Ilustrasi - Mohor
Ilustrasi oleh: Andriansyah

Mohor

12 Juli 2026
tuturan panjang

“Siapa nama nenek tua keras kepala itu?” serak suaranya.

Bertanya tanpa melihat lawan bicara. Bahkan tatapannya tetap terpaku ke layar gawai.

Icun terbangun mendengarnya. Bau asap rokok mengepung seisi pondok. Sesak ke hidung. Icun masih menelungkup seperti sore tadi. Ia tidak sangka akan tertidur pulas sampai malam begini. Padahal, niatnya sekadar menunggu hujan reda. Karena penat kerja seharian, ia pasrahkan tulang rangka, daging, kulit, bulu-bulu, bahkan daki busuknya ke lantai pondok berlapis tikar seukuran badan.

“Sau… Sau… Sau…” jawab seseorang. Gagapnya melebihi pelawak di tivi.

“Saudah, Ji,” sambar yang lain.

“Ya. Betul. Saudah,” yang lain lagi membenarkan.

 Lelaki itu sontak berdiri, sandarkan badan ke tiang. Ujung rambutnya nyaris menyucuk lantai pondok. Ia jentikkan jari. Berdenting bunyinya.

“Saudah? Nama yang kuno, sekuno pemikirannya,” suara serak tadi. Semirip suara artis tajir sebutan sultan. Sumber suara dekat sekali. Tak sampai semeter dari pangkal telinga Icun. “Ha… ha… ha…” bunyi kekeh tawa dari kolong pondok. Ramai.

Untunglah Icun punya keterampilan tidur telungkup cum irit gerak geliat. Bahkan dalam keadaan super capek sekalipun. Dia punyai itu sejak umur lima tahun. Siasatnya tenangkan diri mengusir serangan siksa rindu pada Ibu.

Ruang pondok gelap paripurna, apalagi malam hari. Menggulita. Icun tak bisa melihat apa-apa.

Icun putuskan tetap telungkup. “Siapa mereka? Apa yang mereka lakukan?” batinnya. Ia tahan gerak apalagi suara. Icun takut mereka endus kelancangannya menguntit isi pembicaraan. Icun lempar pandangan ke sudut pondok dekat tiang. Di sana, ada satu celah seukuran dua jari. Cukuplah untuk mengintip dari posisinya sekarang.

Cahaya layar gawai tetap menyala di genggaman orang yang dipanggil Ji. Tentu membantu mata Icun melihat, termasuk kilau perhiasan yang menggelayut di lehernya. Perhiasan berabjad bentuk satu kata. Karena samar, tentu Icun tak bisa mengejanya.

“Sok sekali Saudah si peot itu menolak tawaran kita. Amankan aja dia.”

Ampun! Serak suaranya malah terbitkan otak kotor Icun ke montok dada istri sang artis sultan.

“Betul, kita amankan aja, Ji!” Kompak jawaban mereka. Seumpama koor yang tak ada merdu-merdunya.

“Semuanya kupercayakan kepada kalian berenam,” titahnya.

“Is, kau ikut denganku.” “Ba… ba… ba… baik, Ji,” suara si gagap lagi.

Keduanya berlalu dari kolong, susuri jalan becek berlubang hampir sepanjang ruas. Kiri-kanan pohon sawit berbaris seumpama tentara. Tanaman kebanggaan presiden terlucu negara Icun.

Icun masih sesikap semula. Mata mengawas, telinga menajam.

Satu-satu mereka menyusul tembus malam tanpa cahaya bulan, apalagi gemerlap bintang. Bergantian, layaknya antrean, seakan sudah diatur sedemikian rupa.

Oh Tuhan! Apa gerangan yang akan mereka lakukan?

***

Icun tahu kasus viral itu tepat hari kesembilan pasca-kejadian. Maklum! Belum bisa beli paket internet. Syukurnya, kemarin sore Pak Bowo serahkan uang upah tengah bulanannya.

Seorang perempuan penolak tambang emas ilegal jadi korban penganiayaan.

Awalnya, Icun menganggap biasa saja. Tapi, nama korban mulai mengganggunya. Mirip nama seorang perempuan di hatinya. Lama tidak berjumpa.

Satu berita menulis: Saudah, tapi berita lain menyebut: Saodah. Kasusnya mengisap perhatian, tapi masih kalah heboh soal kemanfaatan makan bergizi.

Saudah atau Saodah, apa peduli Icun? Bukankah nama itu bisa dipatrikan oleh ratusan bahkan ribuan orang tua kepada anak perempuannya. Betul! Mulanya begitu, tapi jadi berbeda ketika Icun sukses pastikan nama dusun, desa, dan kecamatan lokasi kejadian.

Icun lanjutkan menonton video di gawai.

