Ketika melewati suatu senja sore yang temaram, matahari seperti perlahan tenggelam di balik laut. Cahaya jingga yang memantul di permukaan air yang terlihat tenang. Tapi kadang ketika terlihat dari jauh dan bila menatap lebih dekat, terlihat ombak yang deras. Aku duduk di hamparan Taman Nukila. Melihat berbagai deretan kapal feri, terlihat speedboat, atau beberapa deretan perahu nelayan, di seberang sana ada juga berbagai kapal di pelabuhan. Aku terbayang. Duduk memandangi laut. Laut adalah bagian dari orang-orang Pulau Kecil. Laut telah menjadi bagian dari hidup mereka sejak kecil. Aku membayang dan berpikir, “Apakah Pulau Kecil ini termasuk kota yang istimewa?”
Senyum terlukis dalam wajahku. Pertanyaan ini juga mengingatkanku pada masa kecil, ketika cerita-cerita tentang Sejarah Pulau Kecil sering dilontarkan oleh beberapa orang tua atau remaja yang lebih tua dariku menceritakan imajinasinya. Aku membayangkan laut yang terlihat teduh itu. Aku memandang dan cahaya jingga itu menyapu wajahku, “Dari laut memang semuanya bermula, laut adalah cerita Pulau Kecil.” Aku pikir demikian. Dan pikiranku terbawa dalam masa lampau.
Berabad-abad dahulu, ketika dunia belum mengenal pesawat dan berbagai mesin modern, kapal-kapal layar datang dari tempat yang jauh. Mereka berlayar berbulan-bulan untuk mencari sesuatu di ufuk Timur ini. Di Pulau Kecil ini. Mungkin saat ini barang ini tak serta menjadi barang yang sangat dicari, tapi dulu dia adalah rebutan: rempah-rempah. Cengkih dan pala.
Aroma rempah menyebar dan menyeruak dari pulau-pulau sekitar yang terbawa oleh angin hingga tercium dan terjelajah pengetahuan oleh negeri-negeri yang tidak dikenal oleh orang-orang Pulau Kecil. Orang Arab datang. Pedagang Melayu datang. Orang Jawa datang. Kemudian bangsa-bangsa Eropa juga hadir menyusul. Pelabuhan Pulau Kecil menjadi ramai.
Di pasar-pasar terdengar berbagai ragam bahasa. Ada yang memakai jubah, ada yang bermata sipit, ada berkulit putih pucat, ada yang berkulit sawo matang, ada yang memakai jas modern, ada yang memakai topi. Mereka semua bertemu karena satu alasan yang sama: rempah-rempah.
“Dahulu Pulau Kecil bisa jadi seperti bagian dari halaman lembaran dunia,” aku termenung.
“Orang-orang dari berbagai belahan hadir, menginjak tanah pulau ini,” aku melanjutkan dalam pandanganku ke laut.
Tetapi bagiku mereka itu bukan hanya mencari rempah. Bersama kapal-kapal dagang itu, berbagai macam syiar hadir dan dibawa. Seperti mereka-mereka itu kemudian mengajarkan huruf Arab, mengajarkan cara membaca Al-Qur'an, mengajarkan tentang kehidupan dan akhlak. Sedikit demi sedikit masyarakat menerima Islam. Masjid-masjid dibangun. Azan mulai terdengar dari pesisir hingga kampung-kampung di pedalaman.
Dari itu muncullah para sultan yang kemudian memimpin negeri-negeri di Pulau Kecil ini. Mereka menjadikan kesultanan menjadi pusat pemerintahan sekaligus pusat ilmu agama. “Mungkin mereka kemudian menempatkan Pulau Kecil ini sebagai titik temu kesultanan, para pedagang, ulama, dan pemimpin.” Aku merasa angin sepoi di tepi laut Taman Nukila ini berembus.
Aku menyadari dahulu mungkin kota ini bukan sekadar pusat pemerintahan di sebuah pulau kecil, melainkan ruang pertemuan berbagai hal yang bisa aku sebut sebagai peradaban: perdagangan rempah-rempah, penyebaran Islam, tradisi kesultanan, ekonomi rempah dan kopra, hingga sejarah keilmuan yang tertuang, surat Alfred Russel Wallace, kemudian gagasan ilmiah yang mengubah cara manusia memahami kehidupan. Hembusan angin dan suara ombak di pinggir Taman Nukila masih terdengar seperti bercengkerama denganku untuk mengisahkan Pulau Kecil ini.
Waktu terus berjalan. Rempah-rempah tak lagi menjadi raja perdagangan dunia. Akan tetapi, masyarakat Pulau Kecil tidak berhenti bekerja. Mereka masih menanam cengkeh dan pala. Mereka masih menanam kelapa. Di pesisir-pesisir, di berbagai kabong (kebun), masih terlihat menjulang tinggi. Dari kelapa itulah lahir kopra yang kemudian dikirim ke berbagai daerah. Aku jadi teringat Tuan Tirlah, bapaknya adalah seorang pedagang kopra. Kakeknya juga. Bahkan buyutnya. Mereka hidup dari waktu ke waktu karena kabong (kebun) dan kelapa.
Aku teringat kata Tuan Tirlah, “Dulu gudang-gudang penjualan penuh dengan kopra.”
