel Max Havelaar tidaklah berfungsi untuk mencatat dan melaporkan kenyataan, melainkan hendak menciptakan kenyataan ala Multatuli. Ia hanyalah sebentuk pembelaan diri Eduard Douwes Dekker yang ingin melihat tindakan kepahlawanan yang ia konstruksi itu dapat dibenarkan. Dengan kata lain, Max Havelaar hanyalah sebuah retorika kolonial.
Catatan Kaki
47Lihat catatan kaki pada Max Havelaar terjemahan H.B. Jassin halaman 137 dan “Pendahuluan” oleh Dr. Gerard Termorshuizen halaman xviii.
48Lihat “Pidato Lebak” dalam Max Havelaar, 116.
49Max Havelaar., 299.-302. Untuk menguatkan penggunaan perumpamaan sebagai ilustrasinya atas penderitaan rakyat Lebak, Multatuli menegaskan lewat Stern, bahwa: “Saya tahu, dan saya dapat membuktikan bahwa banyak orang seperti Adinda dan banyak orang seperti Saijah, dan bahwa apa yang berupa khayalan pada khususnya, menjadi kebenaran pada umumnya. Sudah saya katakan bahwa saya dapat menyebutkan nama-nama orang yang seperti orang tua Saijah dan Adinda terusir dari kampung halamannya karena ditindas.”
50Darren C. Zook, 1180-1181. Dengan mengacu kepada Philip Vermoortel dalam “De parabel bij Multatuli: hoe moet ik u aanspreken om verstaan te worden?” (Gent: Koninklijke Academie voor Nederlandse Taal- en Letterkunde, 1994) yang mengembangkan retorika “imitation of Christ” Multatuli dan menunjukkan bagaimana Multatuli menggunakan perumpamaan bukan untuk memperumit kebenaran tetapi untuk menekankan kebenarannya dengan memberikan landasan pseudo-religius, Zook berpendapat, bahwa: While it is certainly true that the parable can be a relatively complex vehicle for relating ideas, prone as it is to multiple and simultaneous interpretations, Multatuli’s use of the parable derives not from an attempt to problematize his message by offering potential parallel meanings (which would render the text open and complex) but from the self-cultivated association, through his own perceived suffering, with another historical figure who also sought and knew the truth but was persecuted for it: Jesus. Multatuli felt his suffering and his persecution were “Christ-like,” adding a religious certainty to his truth which, when coupled with his classical borrowings, makes it increasingly difficult to interpret this text as single-handedly opening the door for Dutch literature into modernity or postmodernity.
51Mitos dari Lebak, 111.
52Mitos dari Lebak., 113-114.
53Uncle Tom’s Cabin; atau Life Among the Lowly karya Harriet Beecher Stowe (terbit pertama kali dalam dua volume pada 1852) sampai kini masih sering dianggap sebagai sebuah novel anti-perbudakan yang memiliki pengaruh besar pada sikap terhadap kaum Afrika-Amerika dan perbudakan di Amerika Serikat dan disebut-sebut telah membantu meletakkan dasar bagi Perang Saudara Amerika (1861-1865). Namun, novel ini mendapatkan sejumlah kritik keras. Beberapa kritikus menyoroti kurangnya pengalaman hidup Stowe yang berkaitan dengan kehidupan di Selatan karena ia belum pernah ke perkebunan Selatan, sehingga hal ini pun membuat deskripsinya tentang wilayah tersebut jadi kurang akurat. Namun, Stowe selalu mengatakan bahwa ia mendasarkan novelnya itu pada cerita yang ia dengar dari para budak yang melarikan diri ke Cincinnati. Dilaporkan juga bahwa Stowe mengamati secara langsung beberapa insiden yang mendorongnya untuk menulis novel tersebut, antara lain ia melihat sendiri pasangan suami-istri yang dijual terpisah di Sungai Ohio. Berbagai berita surat kabar dan majalah serta hasil wawancara juga memberikan kontribusi materi ke plot novelnya. Pada abad ke-20, sejumlah penulis menyerang Uncle Tom’s Cabin terutama bagaimana novel itu dianggap menciptakan dan mempopulerkan stereotipe rasial, yang sampai batas tertentu bahkan mengaburkan dampak historis buku tersebut sebagai “alat anti-perbudakan yang vital”. Lihat https://en.m.wikipedia.org/wiki/Uncle_Tom’s_Cabin, diakses 03/07/2022.
