Tuturan Panjang Adwan SA Obrolan Pada Meja Berenda Bunga-bunga
Ilustrasi oleh: Ferdi Semai

Obrolan Pada Meja Renda Bunga-Bunga

•
13 September 2026
•
tuturan panjang

Layaknya sebuah ranting-ranting gosong di antara tumpukan arang yang tiada lagi berbentuk senormalnya. Serbuk-serbuk bekas pembakaran pohon di atas lautan rawa kian menyebabkan matahari menjelma manusia yang berkelindan dengan kamar saban hari saban jam, sampai-sampai pancaran cahayanya tertutup dan mendekam sepanjang pagi hingga petang. Begitu juga aku. Semenjak kejadian malam itu, aku tidak lagi berani untuk keluar sekadar mengambil makanan hasil keringat fajar ibuku. Aku yakin tubuhku menjerit meronta memohon untuk lekas diberi asupan. Sebab ia telah gemetar layaknya sebuah rumah pinggiran jalan raya yang baru saja dilewati truk-truk besar pengangkut adukan semen untuk mengecor jalanan tanah di seberang desa. Hanya sekali. Sekali dalam sehari aku keluar dari kamar berukuran 2x2 yang di sudut ruangannya absen rak-rak buku, karena bukuku kutata rapi pada kabinet di ruang tamu. Kiranya pada jam-jam larut ketika orang tuaku telah terjatuh lelap pada tidurnya, baru kugerakkan kaki untuk menyantap makanan yang sedari sore, barangkali siang, atau bahkan pagi sudah disiapkan oleh mereka tepat di depan pintu kamar yang kututup rapat.

Sudah satu bulan semenjak kejadian itu. Kejadian yang membuatku tidak lagi berani menyapa matahari yang menurut pendengaranku dari percakapan bapak-ibuku tertutup kabut asap dan bisa dilihat telanjang mata. Warnanya merah darah, bulat sempurna, juga hanya muncul pada jam-jam senja yang kehilangan temaramnya. Aku mengurung diri oleh sebab tidak berani mendengar lagi sumpah-serapah mulut para warga desa. Kejadian yang membuatku tahu bahwa ternyata aku adalah anak angkat sepasang suami-istri yang tidak bisa mendapatkan keturunan. Dan ke mana orang tua asliku? Aku pun tidak pernah tahu perihal itu.

Malam ini aku mendengar suara kepala desa, ketua rt, bapak, ibu, dan beberapa tetanggaku sedang bersahut-sahutan dari ruang tamu. Suara mereka saling tumpuk-menumpuk hingga tak bisa kudengar dengan jelas apa yang sebenarnya sedang mereka ributkan. Yang aku tahu, bapak-ibuku sesekali berteriak dan terdengar suara benda jatuh—atau dibanting—menyusul setelahnya. Aku hanya bisa menguping dari kamar gelap yang sengaja enggan kuhidupkan lampunya. Sesekali aku mencoba mengintip dari lubang ventilasi yang memaksaku harus menata kursi dan menaikinya. Namun masih saja, suara mereka terlampau jauh untuk kudengar dengan jelas hanya dari lubang ventilasi yang tidak lebih besar dari dinding balai desa yang krowak1 disebabkan kecelakaan tunggal 10 tahun yang lalu. Kecelakaan di mana grandong2 yang pada deck belakangnya mengangkut pupuk bantuan dari pemerintah untuk para petani, menabrak bagian depan balai disebabkan kepala desa yang tak pandai menyetir lupa mana pedal gas dan mana pedal rem. Kalau saja ada maling yang hendak memasuki balai desa, maka adalah mudah baginya untuk masuk ke dalam melalui lubang tersebut. Namun aku tak begitu yakin, sebab aku terkadang lupa dan terlalu berimajinasi tentang sesuatu yang boleh jadi tidak pernah terjadi.

Dan sialnya, lubang ventilasi ini tidak sebesar kerusakan dinding balai desa itu.