“Tidak benar. Itu hanya fitnah. Ia tidak ada hubungan sama sekali dengan kasus Nek Saudah. Ini hanya pelampiasan oleh mereka yang iri kesuksesannya,” begitu sang konten kreator membuka adegan video postingan terbarunya. Umumnya, orang banyak kenali sang konten kreator sebagai tukang olah, bahkan sebagai wartawan bodrex.

Isi videonya membantah pernyataan konten kreator lain. Menangkis video yang terang-terangan menyebut nama orang yang dibelanya sebagai dalang utama penganiayaan Nek Saudah.

Sayangnya, videonya itu minim bukti. Bahkan cenderung asal sebut. Sementara, postingan yang sedang dibantahnya berani tampilkan foto screenshot pesan WA antara si terduga dalang utama dan pihak berwenang. Apalagi dilengkapi foto bukti transfer uang atas nama si dalang ke beberapa aparat.

Postingan si konten kreator pemberani jadi perhatian. Bahkan sukses mengundang hampir seribuan komentar.

“Yang paling diuntungkan tetap si pemilik modal. Orang kampung hanya dapat remahnya.”

“Satu pelaku yang ditangkap hanya tumbal, dalangnya tetap bebas berkeliaran.” “Tangkap XXXXX—si dalang utama, jangan hanya berani tangkap pemain kelas teri!”

Nama yang disebut-sebut sebagai dalang menyeret ingatan Icun ke nama di rantai emas yang ia temukan di lantai kolong pondok. Perhiasan yang ia pungut sehari setelah pertemuan rahasia itu.

Oh Tuhan!

Oh Nek Saudah!

Semua kenangan berputar di kepala Icun.

Ia sebatang kara setelah kematian laki, tak beranak. Perempuan penyambut anyir orokku sekaligus orang yang dipercaya Ibu mengasuhku. Ibu menitipkanku padanya, karena kata Ibu, ia akan ke Malaysia bekerja demi aku.

Setelah tiga tahun di Malaysia, Ibu muncul di pintu rumah Nek Saudah. Bersamanya turut seorang laki-laki. “Besok pagi kita berangkat,” katanya padaku. Apalah daya anak delapan tahun menolak perintah pindah. Anak harus nurut orang tua.

Aku tak mungkin lupa peristiwa pagi itu. Perpisahanku dengannya.

Di halaman rumah berpagar bunga raya, Nek Saudah memelukku erat seperti perangko, tak lepas lagi. Ia jongkok. Jemarinya menggenggam bahuku. Pandangan mata kami beradu. Sungguh! Aku senang sekali perhatikan bintik hitam di mata kanannya. Menyerupa tahi lalat. Bukan di pagi itu saja, seribuan malam tiap jelang tidur aku tatap mata itu.

Telunjuk dan ibu jari Icun bergerak cepat menyentuh layar gawai untuk me-zoom sebuah foto. Ia ingin pastikan mata kanan Nek Saudah dalam foto berbintik hitam.

Tapi, luka lebam di pipi menjalar ke mata menyulitkan Icun untuk menemukan bintik yang dicari. Sekali, dua kali, bahkan lebih dari sepuluh kali ia memelototi ulang hasil zoom. Tujuannya: memastikan mata itu milik Nek Saudah, pengasuhnya.

“Benar, Cun,” suara perempuan dari balik speaker gawai. Butuh setengah hari memupuk sabar menanti jawaban pesan messenger yang ia kirim. Menggunung syukur Icun ketika pemilik akun Inah Rang Rao menulis dua belas digit nomor kontaknya di pesan balasan. Maka, Icun bergegas menghubunginya. Inah, kerabat jauh ayah kandung Icun, rumahnya berselang lima rumah dari kediaman Nek Saudah. Ibu selalu bilang Inah perempuan jahat, tapi Icun tidak temukan isyarat tuduhan itu selama mengenalnya. Bahkan, ia sering memberi Icun kecil uang pembeli panganan pada hari pekan.

“Sejak kau pindah, ia latah panggil nama anak laki-laki kampung. Ia acap keceplosan memanggil mereka: Icun.” Lewat telepon, Inah cerita panjang lebar.

“Dia Nek Saudah yang selalu membawamu ke ladang.”

***

Dua kali Icun menemuinya, hasilnya: kecewa. Pak Bowo tetap tidak bisa penuhi ajakan Icun menemaninya ke rumah sakit.

“Maaf, Cun, kebetulan hari ini jadwal bapak antar pupuk ke kabupaten sebelah,” alasan pertama.

“Sepulang bapak kawal pengantaran ekskavator ya, Cun!” alasan lain.

Sebelum Ibu meninggal, Pak Bowo yang mengantar Icun dan Ibunya ke rumah sakit. Bahkan ia satu-satunya orang yang rajin bezuk. Sempat pula dua kali bermalam menemaninya di rumah sakit.