54Dalam esainya, Pramoedya Ananta Toer menulis bahwa: Penerbitan “Max Havelaar” pada 1859 [sic] sangat menggemparkan. Sama seperti “Uncle Tom’s Cabin” memberikan amunisi bagi gerakan abolisionis budak di Amerika, “Max Havelaar” menjadi senjata bagi gerakan liberal yang sedang berkembang di Belanda, yang berjuang untuk menciptakan reformasi di Indonesia. Dengan bantuan “Max Havelaar”, gerakan liberal tersebut berhasil memalukan Pemerintah Belanda hingga menciptakan sebuah kebijakan baru yang dikenal sebagai kebijakan etis, yang tujuan utamanya adalah mempromosikan irigasi, migrasi antar-pulau dan pendidikan di Hindia Belanda. Lihat Pramoedya Ananta Toer, “Best Story; The Book That Killed Colonialism”. Sementara Multatuli menggunakan Uncle Tom’s Cabin sebagai pembanding atas cerita Saijah dan Adinda lewat narator Stern: “[…] Apakah dusta perumpamaan orang yang menyamai, sebab kita tahu bahwa tidak ada petani yang menebar benih di atas batu? Atau, supaya lebih dekat kepada kesamaan dengan buku saya, bolehkah kita menyangkal kebenaran yang menjadi pokok utama dan Pondok Negro Paman Tom (Kasar betul judul terjemahan H.B. Jassin ini! Entahlah hal apa yang mendasarinya untuk menambahkan kata “negro” yang rasis pada judul terjemahannya itu) karena tidak pernah ada orang yang bernama Evangeline? Apakah orang akan mengatakan kepada pengarang pembelaan yang kekal itu,—kekal, bukan karena kesenian dan bakatnya, tapi karena maksud dan pengaruhnya,—apakah orang akan mengatakan kepadanya: “anda bohong, budak-budak itu tidak dianiaya, sebab buku anda dusta, buku itu adalah roman!” […]. Lihat Max Havelaar, 300.
55Stern berkata,“Sebelum keberangkatan mereka ke Eropah, Havelaar jadi asisten residen di Ambon; di sana ia menghadapi banyak kesukaran, karena penduduk pulau itu sedang bergolak dan dalam suasana memberontak, disebabkan banyaknya aturan-aturan yang salah yang diadakan masa belakangan ini; semangat pemberontakan itu dapat dipadamkannya, dengan banyak enersi, tapi ia sedih karena sedikitnya bantuan yang diberikan kepadanya dari pihak atasan dan kesal oleh buruknya pemerintahan yang telah berabad-abad membinasakan penduduk dan merusak daerah-daerah Maluku yang indah itu; […].”Max Havelaar, 101.
56Sastra Hindia Belanda dan Kita, 46.
57Max Havelaar, 346-348. Di sini Multatuli antara lain menulis: Ya, aku bakal dibaca! Jikalau tujuan itu tercapai, maka puaslah aku. Sebab aku bukan hendak menulis baik, …… aku hendak menulis begitu rupa, sehingga didengar, dan seperti orang yang berteriak: “tangkap maling itu!” tidak perduli gaya ia menyampaikan ucapkannya yang spontan kepada publik itu, maka akupun tidak perduli bagaimana orang menaggapi cara aku meneriakkan: “tangkap maling itu”.
58Saya mengutip ini langsung dari Pengantar Emma Keizer dan Tico Onderwater dalam Rob Nieuwenhuys, Mitos dari Lebak, xxxviii.
59Kasus perdagangan manusia dan perbudakan kuli tambang ini dapat dibaca antara lain dalam Mary F. Somers Heidhues, Timah Bangka dan Lada Mentok, terjemahan Asep Salmin dan Suma Miharja (Jakarta: Yayasan Nabil, 2008) dan Sutedjo Sujitno, Sejarah Timah Indonesia (Jakarta: PT Gramedia, 1996). Selanjutnya ditulis Timah Bangka dan Lada Mentok.
60Timah Bangka dan Lada Mentok, 144-145.
61Lihat Bill Ashcroft, Gareth Griffiths and Helen Tiffin, Key Concepts in Post-Colonial Studies (London & New York: Routledge, 1998), 215-219; 77-80.
62Dalam Mirror of the Indies (1999, 86-87), Rob Niewenhuys menyebutkan bahwa sebelum novel Max Havelaar terbit, telah beredar desas-desus bahwa Douwes Dekker akan menerbitkan sebuah buku yang menguggat pemerintah Belanda. Menteri Urusan Tanah Jajahan Belanda Jan Jacob Rochussen kemudian mengirim surat kepada Van Lennep, penerbit yang bakal menerbitkan Max Havelaar dengan tawaran ia akan mengembalikan jabatan Dekker di Hindia Belanda jika penerbitan novel itu dibatalkan oleh Dekker. Tetapi Dekker lantas meminta sejumlah syarat, antara lain: Uang muka dalam jumlah besar, bintang kehormatan Order of the Netherlands Lion, dan kedudukan di Dewan Hindia. Rochussen dengan tegas menolak mentah-mentah syarat ini. Sebagaimana dikutip oleh Uswatul Chabibah, “Sisi Lain Eduard Douwes Dekker: Pejabat yang Tak Pernah “Blusukan”” dalam https://tirto.id/sisi-lain-eduard-douwes-dekker-pejabat-yang-tak-pernah-blusukan-gan6, diakses 15/09/2021.