Untuk pertama kali—pun barangkali terakhir kali—aku berpikir untuk keluar dari persemayamanku ini. Mencoba untuk menilik keluar kamar supaya aku bisa menguping dengan jelas percakapan mereka. Barangkali mereka sedang membicarakanku, bukan? Kubuka kunci pintu kamarku dengan pelan dan penuh hati-hati. Beberapa kali aku harus menunda pemutaran kunci karena suaranya terlampau keras, waspada upayaku didengar oleh mereka. Barangkali sudah lima menit aku berkutat dengan kunci pintu ini. Badanku makin detik makin terasa panas dan bercucuran keringat, padahal kipas angin di kamarku berputar sedari pagi dengan kecepatan paling maksimal. Namun, perkara ini, putaran per putaran kipas angin itu sama sekali hilang dan tidak terasa. Setelah hampir 20 kali aku memutar dan membolak-balikkan kunci, menggunakan metode iterasi dua mili per tiga detik putar kanan, akhirnya aku berhasil membuka kuncian pintu ini tanpa menyebabkan suara klek yang begitu keras.

Kutumpukan badanku di atas lima jari kaki kanan-kiri, sesekali jari kelingkingku ikut tidak menyentuh ubin lantai berwarna kuning bercorak pola acak ini. Pelan. Senyap. Dan penuh hati-hati kulangkahkan jari-jemariku menuju tembok yang menjadi sekat antara ruang tamu dan musala. Acap kali aku mendengus karena napasku dideru rasa khawatir dan takut akan ketahuan oleh mereka. Kian aku melangkah, kian terdengar suara percakapan para manusia di ruang tamu. Dan kini, aku berhasil mencapai titik paling ideal. Bahkan jika mereka berbisik-bisik, telingaku akan mampu untuk menangkap gelombang suara dari sini.

Ketakutanku tidak terbukti. Diriku yang sedang mengurung diri di kamar itu takut bahwa perkumpulan ini sedang membahas kejadian satu bulan lalu yang aku adalah penyebabnya. Alih-alih mempermasalahkan perbuatanku itu, mereka justru banyak memuji kepandaian dan kecerdasanku. Kudengar Pak Kepala Desa mengatakan bahwa aku adalah orang yang paling cocok untuk duduk di kursi balai desa menggantikan sosoknya. Pak Rt juga memuji kepandaianku dalam bermain kata. Katanya, aku adalah seorang anak yang pintar sekali berbicara dan meyakinkan orang-orang tentang satu duduk perkara yang sedang dipermasalahkan. Bapak dan ibuku hanya diam saja. Tidak membantah atau ikut mengagung-agungkan kemampuanku. Sedangkan orang lain yang turut hadir, sesekali mengucap kata iya dan setuju dengan statement Pak Kades pun Pak Rt.

“Jadi, bagaimana, Bu?” Tanya Pak Kades. Ibuku hanya menggaruk kepala dan matanya seperti tengah mencari wisik dari atap rumah yang barangkali dikucurkan Tuhan melalui sela-sela genteng. “Sudah dari sekolah dasar, Bu. Anak ibu itu pintar sedari dulu.”

Aku tidak bisa menebak atau menerka apa yang sedang mereka rundingkan di meja berbentuk persegi panjang dengan taplak meja berenda bunga-bunga itu. Barangkali mereka sedang mencoba meyakinkan orang tuaku bahwa aku adalah anak yang pada istilah modern ini, disebut gifted.

“Tidak bisa. Aku tidak akan melepas anak itu meskipun kalian menyebut dia adalah sebuah anak yang terlampau pintar dan pandai. Dengan kebiasaannya saat ini, dia tidak akan memberi manfaat dan hanya akan menyebabkan kerusak—” Bapak menolak. Suaranya tertahan seakan dadanya sedang menyimpan panas dan kemarahan.

