Sebab tak bisa tidur, anakmu
meminta diceritakan dongeng; dan sebagai ayah yang berusaha baik, meski sering
kali tak sesuai harapan, kau iyakan permintaannya. Mendengar jawabmu, betapa
senang hatinya; dan dibanding dengan makanan, pakaian, atau boneka-mainan,
anakmu terlampau suka pada dongeng yang dibaca-didengarnya. Maka, kau bertanya
kepadanya, mau didongengi apa. Dan betapa terkejutnya kau saat ia memintamu
untuk melanjutkan cerita yang sempat kau ceritakan dulu: lanjutan dari kisah
penebang kayu yang jujur…
Dan kau yang tak ingin
mengecewakannya, mencari akal; lantas memintanya mencuci kaki dan sikat gigi
lebih dulu; sehingga bisa kau pikirkan lanjutan cerita itu, yang sebenarnya tak
pernah benar-benar ada—dan kini harus diadakan olehmu. Karenanya, dengan lekas,
digenapinya pintamu itu; dan dengan kemampuanmu, dengan kehormatan sebagai
seorang yang mendaku sebagai penyair-pengarang, kau berpikir tentang lanjutan
dari cerita itu.
"Sudah, Yah. Ayo,
ceritakan lanjutannya…"
"Baiklah.
Kemarilah."
Maka, dalam dekapmu, kau
ceritakan kisah lanjutan yang kau buat itu.
Suatu hari, seorang penebang
kayu tak sengaja menjatuhkan kapaknya ke danau; dan tak dapat ia ambil, sebab
begitu dalam. Dengan penuh kesedihan, ia duduk di pinggir danau itu, meratapi
apa yang jadi nasibnya. Betapa sedih ia, sebab tanpa kapak itu ia tak dapat
bekerja; dan untuk membeli kapak baru betapa uangnya tak genap cukup.
Dewi penunggu danau mendengar
tangis itu; dan jadi iba. Maka, sang Dewi menampakkan diri kepada si penebang
kayu. Terkejutlah si penebang kayu; sebab mendapati sosok ayu di depan dirinya.
Dan sang Dewi pun mengeluarkan sebuah kapak emas; lantas berkata:
"Inikah kapakmu?"
"Bukan, Dewi," jawab
si penebang kayu dengan gemetar.
Sang Dewi mengeluarkan kapak
lain, kapak perak; dan kembali bertanya—
"Inikah kapakmu?"
"Maaf, Dewi. Namun
bukan."
Sang Dewi mengeluarkan kapak
sebenarnya; dan betapa senang si penebang, sehingga lebih dulu berkata, itu
adalah kapaknya, itu adalah kapak yang amat ia sayangi dan rawat setiap hari.
Sang Dewi tersenyum, kagum pada penebang kayu itu; dan dengan lekas
menghadiahkan dua kapak yang sebelumnya ditawarkan pada si penebang kayu. Dan
betapa senang si penebang kayu—sebab mendapat dua buah kapak baru…
"Terima kasih,
Dewi…"
"Ya," ucap sang Dewi,
"itu adalah hadiah dari kejujuran dan ketulusanmu."
Saat beristirahat di sebuah
kedai, ada seorang yang bertanya kepada si penebang kayu, dari mana didapatnya
dua kapak baru itu, dua kapak yang begitu indah-berkilau, seolah bukan dari
dunia itu. Maka, sang penebang kayu, yang baik dan jujur, menceritakan kisahnya.
Dan, sebab ingin seperti itu, seorang itu melakukan hal yang sama: menjatuhkan
kapak perunggu di danau yang dalam itu. Namun, saat muncul sang Dewi, dan
menunjukkan kapak emas, seorang itu segera saja mengiyakan: yang berarti dia
berbohong. Karena tahu seorang itu berbohong, sang Dewi malah tak mengembalikan
kapaknya.
"Ya, Yah," ucap
anakmu. "Kemarin Ayah sudah bercerita sampai sini. Sekarang
lanjutannya…"
"Baiklah. Baiklah. Akan
Ayah lanjutkan."
Seorang itu kembali ke kedai
dan menceritakan kisahnya ke si penebang kayu; dan sebab tahu hal itu, si
penebang kayu jatuh iba, sebab seorang itu kehilangan kapak satu-satunya. Maka,
diberikanlah kapak perak kepada lelaki itu; dan berkata:
"Ini untukmu, Saudara.
Betapa saya tak butuh tiga kapak; hanya butuh sebuah. Dan tentu, Saudara lebih
butuh. Dan kapak emas ini, mau saya jual. Hasilnya mau saya berikan kepada yang
membutuhkan, juga kepada rumah ibadah yang mengasuh anak-anak yatim."
Mendengarnya seorang itu kaget
dan kagum. Dengan perasaan yang haru, ia bertanya pada si penebang kayu, kenapa
tak pakai uang hasil penjualan itu untuk dirinya sendiri, untuk modal usaha
atau berdagang, sehingga bisa hidup mapan dan kaya.
"Dengan menebang kayu,
yang tak terlalu banyak," ucap penebang kayu, "saya sudah dapat hidup
cukup, sudah tak merepotkan siapa pun; bahkan bila berpuasa, saya bisa
menyisihkan lebih banyak untuk berderma. Namun, bila kapak saya hilang, tentu
saya akan sangat kerepotan untuk bekerja, mencari uang untuk makan, atau
berbagi dengan yang lain."
Mendengar itu, seorang itu
semakin malu kepada si penebang kayu; dan merasa begitu beruntung bisa berjumpa
dengan penebang kayu yang tulus dan jujur. Maka, pada si penebang kayu,
disampaikan kabar bahwa di negeri asalnya, di negeri Tenggara sana ada sayembara;
dan seorang begitu yakin, si penebang kayu bisa melaksanakan sayembara itu:
sebab hanya orang yang tulus dan jujur yang bisa melakukannya.
"Bukan untuk mendapatkan,
Tuan," ucapnya begitu dalam. "Namun untuk menolong…"
Si penebang kayu mendengarkan;
dan memantapkan diri berangkat ke sana.
"Lalu, bagaimana, Yah,
sayembara dan perjalanannya?" tanya anakmu sambil menguap.
"Untuk sekarang, tidurlah
dulu. Dan akan Ayah lanjutkan esok, ya…"
Anakmu mengikut, sebab rasa
kantuknya makin kuat dan dalam; dan tidak butuh waktu lama ia terlelap dalam
tidur. Setelahnya, kau ambil selimut, menyelimutinya; dan mengecup lembut
keningnya.
Kemudian, saat hendak kembali
ke meja kerja untuk menyelesaikan sebuah esai ulasan, permintaan sebuah media,
kau menatap cermin: melihat wajah sendiri. Kepadanya, kepada pantul cermin itu,
kau bertanya: "Apa kau sudah bisa jujur dan tulus pada diri sendiri—seperti
penebang kayu itu, Bung?"
Di depan meja kerja, kau ingat
ucapan perempuan itu, ucapan istrimu, ketika masih mengandung dan meminta
mendongenginya sebelum tidur: "Mas, mana yang lebih penting, akhir cerita
atau kanak yang lekas tertidur dan bangun pagi dengan gembira menanti malam
tiba untuk lanjutan cerita?"
Dan kepadanya, kau ingin
berkata: "Aku sudah tahu jawabannya, Dik, tetapi kau ada di Sana…"
(2020—2026)

