Ilustrasi - Lebah Bit-Bit dan Uang Digital
Ilustrasi oleh: Joan Cornella

Lebah Bit-Bit dan Uang Digital

2 Agustus 2026
tuturan panjang

Terbangun tertegun di awang-awang, kepala dan badannya berputar seperti gasing UFO ulang-alik. Sayup-sayup, Bit-Bit merasa lemas, pusing, mulas, dan perutnya berdiskoria. Si Lotus masih berada tak jauh di samping Bit-Bit pagi itu. Si Lotus kemudian berpamitan, meninggalkan pangkalan kapuk berpegas tempat mereka memadu kasih—tempat favorit Bit-Bit dan Lotus biasa mencurahkan segala hal. Si Lotus merasakan hal yang sama seperti apa yang dialami Bit-Bit.

Masih dalam keadaan pusing menguang-nguang, Bit-Bit mengecek pekerjaan utamanya sebagai pencuci laundry kerajaan, sembari sesekali mengambil order laundry dari rakyat lebah lainnya. Bit-Bit kembali berguling di daun padunya bersama si Lotus. Sebuah daun padu dambaan dengan pegas dan energi potensial yang penuh spesifikasi tinggi—jauh lebih bisa diandalkan dibandingkan regulasi kerajaan dan perangkat istananya.

Bit-Bit adalah lebah yang hampir uzur. Ia suka sekali nongkrong dengan teman-temannya yang memiliki bermacam-ragam profesi. Semalam, ia ditemani Lotus di daun padu yang sama. Bit-Bit teringat nasihat teman-teman tongkrongannya kemarin. Ia sering dinasihati karena masih suka labil, padahal umurnya sudah OTW uzur dan renta.

"Sial," lugas Bit-Bit saat menerima fakta yang terlontar dari sesama teman nongkrongnya. Namun mau bagaimana lagi, jika Bit-Bit tidak mengubah kebiasaannya, HP (Health Power) dan MP (Mana Point/Magic Power) miliknya akan makin sekarat. Beruntungnya, Bit-Bit punya rekan-rekan yang peduli. Kekhawatiran teman-temannya menunjukkan bahwa kebiasaan buruk bagai bom waktu yang bisa menjadi mantra penghancur diri sendiri.

Berjam-jam kemudian, si Lotus kembali ke daun padu mereka di pulau kapuk berpegas tersebut. Bit-Bit mengecek cucian orderan yang ia bawa ke pulau itu, setelah sebelumnya mengupah seorang lebah muda tadi malam. Niat Bit-Bit adalah meniriskan dan memberi ramuan aroma khusus agar cucian yang ia kerjakan mengeluarkan wangi yang khas. Sialnya, Bit-Bit punya kebiasaan buruk: suka pikun. Ia pun menanggalkan cuciannya lagi. Malah, si Bit-Bit sempat-sempatnya membatin, "Tampan sekali parasku yang uzur ini," tepat ketika Lotus baru saja datang kembali.

Hanya ada dua hal di pikiran Bit-Bit: Lotus dan ketampanannya sendiri. Dalam hati Bit-Bit bergumam, "Ah, apa aku gempur lagi ladang Lotus yang mempesona ini?" Tapi apa daya, HP dan MP Bit-Bit hanya tersisa 37%. Maklum, karena umur sudah menuju uzur, banyak sekali hal yang ada di benaknya sebelum melakukan sesuatu.

Dewi Fortuna sepertinya sedang memihak Bit-Bit. Ada item random yang mengisi HP dan MP-nya dengan durasi 7 menit. Ya sudah, dipersilakannya lagi si Lotus menyergap dengan putik yang bermekaran sumringah. Mereka berjibaku mengolah serbuk indah dan ciamik itu. Karena item random tadi memiliki batasan waktu, sisa tenaganya yang 37% tadi menyusut menjadi 36% akibat aktivitas bertukar energi tersebut. Lambat laun Bit-Bit terlelap. Ia tidak lupa meminta izin kepada Lotus sebelum tertidur, meski ia kembali melupakan orderan cuciannya.

Benar saja, di siang bolong dalam mimpinya, Bit-Bit bermimpi masuk ke dalam dunia action RPG. Padahal, Bit-Bit sudah lama tidak memainkan gim di perangkat lunak portabelnya karena sibuk mencari uang digital untuk menambah penghasilan. Sialnya, Bit-Bit kesal dengan mimpi yang sungguh tanggung itu. Dalam mimpi, ia mengumpulkan item, mengasah skill unik, dan masuk ke dunia acak. Padahal mimpinya sangat seru, ia hampir bertemu raja-raja monster untuk menerima imbalan istimewa.

Secara pribadi, Bit-Bit memang benci raja di kerajaannya karena sering mengeluarkan regulasi yang tidak berpihak kepada rakyat. Mungkin karena rasa kesalnya pada kerajaan tempat tinggalnya itu—karena aturan yang tidak ramah pekerja—kekesalan Bit-Bit sampai terbawa mimpi untuk menaklukkan raja.

