Camellia itu sudah delapan tahun umurnya, sejak akar pertamanya menembus tanah gembur yang dulu dicampur sendiri oleh Wisnu dengan kompos daun jati. Setiap petang, jam lima lewat sepuluh—karena begitu ia dulu memulai ritual ini, dan Kirana tak pernah berani mengubah jamnya—perempuan tujuh puluh tiga tahun itu berjongkok pelan di depan pot tanah liat, menuang air dari kaleng seng yang gagangnya sudah dua kali disolder ulang.
Ia menyiram sampai tanah gelap, sampai bau basah naik dan bercampur dengan aroma kayu lapuk ventilasi kayu di atas jendela. Siluet matahari menembus celah-celah kayu itu, jatuh berbaris di lantai semen seperti tulang rusuk cahaya. Kirana selalu berhenti sebentar di titik ini, membiarkan garis-garis jingga itu menyapu punggung tangannya yang sudah bertotol-totol coklat, lalu melanjutkan menyiram sampai kaleng kosong.
Di dapur, dua cangkir sudah tersedia di atas meja kayu yang satu kakinya diganjal karton lipat. Satu untuknya. Satu lagi untuk kursi kosong di seberang.
"Kau tahu Moors?" suara itu selalu datang begitu air mulai mendidih. Bukan suara dari mana pun yang bisa ditunjuk Kirana dengan jarinya. Ia tak pernah menoleh mencarinya lagi setelah sekian lama. Rasanya sudah cukup mendengarkan sambil tangannya bekerja, mengambil dua kantong chamomile, menggantungkan benangnya di bibir cangkir.
Moors. Kata itu pertama kali diucapkan Wisnu tiga puluh sembilan tahun lalu, di perpustakaan kampus yang berdebu, sambil menyodorkan buku bersampul hijau lumut kepadanya. Wuthering Heights. "Bayangkan," katanya waktu itu, jari telunjuknya menekan halaman yang menggambarkan padang rumput luas berkabut, "rumah di tengah dataran seperti ini. Tak ada yang mengganggu. Hanya angin, kau, dan aku." Kirana yang muda tertawa, bilang itu cuma khayalan anak kos yang tak mampu bayar kontrakan lebih dari petak sembilan meter persegi. Tapi Wisnu terus mengulanginya, tiap kali mereka bertengkar, tiap kali salah satu dari mereka sakit, tiap kali dunia terasa terlalu berat untuk dipanggul berdua. “Aku akan membawamu pergi. Ke Moors.”
Namun, mereka tak pernah benar pergi ke Moors. Yang mereka punya hanya halaman rumah kontrakan ini, dua kali empat meter, dengan satu pot camellia yang ditanam di tahun ketika Wisnu didiagnosis, dan satu jendela berventilasi kayu yang setiap sore menyaring matahari jadi kepingan-kepingan kecil.
Kirana mengangkat cangkir keduanya, meniupnya meski uapnya sudah hampir habis, dan meletakkannya di seberang. Ia duduk. Ia mendengarkan.
"Kita akan menghabiskan sisa usia di sana," suara itu berkata lagi, mengalir seperti tak pernah berhenti bicara sejak malam delapan tahun lalu ketika mesin di rumah sakit berhenti berbunyi dan seorang perawat memegang bahunya dan bilang, “Bu, sudah waktunya.”
"Menyiram camellia saat siluet matahari lambat-lambat menembus fentilasi, dan menyeduh chamomile di hari petang untuk masing-masing kehangatan."
"Kau bilang begitu setiap hari," bisik Kirana, matanya menatap kursi kosong, uap dari cangkirnya sendiri mengaburkan pandangan sebentar. "Delapan tahun. Tapi kita masih di sini."
"Tenang saja," suara itu tak pernah goyah oleh protesnya, seperti biasa, "di sana ada rembulan yang andal mendongeng. Kau hanya perlu memejam, dan simsalabim, kau dibawa terbang oleh Sandman, si raja mimpi."
Kirana tertawa kecil. Dulu ia yang menyebut Wisnu begitu—Sandman-nya, karena tiap kali insomnia menyerangnya di masa kuliah, Wisnu akan menelepon jam dua pagi hanya untuk membacakan ramalan cuaca dengan suara paling datar yang bisa ia buat, sampai Kirana tertidur di ujung telepon.
Tetangga-tetangga di gang itu sudah lama berhenti bertanya soal cangkir keduanya. Bu Painah dari rumah sebelah pernah mengintip lewat pagar bambu suatu sore, melihat Kirana bicara sendiri sambil menuang teh, lalu diam-diam mundur dan tak pernah menyinggungnya lagi, hanya sesekali menaruh sepiring pisang goreng di ambang pintu dan mengetuknya tiga kali, ia tahu perempuan tua itu butuh ditemani tanpa harus diajak bicara. Anak-anak kompleks yang dulu suka mengintip dari balik pohon mangga sekarang sudah kuliah, sudah pindah kota, dan hanya menyisakan cerita turun-temurun tentang "nenek yang punya suami hantu tapi baik".
Malam itu, seperti biasanya belakangan ini, dadanya terasa berat sehabis makan malam. Ia sudah tak mengeluh pada dokter lagi sejak kunjungan terakhir tiga bulan lalu, ketika dokter muda itu menatapnya dengan wajah yang berusaha netral dan menyebut kata-kata seperti "jantung yang melemah" dan "usia" seperti keduanya bisa dipisahkan. Kirana hanya mengangguk, pulang, menyiram camellia-nya, dan tak pernah kembali.
"Tak akan ada kegelisahan," lanjut suara itu, kali ini terasa lebih dekat, seolah bersandar di bahunya, "dan ketika terbangun, kuntum yang kau siram sudah bermekaran."