Aku membayangkan mungkin dahulu kapal-kapal juga membawa kopra dengan penuh. Rempah-rempah dengan penuh. Kemudian meninggalkan pelabuhan menuju negeri-negeri yang tak pernah kami lihat.
Namun, ada satu kisah yang paling aku disukai. Kisah tentang seorang lelaki asing yang datang jauh sebelum ia lahir. Lelaki ini bukan pedagang. Bukan pula pejabat. Ia datang membawa catatan dan buku. Ia datang menjelajah dan meneliti. Ia datang untuk menulis surat. Ia lelaki yang memiliki keinginan dan rasa ingin tahu yang besar. Namanya adalah Alfred Russel Wallace. Ia menelusuri dari satu pulau ke pulau lain. Menyusuri hutan. Mengamati burung-burung yang berwarna indah. Mengumpulkan serangga. Memperhatikan bagaimana alam bekerja. Aku berpikir, apakah ia juga mencari rempah?
Lantas aku terkenang, “Ia mencari apa?”
Aku melamun di taman ini, dan berpikir, “Ia mencari tentang kehidupan.”
Berhari-hari, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun, Wallace mengamati alam kepulauan ini. Ia melihat bahwa setiap pulau memiliki hewan yang berbeda. Setiap tempat memiliki keunikan sendiri. Ia mencatat semuanya dengan teliti. Dari jelajah inilah lahir gagasan besar yang di kemudian hari mengubah dunia ilmu pengetahuan. Dari jelajah inilah ia menggagasi bahwa makhluk hidup berubah dan beradaptasi sepanjang waktu. Gagasan ini juga yang menjadi percakapan tentang teori evolusi, seleksi alam bersama pemikiran Tuan Charles Darwin.
Lamunanku dan waktu sore yang menjelang malam itu ditiup angin dan suara deburan ombak di laut, pinggir Taman Nukila. Aku terdiam. Pulau Kecil ini juga Pulau Sains. Tuan Wallace, sebagai seorang penjelajah, seseorang yang mendedikasikan diri untuk mengamati, mempelajari, serta memahami alam secara mendalam. Aku seperti mendengar kata-kata, “Kau tahu aku, aku, Tuan Wallace, salah seorang pemikir tentang evolusi dari abad ke-19 dan telah memberi banyak kontribusi lainnya untuk pengembangan teori evolusi di samping menjadi rekan penemu seleksi alam.”
“Kau tahu aku juga yang mengirim surat pada Tuan Charles,” katanya dalam dengungan pikiranku.
Tentang kata-katanya, “Bahwa faktor-faktor yang memengaruhi seleksi alam—perang, penyakit, kelaparan, dan sejenisnya—saya berpikir terjadi pada hewan juga seperti halnya pada manusia. Bahkan pada hewan lebih efektif dibandingkan pada manusia; dan sambil merenung samar-samar atas fakta ini, tiba-tiba terlintas di benakku gagasan tentang survival of the fittest—bahwa individu-individu yang disingkirkan melalui faktor-faktor ini secara keseluruhan pasti lebih rendah daripada mereka yang selamat. Dalam dua jam yang berlalu sebelum penyakitku berakhir, aku sudah memikirkan keseluruhan teorinya, dan pada malam yang sama aku membuat sketsa draf makalah, dan pada dua malam berikutnya aku menulisnya secara lengkap, dan mengirimkannya melalui pos berikutnya ke (Charles) Darwin.”
Langit mulai gelap. Lampu mulai menerangi, lampu jalan, lampu taman. Di sana laut yang tenang dengan hembusan ombak, angin yang berembus membuat beberapa perahu-perahu kecil bergerak perlahan diterpa ombak. Aku masih memandang Kota T di taman ini. Pada 1858, saat tinggal di sebuah rumah di Kota T, sambil menderita demam, Tuan Wallace merumuskan sebuah gagasan tentang bagaimana spesies berevolusi. Ia menuangkannya dalam sebuah makalah dan mengirimkannya kepada Charles Darwin. Hal ini mengejutkan Darwin yang telah menyimpan teori serupa selama bertahun-tahun, yang akhirnya mendorong keduanya untuk memublikasikan teori evolusi bersama-sama.
Pulau Kecil ini tentu tak begitu memiliki makna bagi orang luar. Tentu Pulau Kecil ini juga luput dari peta-peta besar dunia. Namun, ia tahu bahwa tanah ini menyimpan cerita yang panjang. Cerita tentang rempah yang mengundang dunia. Cerita tentang Islam yang datang melalui angin laut. Cerita tentang kesultanan yang membangun peradaban. Cerita tentang kopra yang menghidupi keluarga-keluarga sederhana. Dan cerita tentang seorang ilmuwan yang menemukan inspirasi besar dari pulau-pulau kecil di timur Nusantara.
Di tengah deburan ombak ini, dan suasana terang cahaya lampu di taman dan hari yang sudah malam ini. Bahwa ia adalah kisah panjang tentang manusia, laut, rempah-rempah, iman, ilmu pengetahuan, dan waktu yang terus mengalir dari abad ke abad. Kini mungkin aku terperangah di tengah taman ini, harga-harga semakin melambung di Pulau Kecil. Senyum juga terasa kecut, padahal di seberang sana, kuketahui, mereka masih terus mengeruk tanah dengan ekskavator.