63Linda Martin Alcoff, Cultural Critique, Winter 1991-1992, pp. 5-32, dalam http://alcoff.com/content/speaothers.html, diakses 20/06/2022. Esai 31 Desember 2022
Kepustakaan
Adipurwawidjana, Ari J. “Pola Narasi Kolonial dan Pascakolonial”. Jurnal Kalam, 14, 1999.
Alatas, Syed Hussein. 1989.Mitos Pribumi Malas. TerjemahanAhmad Rofie dan Zainab Kassim.Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Alcoff, Linda Martín.“The Problem of Speaking for Others”. Cultural Critique, Winter 1991-1992, pp. 5-32, dalam http://alcoff.com/content/speaothers.html, diakses 20/06/2022.
Ashcroft, Bill, Gareth Griffiths and Helen Tiffin. 2001. Post-Colonial Studies: The Key Concepts. London: Routledge.
Chabibah, Uswatul. “Sisi Lain Eduard Douwes Dekker: Pejabat yang Tak Pernah “Blusukan”” dalam https://tirto.id/sisi-lain-eduard-douwes-dekker-pejabat-yang-tak-pernah-blusukan-gan6, diakses 15/09/2021.
Defoe, Daniel. 2007. Robinson Crusoe. New York: Oxford University Press Inc.
Defoe, Daniel. 2010. Robinson Crusoe. Terjemahan Peusy Sharmaya. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
De Gier, dr. J. “Rilling door het land”, dalam https://www.digibron.nl/viewer/collectie/Digibron/id/tag: RD.nl,20100514:newsml_2c6b375cc8894fb9fb99e9dedf2c13a4, diakses 12/02/2022.
Dewi, Christiana. Max Havelaar dan Citra Antikolonial: Sebuah Tinjauan Poskolonial. Atavisme. Vol.11, No.1 2008, hlm. 23-37.
Erlang, Niduparas (ed.). 2018. Simposium: Pascakolonial dan Isu-isu Mutakhir Lintas Disiplin. Lebak:Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak.
Erlang, Niduparas (ed.). 2019. Membaca Ulang Max Havelaar. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.
Faruk, Dr. 2007. Belenggu Pasca-Kolonial: Hegemoni & Resistensi dalam Sastra Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Klinkowitz, Jerome. “Metafiction” (26 July 2017) dalam https://doi.org/10.1093/acrefore/9780190201098.013.546, diakses 15/02/2022.
Morton, Stephen Morton. 2008. Gayatri Spivak; Etika, Subaltern dan Kritik Penalaran Poskolonial. Terj. Wiwin Indiarti, SS, M.Hum. Yogyakarta: Penerbit Pararaton.
Multatuli. 2000 (Cet.8). Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda. Terj. H.B. Jassin. Jakarta: Djambatan.
Nieuwenhuys, Rob. 2019. Mitos dari Lebak. Terj. Sitor Situmorang. Depok: Komunitas Bambu.
Peransi, David Albert. “Max Havelaar, Mitos Belanda yang Membuat Kita Terkecoh”. jurnalfootage.net dalam https://sites.google.com/site/nimusinstitut/max-havelaar, diakses 15/09/2021.
Philpott, Simon. 2003. Meruntuhkan Indonesia: Politik Postkolonial dan Otoritarianisme. Terjemahan Zuly Qodir dan Uzair Fauzan. Yogyakarta: LKiS.
Said, Edward W. 1995. Kebudayaan dan Kekuasaan: Membongkar Mitos Hegemoni Barat. Terjemahan Rahmani Astuti. Bandung: Mizan.
Said, Edward W. 2003. Orientalism. London: Penguin Books.
Said, Edward W. 2010.Orientalisme: Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai Subjek. Terjemahan Achmad Fawaid. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Saparudin, Endin (ed.). 2021. Manis Tapi Tragis. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.
Sastrowardoyo, Subagio. 1990. Sastra Hindia Belanda dan Kita. Jakarta: Balai Pustaka.
Toer, Pramoedya Ananta. “Best Story; The Book That Killed Colonialism”. The New York Times Magazine, 18 April 1999, Section 6, hal. 112, dalam https://www.nytimes.com/1999/04/18/magazine/best-story-the-bookthat-killed-colonialism.html, diakses 15/09/2021.
Waugh, Patricia.1984. Metafiction: The Theory and Practice of Self-Conscious Fiction. London & New York: Routledge.
Wikipedia. “Metafiction” dalam https://en.m.wikipedia.org/wiki/Metafiction, diakses 15/02/2022.
Wikipedia. “Uncle Tom’s Cabin” dalam https://en.m.wikipedia.org/wiki/Uncle_Tom’s_Cabin, diakses 03/07/2022.
Zook, Darren C. “Searching for Max Havelaar: Multatuli, Colonial History and the Confusion of Empire”.MLN 121 (2006), hlm. 1169-1189.