“Aku tahu, Pak, aku tahu. Namun, bukankah dia hanya salah tempat? Di sini masih banyak sekali lahan yang dipenuhi pepohonan dan rerumputan, tapi jika di sana, apa yang akan dijadikan pelampiasan kebiasaannya itu?”

Percakapan mereka akhirnya menjurus pada kebiasaanku yang menjadi cikal bakal kejadian satu bulan yang lalu. Sebenarnya, kejadian semacam itu tidak hanya sekali dua aku lakukan. Berkali-kali. Hanya saja dulu aku tidak senekat kemarin lalu yang menyebabkan stasiun televisi nasional meliput kejadian tersebut.

Percakapan mereka melesat layaknya burung alap-alap yang sedang terbang di atas hamparan sawah. Sesekali intensitas perdebatan antara bapak dan kepala desa meredam laiknya sayap burung yang berhenti mengepak dan terbang di satu titik untuk mengincar tikus-tikus yang akan menjadi santapannya. Lalu kembali melaju ke kanan-kiri, serong, bahkan tak jarang melesat lurus dengan nada yang kian saling adu keras. Percakapan seperti inilah yang acap terdengar olehku dari ventilasi kamar tadi. Meskipun saat itu, tidak sekeras dan seintens ini dalam berdebat yang memaksaku harus keluar dan menguping dari lebih dekat.

“Apakah bapak tidak ingin mempunyai anak yang dikenal seantero Indonesia, Pak?” Kini Pak Rt nimbrung dalam perdebatan panas itu. Barang berapa kali Pak Rt melirik mata ibuku dengan pendar mata seperti hendak meyakinkannya.

Apa sebenarnya perkara yang sedang duduk bersama mereka? Apa yang menyebabkan air minum, jagung rebus, kolak ubi, dan pisang kepok di meja itu tiada pernah disentuh sekalipun. Mulutku mulai ngiler melihat makanan-makanan yang dianggurkan itu. Badanku gemetar lebih keras lebih cepat karena harus melihat makanan itu terus-menerus. Biasanya aku hanya mengurung diri, menatap kegelapan, dan beberapa kali mengintip luar jendela untuk memastikan apakah matahari sedang menyembunyikan hidungnya di balik kabut asap dan tidak peduli tentang makan.

“Jika bapak dan ibu melarang si Prabu untuk kami sekolahkan di sekolah tinggi perpolitikan, terpaksa kami akan mengusir kalian dari desa ini,” ancam kepala desa. Tangannya sembari menunjuk keluar, pada pintu yang tiada terbuka. “Karena jika kalian menahannya di sini, akan lebih banyak lagi kejadian seperti satu bulan yang lalu.”

“Seperti yang sudah kalian tahu, anak itu adalah anak angkat kami. Sebenarnya kami tidak ingin mengadopsi meskipun mustahil bagi kami untuk mempunyai anak. Namun, anak itu membunuh orang tuanya. Dia bakar rumah kedua orang tua kandungnya saat usia anak itu masih dua tahun. Lalu, sudah berapa kali dia membakar lahan peninggalan mendiang ayah-ibunya hanya karena dia sedang bosan. Bahkan beberapa kali saat musim hujan, dia memilih untuk membakar bambu di belakang rumah dengan menyiramkan 20 liter minyak yang membuat satu desa harus bergumul dengan api sepanjang malam. Dan lagi, satu bulan lalu, yang sempat bapak singgung, anak Pak Rizal harus mati terberangus api karena ulah anak kami. Memang, anak kami adalah pintar dalam hal berbicara, tapi dia tidak begitu pintar untuk meredam kebiasaannya yang merugikan itu.” Ibu yang sedari tadi diam, akhirnya mengoceh panjang tanpa jeda. Ibarat sebuah rembulan pada malam lima belas kalender jawa yang terang-benderang tanpa ragu di tengah kegelapan, suara ibu menyapu dan menyibak segala desakan dengan tanpa gemetar sekalipun.