Pukul 15.47 WDL, Bit-Bit terbangun. Sudah saatnya ia bergerak menjalankan quest. Sebelum berangkat, ia memeriksa bekalnya terlebih dahulu. Bit-Bit terkejut dan tercengang: bekalnya ternyata sudah habis! Bukannya semalam mempersiapkan bekal untuk quest hari berikutnya sembari mencari uang digital, Bit-Bit malah sibuk terbuai oleh transfer energi bersama Lotus. Dasar Bit-Bit, lebah OTW uzur yang benar-benar labil.

Saat terbang keluar beberapa kilometer, Bit-Bit kembali kesal karena ada barangnya yang tertinggal, yaitu stik mantra. Ia pun kembali ke daun teratai padu itu. Beberapa saat kemudian, si Lotus tiba-tiba datang juga ke daun padu mereka. Lotus ternyata hendak mengambil barangnya yang tertinggal berupa dompet spell.

Melihat Lotus yang begitu memesona, terlintas di benak Bit-Bit, "Apakah saatnya padu energi lagi?" Namun dengan cepat Bit-Bit menepis pikiran itu. Wah, sepertinya Bit-Bit mulai bisa mengurangi sifat labilnya demi mengejar quest untuk mendulang uang digital.

Sebelum Bit-Bit bergegas mengejar quest-nya, ia tidak lupa menawarkan bantuan kepada Lotus, "Mau titip apa? Aku sedang ingin bertualang."

Si Lotus menjawab, "Tidak usah repot, aku juga ingin bergegas. Ada pekerjaan yang menungguku."

Terlintas di benak Bit-Bit, "Apakah Lotus tahu aku sedang buntu? Apakah aku sudah tidak menarik lagi?" Ah, tapi Bit-Bit selalu percaya diri. Ia mengacuhkan pikiran itu seolah hanya prasangka sepermilidetik yang tidak penting. Namanya juga makhluk hidup. Ia pun bergegas terbang karena sadar harus segera mencari quest. Begitu sulitnya mencari uang digital di kerajaannya; rakyat dituntut bekerja ekstra keras untuk mendapatkan imbalan yang bisa ditukarkan menjadi kebutuhan sehari-hari. Tak lupa, sebelum menjalankan quest, Bit-Bit harus mencari asupan lain untuk menambah energinya.

Tiba-tiba di perjalanan, Bit-Bit tidak sengaja berjumpa dengan But-But. But-But membawa item berenergi untuk mengisi HP dan MP. Naiklah HP dan MP Bit-Bit sebanyak 54%.

Tak lama kemudian, di dalam hutan Bit-Bit bertemu dengan seorang nenek tua yang menawarkan uang digital yang tidak seberapa. Terenyuh dengan nenek tersebut, Bit-Bit menerima permintaan si nenek untuk mengambilkan item di pusaran air. Beruntungnya, ia hanya bertemu musuh yang mudah. Biasanya, kerajaan lebah suka diserang naga berukuran kecil sekelingking hingga sebesar kastil. Singkat cerita, Bit-Bit berhasil menghadapi naga seukuran kakinya dan mengambil item berupa kalung. Sang nenek berterima kasih dengan memberi upah 50 gold uang digital.

Bit-Bit melanjutkan perjalanan. Ah, lagi-lagi tabiat labilnya kambuh. Dibelinyalah cerutu ajaib seharga 25 gold. Tidak jauh dari hutan, ada toko langganan Bit-Bit dan teman nongkrongnya—tempat biasa mereka membeli larutan favorit.

Dengan perut lapar, gundah gulana, serta HP dan MP yang belum 100%, Bit-Bit terus melanjutkan perjalanan. Dalam kondisi psikis yang kesal dan lelah, Bit-Bit bertemu dengan goblin, penyihir, dan berbagai monster hutan. Ia berharap menemukan quest menarik, namun hasilnya hanya cukup untuk meningkatkan level equipment saja. Padahal, lebah juga butuh akomodasi untuk bertahan hidup.

Sesampainya di toko larutan favorit, ternyata toko tersebut sedang tutup. Sial sekali. Meski lebah di dunia ini telah bermutasi sebesar manusia, naga berjenis Wyvern di sekitar sana juga tak kalah besar—hampir seukuran rumah kastil. Bingung melihat kawanan Wyvern yang mengelilingi daerah sekitar toko, Bit-Bit kecamuk oleh dua pikiran: "Apakah aku bunuh saja 3 gerombolan Wyvern sebesar kastil ini?" atau "Apa aku dobrak saja pintu toko larutan itu?"

Lama ia bergumam sendiri. Mengingat tingkat skill-nya belum setara, Bit-Bit akhirnya mengurungkan niat. Sepertinya kelabilan Bit-Bit makin berkurang; ia mulai belajar untuk sedikit bijak dan tidak bertindak sembrono.

Bit-Bit terus berpetualang dari hutan desa hingga ke berbagai tempat unik lainnya, bertarung dengan pelbagai jenis makhluk. Tidak jauh dari tempatnya berjalan, terdapat kedai yang penuh dengan asupan makanan. Karena toko minuman tutup dan asam lambungnya mulai meningkat, Bit-Bit mampir ke kedai tersebut. Bermodalkan 25 gold, ia sudah bisa mengenyangkan perut untuk melanjutkan perjalanan.