“Cun, bapak mau temanimu asalkan kamu cerita alasan jenguk Nek Saudah? Bukankah kamu tak ada hubungan apa pun dengannya?” sambil menggamit bahu Icun dengan dua jarinya.

Icun hafal kebiasaan pensiunan tentara itu. Begitu teknik candanya. Apalagi saat serahkan upah tengah atau akhir bulan.

“Tenang, Pak, semua bisa diatur,” balas Icun.

“Eh! Kamu tiru-tiru pula omongan bapak.”

Keduanya tersenyum geli menahan tawa.

“Semua bisa diatur,” Jawaban andalan Pak Bowo tiap dimintai bantuan siapa pun.

 

***

Tergiur tawaran Pak Bowo, Ibu dan lelaki yang datang jemput Icun ke rumah Nek Saudah membawanya kemari. Ibu setuju bekerja merawat kebun sawit Pak Bowo. Pak Bowo mengamini syarat yang diajukan Ibu: beri ia setapak rumah dan sedikit pekarangan.

Saat Ibu sakit-sakitan, lelaki yang dibawanya itu minggat entah ke mana. Sejak itu, tugas merawat kebun sawit Pak Bowo pindah ke pundak Icun. Ibu meninggal dua hari jelang umur Icun genap dua puluh.

“Pak, rantai ini saya temukan di kolong pondok kebun kita,” Icun perlihatkan benda di telapak tangannya.

Pandangan Icun menyapu ke sekeliling tempat mereka rehat. Ia tidak ingin ada orang lain yang tahu. Dari tempat mereka duduk, tampak puncak gunung yang kata orang sebagai gunung emas.

Perlahan Pak Bowo raih benda itu. Ia angkat hingga sejengkal dari matanya. Logam mulia bertuliskan nama seseorang berayun ke kiri ke kanan. Sesekali tajam kilaunya menembak retina mata Pak Bowo.

“Ingat, Cun, kamu belum cerita alasan jenguk Nek Saudah,” tagih Pak Bowo sambil menyambar helm di sampingnya.

“Ayo, Cun, kita lanjut perjalanan,” Pak Bowo mendesak.

***

Pak Bowo pegang kemudi sepeda motor, Icun di boncengan. Lajunya sedang-sedang saja. Tidak cepat, tidak lambat.

“Setelah pindah ke sini, aku tak pernah lagi bertemu dengannya, Pak,” Icun membuka cerita.

“Berarti sudah enam belas tahun, Cun?”

“Begitulah, Pak. Aku ingin sekali bertemu apalagi setelah mengikuti beritanya.”

Saat bicara, kepala Icun menjulur lebih ke depan. Sebaliknya Pak Bowo menjawab sambil menolehkan kepala ke kiri belakang. Setengah berteriak mereka bicara untuk melawan angin.

 “Tiap pamit hendak kunjungi Nek Saudah, Ibu pasti katakan tidak. Banyak alasannya. Inilah, itulah. Jangankan waktu libur di hari raya, hari biasa pun tidak diizinkannya. Pokoknya: tidak boleh.”

“Terus, apa saja yang kamu dengar malam itu, Cun?”

Tiap Icun jawab, selalu datang tagihan tanya baru Pak Bowo. Susul-menyusul.

“Mereka ingin lahan Nek Saudah bisa mereka tambang. Katanya di sana, kandungan emas lebih banyak dibanding lahan lainnya. Tapi, Nek Saudah tetap menolak tawaran mereka. Meski beberapa tokoh kampung telah diutus melunakkan pendiriannya.”

“Orang yang dipanggil Ji perintahkan mereka untuk amankan Nek Saudah, Pak.”

Cerita antara keduanya meluncur lancar selaju sepeda motor. Hingga sampai di sebuah pertigaan, Pak Bowo membelokkan kemudi ke kiri. Padahal arah rumah sakit yang dituju lurus ke depan.

 “Loh, kenapa kita belok, Pak?”

“Kita singgah sebentar. Ada titipan mesti dijemput. Mumpung kita sedang melintas, kita singgahi saja.” “Boleh kan, Cun?”

“Tenang, semua bisa diatur, Pak.”

Pecah gelak Pak Bowo mendengarnya. Tapak tangan kirinya menepuk-nepuk paha Icun. Pelan.

“Dasar kamu, Cun.”

***

Petugas di gerbang rumah gugup, lalu sigap ambil sikap hormat ketika Pak Bowo buka helm.

“Silakan masuk, Pak. Pak Haji ada di dalam.”

Icun berjalan di belakang Pak Bowo. Ia belum pernah masuk ke pekarangan dan rumah pribadi yang ukuran luasnya menandingi lapangan bola. Mirip kantor bupati yang pernah dilihat saat melintas.