Kirana menoleh ke pot di ambang jendela. Camellia itu sedang tak berbunga, sudah lewat musimnya sejak dua bulan lalu, hanya daun-daun hijau tua yang mengilap kena sisa cahaya senja. Tapi malam ini, entah kenapa, ia melihat satu kuncup kecil, keras dan tertutup rapat, muncul di ujung ranting yang paling dekat jendela. Ia yakin kuncup itu tak ada kemarin.
Ia berdiri, pelan, menahan sesak yang tiba-tiba menekan tulang dadanya. Ia berjalan ke jendela, menyentuh kuncup itu dengan ujung jari, lembut, seperti menyentuh kelopak mata bayi. Di kaca jendela yang buram oleh uap dapur, pantulan wajahnya sendiri tampak asing, garis-garis di sudut mata yang dulu tak ada, rambut yang memutih total sejak lima tahun lalu, dan bahu yang sudah sedikit membungkuk. Sesaat ia teringat cermin rias di kamar pengantin mereka dulu, sepasang wajah muda yang berebut tempat di depannya sambil tertawa, bertengkar soal siapa yang lebih dulu memperbaiki tampilannya. Wajah itu sudah lama hilang, digantikan oleh yang di kaca jendela ini.
"Aku akan membawamu pergi," suara itu berkata lagi, dan kali ini Kirana merasakan sesuatu kehangatan yang menjalar dari pergelangan tangannya, naik ke lengan, seperti air hangat dituang pelan-pelan ke kulit yang kedinginan. "Menghabiskan sisa usia dengan sebenar-benarnya kebahagiaan. Menggapai yang tak sempat kau genggam di suram hari-hari lalu."
"
Aku tak sempat menggenggam apa?" tanya Kirana, suaranya nyaris tak terdengar, karena napasnya mulai memburu, karena ruangan mulai terasa berputar pelan seperti kaset lama yang kehilangan kecepatannya.
Tak ada jawaban langsung. Hanya kehangatan itu, kini menjalar sampai ke dada, menekan tepat di titik yang selama ini terasa berat, tapi anehnya tak menyakitkan, lebih seperti tangan seseorang yang meletakkan bantal di bawah kepala yang lelah.
Kirana tersenyum. Ia ingat sekarang. Tiga puluh sembilan tahun lalu, Wisnu pernah berjanji akan mengajaknya ke Moors sungguhan, suatu hari, ketika mereka berdua sudah tua, sudah pensiun, sudah tak punya alasan lagi untuk tinggal di kota yang bising ini. Mereka akan menabung. Mereka akan pergi. Tapi tabungan itu habis untuk biaya rumah sakit di tahun kesembilan pernikahan mereka, dan Wisnu pergi lebih dulu, sendirian, ke tempat yang katanya, "seperti Moors, tapi aku akan menunggumu di gerbangnya."
Delapan tahun Kirana menunggu giliran itu tanpa pernah menyadari ia sedang menunggu. Ia pikir ia hanya kesepian. Ia pikir suara itu di dapur hanyalah kebiasaan lama otak yang menolak berhenti merindukan. Ia tak pernah tahu sampai malam ini, ketika kehangatan itu akhirnya mencapai lehernya, seperti syal disampirkan oleh tangan yang sangat ia kenal, bahwa selama ini Wisnu benar-benar ada di kursi seberang, menunggu waktu yang tepat, menepati janji yang diucapkannya setiap petang selama delapan tahun, sabar seperti hanya cinta yang sudah melewati kematian bisa sabar.
Kirana duduk kembali di kursinya. Cangkir chamomile di depannya masih mengepul, meski seharusnya sudah dingin sejak lima menit lalu. Ia menutup mata setelah dalam delapan tahun, ia tak lagi merasa perlu menahan matanya tetap terbuka untuk menjaga rumah ini sendirian.
"Simsalabim," bisiknya, hampir tertawa, mengulang kata itu seperti mantra kekanak-kanakan yang dulu selalu ditertawakannya.
Dan sepertinya mantra itu memang bekerja, ruangan di sekelilingnya luruh berubah, seperti kabut pagi yang tersapu angin dan menyingkap padang rumput yang selama ini tersembunyi di baliknya. Ia merasakan rumput basah di bawah kakinya yang telanjang, angin yang membawa aroma heather dan tanah lembap, dan di kejauhan, siluet seseorang berdiri di gerbang batu tua, tangannya terulur, sudah menunggu begitu lama hingga waktu kehilangan maknanya.
Kirana berjalan ke arahnya, tak lagi merasakan berat di dadanya. Ketika tangan mereka bertaut, ia mendengar suara itu lagi, kini lagi hanya di dapur kosong, tapi di sini, nyata, hangat, dari mulut yang tersenyum:
"Aku bilang aku akan membawamu pergi. Kau selalu ragu aku serius."
Esok paginya, Bu Painah, tetangga sebelah yang biasa membawakan sarapan, mengetuk pintu tiga kali seperti biasa sebelum menyadari tak ada sahutan. Ia menunggu sebentar di teras, mendengarkan angin yang entah kenapa terasa lebih dingin dari biasanya untuk ukuran pagi di gang sempit itu, lalu mendorong pintu yang ternyata tak terkunci. Ia mendapati Kirana masih duduk di kursi dapur, kepala tersandar lembut di sandaran, senyum tipis yang tak sempat luntur
di wajahnya. Dua cangkir di meja, keduanya kosong, Seperti baru saja diminum habis berdua. Dan di ambang jendela, kuncup camellia semalam masih tertutup rapat, kini mekar penuh, satu-satunyasatunya bunga yang mekar di luar musim, memancarkan warna merah muda yang begitu segar seperti baru saja disiram embun pagi yang belum sempat kering.
Brunei Darussalam, 24 Agustus 2026.