“Itulah, Bu, penting bagi kita untuk memindahkannya ke kota. Tempat di mana tidak ada lagi lahan untuk dia bakar. Apakah kiranya dia akan membakar gedung-gedung tinggi atau bisakah dia membakar kendaraan-kendaraan yang lalu-lalang di tengah kota? Tidak akan bisa. Maka perlu untuknya pindah dari sini. Dan penting bagi kita untuk menyekolahkannya, siapa tahu dia akan menjadi orang penting di negeri ini. Sayang sekali kemampuan berpikir dan kepandaiannya itu,” Pak Kepala Desa mencoba menyanggah. Nadanya pelan, tidak seperti ketika sedang beradu mulut dengan bapak tadi. “Lihat, sekarang dia hanya menjadi pemurung yang terus menyembunyikan tulang belikatnya di balik kamar gelap itu.”

Kenapa dia menyebut tulang belikat? Bukankah kalimat yang klise harusnya menyebut batang hidung atau tengkuk leher untuk menggambarkan sebuah kehadiran seseorang. Ah, sudahlah. Tidak penting memikirkan tujuan dari sebuah kalimat yang keluar dari mulut seseorang. Yang lebih penting saat ini adalah duduk perkara yang kini telah berdiri tegak. Seperti pekikan-pekikan burung hantu pada masa transisi sore menjadi malam, perkara ini telah menunjukkan dirinya padaku. Pada diriku yang sedari tadi bingung akan apa yang sebenarnya sedang mereka bahas di meja itu. Aku? Sekolah politik? Di kota? Menarik. Meskipun begitu, aku harus melihat ke mana keputusan ini dijinakkan oleh mereka. Sebab meski aku ingin, aku tidak akan meninggalkan orang tuaku yang sudah dengan sabar merawatku.

“Tidak. Lebih baik kalian usir kami dari sini diban—“ Seketika orang-orang berdiri tegak. Mereka yang selama ini tidak pernah terlibat dalam perdebatan kecuali mengangguk ketika kepala desa atau ketua rt sedang berbicara, dan menggeleng ketika bapak-ibuku menyanggah. Kini mereka bergerak dan berdiri tegak. Tangan mereka secepat kilat membungkam mulut ibuku yang sedang berbicara itu. Aku tahu betul, lima orang itu adalah Pak Pra, Pak Bow, Pak Wo, Pak Sub, dan Pak Anto. Mereka semua adalah tetanggaku. Tetangga dekatku.

***

Hari ini aku mengunjungi rumahku. Kini tidak ada lagi suara permohonan dari mereka untuk memintaku makan, lalu meletakkan piring lengkap dengan nasi, lauk, dan sayur serta segelas air minum di depan kamarku. Suara yang penuh pengayoman, beraroma sabar, bernada kasih, dan lembut itu telah hilang. Aku tidak pernah tahu di mana mereka dikuburkan oleh orang-orang itu. Hanya saja, sekarang giliranku untuk terus mengantar bunga di depan kamar mereka yang pintunya tertutup rapat, persis seperti pintu kamarku dua puluh tahun yang lalu.

“Pak, Bu, semoga kalian bahagia di sana. Aku di sini tidak lagi membakar apapun ketika sedang bosan. Kalian tidak perlu khawatir perihal kebiasaan burukku itu. Aku sudah berubah. Tapi, Bu, kalian tahu tidak? Banyak yang lebih gemar membakar di sana. Lebih parah dibandingku. Maafkan aku, Bu, jika aku telah membakar rumah kita yang membuat kalian harus seperti ini.”

Itulah terakhir kali aku mengunjungi rumahku. Rumah yang kini hanya bersisa kenangan layaknya sebuah ranting-ranting gosong di antara tumpukan arang yang tiada lagi berbentuk senormalnya.


1Bahasa jawa yang berarti berlubang besar.

2Kendaraan modif yang berbentuk layaknya mobil. Biasanya untuk mengangkut barang hasil panen para petani.