Rumah putih bertingkat dua yang sepi. Seakan kosong tanpa penghuni. Tetapi, tampak sangat terawat bahkan sangat terpelihara dengan teliti. Lihat saja bekas guntingan ranting bunga-bunga bonsainya dalam pot. Rapi dan presisi.

“Rumah siapa ini, Pak?”

Tanya Icun menapaki tangga melingkar seumpama wahana seluncuran di kolam renang. Lantainya beralas karpet sewarna belang harimau. Tebal dan lembut. Pegangan tangan sepanjang tangga berbahan kayu jati berpelitur, purna kilatnya. Dinding sepanjang tangga putih mulus nirhiasan dan figura foto.

Tidak ada suara jawaban Pak Bowo.

Ketika kaki kanannya hendak cecah ke anak tangga lima terakhir, Pak Bowo berbalik arah. “Cun, kamu lanjut ke lantai dua. Tunggu saya di sana. Jangan malu-malu.” Gegas setengah berlari ke lantai satu. “Saya ke kamar mandi,” seakan bisa menebak tanya di pikiran Icun.

Icun teruskan langkah, tapi canggung. Perabot, lampu gantung, dan properti lain seisi ruangan merontokkan nyali Icun. Ia takut salah perangai di rumah semewah rumah-rumah dalam sinetron tontonannya.

Ia duduk, tapi bangkit kembali mendekat ke sebuah foto seukuran kotak minuman mineral.

Menyipit matanya perhatikan tiga orang berpose di sana. Ketiganya berdiri. Sebelah kiri: lelaki berseragam hijau mengapit tongkat komando di ketiak lengkap tanda bintang dua di pundaknya. Icun pastikan matanya tak salah lihat. Di dada kanannya tereja nama: Bowo. Berdesir darah Icun.

Cepat pandangannya beralih ke sosok paling kanan. Di sana: lelaki kumis tipis berbaju kemeja putih berdasi senyum sumringah. “Bukankah dia tokoh politik idola orang sekabupaten yang gambarnya terpajang di kalender hampir tiap rumah, bahkan di pondok kebun,” batin Icun.

Icun kenal keduanya, tapi siapa pemuda kemeja hitam berkacamata hitam yang mereka apit? Mata Icun makin mendekat ke foto. Tepatnya ke orang paling tengah. Tepatnya lagi ke tulisan di lehernya. Mulut Icun ternganga. Terbaca jelas susunan huruf: MOHOR. Bulu kuduk Icun tegak tali. Seluruh darah di badan seperti terjun ke kaki. Tapak tangan mendingin. Kakinya seakan terpaku.

“Apa kabar, Bang Icun?” sapa suara serak dari balik punggung Icun. Itu serak suara artis si sultan.

Pucat pasi wajah Icun melangkah lewati pintu rumah. Pak Bowo tertinggal lima langkah di belakangnya, ia tenteng bungkusan hitam. Mobil hitam terparkir di depan pos jaga. Kemudinya mengarah ke luar gerbang. Pintu tengahnya terbuka, sedia menyambut penumpang.

“Silakan naik, Cun,” suara Pak Bowo.

Setunduk menyerahkan rantai emas ke hadapan Pak Bowo dan Mohor (lebih senang dipanggil Haji), kepala Icun terkulai menuruni anak tangga hingga cecahkan pantat di jok mobil. Pak Bowo letakkan bungkusan hitam di samping kiri Icun.

“Semua bisa diatur,” bisiknya ke telinga Icun.

Brukkk! Pintu mobil tertutup. Mobil melaju.

Sopir tancap gas. Icun sibuk dengan pikirannya sendiri. Peristiwa selama di lantai dua berputar kembali di kepala. Sesekali ditimpa bayang dan kenangan bersama Nek Saudah. Bahkan ke Ibu. Hasrat tidur telungkup datang menggelora. Tapi, bagaimana caranya? Kusut di kepala berbelit. Simpul-menyimpul, kunci-mengunci.

Mobil berhenti.

Icun terdiam memandang ke luar balik jendela mobil. Nada tanda pesan WA masuk berdenting. Nomor tak dikenal. Icun membacanya: “Jangan keras kepala seperti nenek peot-mu. Terima tawaran kami atau…”

Sopir turun dan membukakan pintu di area parkir keberangkatan domestik.

“Ini tiketmu,” kata sopir. Pandangan mereka beradu.

“Bawa ini,” perintahnya sambil serahkan bungkusan hitam ke tangan Icun.

“Hidup susah itu tidak enak,” teriak si sopir ke Icun sebelum memacu mobil.

Icun acuh. Ia terus menjauh memunggungi si sopir—lelaki yang minggat entah ke mana saat Ibu terbaring tiga minggu di rumah sakit.