Membatin di dalam hati, Bit-Bit merasa Dewi Fortuna kembali berpihak padanya dengan memberikan keberuntungan ganda: perutnya terisi dan lambungnya terselamatkan. Minuman di toko favoritnya dulu sebenarnya punya banyak efek samping—bisa membuat mabuk, relaks, dan gembira—namun sangat buruk bagi kondisi perut yang sedang berdiskoria. Ia berpikir, tidak ada salahnya menunda kesenangan demi menyelamatkan nyawa. Bayangkan jika harus melawan Wyvern yang level-nya jauh di atasnya, ia pasti sudah jadi hidangan panggang yang lezat jika nekat.

Sepertinya Bit-Bit mulai belajar sepanjang perjalanan dan memetik banyak hikmah. Keberuntungan selalu ada. Sambil beristirahat sejenak, Bit-Bit menyalurkan hobinya menorehkan tinta di atas sepucuk kertas daun—menulis cerita yang biasa terbit di media harian, yang upahnya lumayan untuk menambah tabungan gold uang digitalnya.

Bit-Bit sangat menyukai film fantasi. Sejak remaja, ia suka menulis referensi untuk goresan tintanya. Ia bahkan menyukai serial Dragon Ball di kanal TV hologram. Namun terkadang ia merasa kesal karena sewaktu kecil sering harus menemani neneknya berjalan dan bekerja saat jam tayang film tersebut. Ia sangat suka melihat Frieza dihajar Goku. Ia menganggap Frieza sebagai naga botak yang mengesalkan. Tak lupa saat melawan Shenron, ia juga sangat menyukai seri itu.

Itulah alasan mengapa ia berprofesi sebagai pekerja cucian sekaligus penakluk naga: ia ingin menjadi seperti Goku, seorang Super Saiyan penakluk naga jahat. Entah dari mana wabah naga itu berasal; ada yang bilang itu hanya konspirasi agar kerajaan bisa menarik upeti dari pusat lebah, ada pula yang bilang perangkat istana bermain peran bersama penyihir gelap di pulau yang jauh. Kedua hal itu selalu menjadi tanda tanya bagi penduduk lebah.

Di tengah istirahatnya, Bit-Bit teringat bahwa minuman dan makanan kedai yang dulu bisa dibeli seharga 19 gold, kini harganya membumbung hingga 50 gold. Begitu pula dengan minuman favorit Bit-Bit dan teman nongkrongnya yang harganya menjulang menembus atmosfer.

Bit-Bit kembali berpikir, "Strategi apa yang bisa kuandalkan sekarang? Quest semakin sulit. Apakah aku harus menambah profesi lagi menjadi tukang racik mantra yang dahsyat? Tapi bagaimana caranya? Mencari quest di zaman sekarang sungguh susah, harus masuk jauh ke dalam hutan. Sementara itu, regulasi dan kebijakan kerajaan kurang memihak kepada pekerja, dengan upeti digital gold yang tidak seberapa. Untuk membeli larutan favorit dan menu kedai saja aku harus berpikir dalam dan terperinci. Belum lagi kalau mau berkunjung ke pulau kapuk berpegas itu, melewatinya butuh membeli mantra khusus untuk akses jalur cepat."

Terbayang dengan tingkat skill yang medioker dan upeti digital kerajaan yang tak seberapa, Bit-Bit dan kawan-kawan tongkrongannya harus berpikir ekstra keras menghadapi fenomena saat ini. Sepertinya Bit-Bit tidak perlu mabuk dengan larutan favoritnya; ia sudah cukup 'mabuk' oleh realitas di depan matanya yang kian mahal menjulang tinggi.

Daripada pasrah, terbesit di pikirannya bahwa ia harus meningkatkan level mediokernya agar bisa melampaui idolanya, Goku, serta mengurangi frekuensi bertemu si Lotus.

Malam pun tiba. Bit-Bit melanjutkan pencarian quest dengan bekerja lebih giat dan mengasah skill agar lebih jitu. Mengingat hal itu, Bit-Bit bergegas kembali mengurus orderan cucian yang sempat ia lupakan. Di malam hari, Bit-Bit bertemu dengan teman-teman tongkrongannya untuk melepas penat. Ia telah belajar bahwa tidak semua ego harus diikuti saat terjadi konflik antara keinginan dan kebutuhan.

Setidaknya Bit-Bit merasa beruntung lagi malam ini: ia bisa berkumpul dan makan di kedai bersama teman-temannya, alih-alih terus meratapi regulasi kebijakan dan harga-harga yang menjulang menembus atmosfer.

"Setidaknya labilku sudah berkurang, hahaha. Dan banyak hikmah pelajaran selama menjalankan quest ini," gumam Bit-Bit tersenyum.


Ilustrasi sepenuhnya hak milik Joan Cornella. Seorang seniman berkebangsaan Spanyol yang dapat ditemui di akun instagram @sirjoancornella.