“Bu’, kapan Bapak pulang?” tanya laki-laki mungil dengan mata yang sendu. Usianya yang belum cukup mengenyam bangku taman kanak-kanak, dipaksa bermain dengan bayangan. Marlena mengusap dahi yang bercucuran peluh, lalu berkata “Sebentar lagi Cong,” sembari mengaduk-ngaduk bubur sumsum yang mengeluarkan aroma gurih santan. Tidak ada yang tau pasti, Marlena benar-benar mendengarkan atau asal menjawab. Yang pasti laki-laki mungil itu akan menangis kencang, merengek-rengek ingin Bapaknya segera kembali.
Telah lama Marlena mengurus rumah laiknya pekerja rumah tangga luar negeri yang bergaji puluhan juta. Dimulai sejak fajar masih berupaya menelan gelap malam, ia bangun, sholat subuh, mencuci baju, memasak, menyetrika seragam anak pertama, dan mendulang anak bungsunya. Belum sampai sinar matahari hinggap di jendela, ia sudah tergesa-gesa dengan baju ala kadarnya, menggendong si mungil, dan membonceng anak pertama pergi bersekolah.
Ia tak pernah mengeluh. Rumah gedongan—lengkap dengan motor, perabotan, alat-alat elektronik yang cukup canggih—beserta uang bulanan yang melimpah, barangkali telah cukup. Walau terkadang desas-desus tetangga yang terbawa semilir angin sampai di telinga. Di lorong pasar yang basah, ruang tamu ibu lurah yang pengap, atau di posyandu yang sesak dengan tangis bayi yang kencang, telinganya dipaksa mendengar.
“Rawatlah badanmu Mar. Bukannya sekarang kamu punya banyak uang,”
“Percuma suamimu kerja jauh-jauh. Berhias diri aja kamu nggak bisa,”
“Jangan terlalu hemat Mar. Belilah barang-barang yang kamu suka,”
Marlena mengangguk, sesekali tersenyum, tangannya menggenggam erat semak hati, lalu menganggapnya sebagai angin berlalu. Tak pernah terlintas dalam angannya untuk menghibur diri. Memakai pakaian bagus, berhias diri, menggunakan wewangian yang menggoda seperti kembang desa, hanya saat suaminya pulang. Itu hanya terjadi satu sampai dua kali dalam setahun. Dan hari itu adalah masa-masa penuh kebimbangan.
Hari itu tiba. Tubuhnya yang rapuh oleh urusan rumah tangga dibaktikan. Jauhari, suami yang ia hormati, mengeluarkan kejantanannya yang konon telah lama tak mencicipi kenikmatan surga. Marlena menggelinjang, menahan perih, merintih kesakitan. Tanpa mencumbu, merayu, mengucap kata manis, atau sekedar berterima kasih, Jauhari memangsa tubuh Marlena. Ia pulang membawa kebinatangannya.
“Mengapa kamu menangis? Nggak suka aku pulang?” tukas Jauhari yang menghisap batang rokok bermerek luar negeri. Marlena berusaha menghindar, namun suaminya gelap mata, mengabaikan si mungil yang menangis kencang, dan sekali lagi membuat Marlena menelan perih.
Marlena tak pernah mengeluh. Ia menganggap kesakitan bagian dari tugas seorang istri. Seperti yang sering dikatakan Jauhari bila hasratnya tak terpenuhi. Seraya membenamkan telapak kanan tepat di wajahnya, Jauhari berulang kali menukil hadist nabi tentang “Tugas istri melayani suami”. Orang-orang kampung, ulama-ulama tersohor, orang tua, sanak saudara, para mertua, juga berucap demikian. Tak ada sanggahan yang membuat Marlena ragu akan tugas itu.
Dalam malam yang bertabur bintang, beberapa ekor musang tertawa melengking, segerombolan kelelawar berdecit tengah menyantap buah pepaya di pohon, sementara Marlena duduk di teras menatap halaman rumah yang baru ia bersihkan pagi hari. Jarum jam di atas angka sepuluh adalah kesempatannya untuk meluruskan saraf-saraf kepala yang ditekan sepanjang hari, meluruskan kaki yang tidak berhenti berfungsi, meregangkan tangan yang sudah mengerjakan segala lini pekerjaan. Semua tanggungannya telah lelap menyambut mimpi. Pada momen kesunyian itu, terlintas pikiran untuk menimbang kemudharatan ada dan tidaknya Jauhari.
Hari silih berganti, telah tiba saat Jauhari berangkat berlayar. Marlena tidak menunjukkan wajah yang berseri maupun mata yang berkaca-kaca. Ia melambaikan tangan dengan ragu-ragu. Tubuhnya bertekuk lutut di lantai dengan tarikan nafas yang panjang. Ia menangis lirih sembari menatap langit-langit rumah. Si mungil berlari-lari berupaya mengejar sampai kerikil kecil membuat dagunya mencium tanah. Jauhari telah hilang dalam pandang, dibawa mobil travel, terbang menggunakan pesawat, dan singgah di pelabuhan, tempat kapalnya berlabuh. Marlena menggendong si mungil, air mata mereka bercampur baur menjadi satu. Kepergian Jauhari cukup menakutkan. Marlena khawatir mengenai beban apa yang ditinggalkan kali ini. Seperti dua tahun lalu, ia membiarkan Marlena bersusah payah mengandung si mungil, di samping mengurus anak pertama yang masih berusia 3 tahun. Punggung yang sering nyeri karena usia kandungan semakin tua, dipaksa menghadapi masa-masa aktif anaknya. Ia menahan sakit, berjalan pelan-pelan mengikuti anaknya yang berlari-lari tak mau makan. Ketika tubuhnya lelah disertai perut terasa melilit, ia duduk bersandar, mengibas-ngibaskan lembaran kardus, dan giliran mulutnya mengoceh untuk mencegah anaknya mendekati bahaya.
Tentu, ia tak mengeluh. Tak pernah ia meminta orang tua maupun mertuanya membantu mengurus rumah. Ia merelakan tubuhnya hancur karena mangasuh. Membiarkan jiwanya menahan kegilaan isi rumah. Menarik-narik daster sampai timbul robekan saat si mungil tak berhenti menangis di malam hari. Seringkali rambutnya diragut hingga tercerabut, serta meratap dalam kesunyian saat kedua anaknya menangis.
Lima tahun lalu, di bulan pertama pernikahan, Jauhari meninggalkan utang yang cukup besar. Resepsi yang mengundang orkes kondang beserta seserahan yang berlimpah, tidak bisa diatasi dengan seluruh gajinya. Marlena mengandung dalam situasi yang mencekam. Tiap kali bulan di kalender berganti, jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang bakal dilakukan para preman suruhan rentenir itu. Lebih dari satu tahun, ia hidup dibawah tekanan yang luar biasa menakutkan.
Marlena tetap bersembunyi di balik tugas seorang istri. Ia tahu tak sendiri, banyak para istri di desanya melakukan hal serupa. Mereka, para perempuan muda, yang tak sampai selesai mengenyam bangku pendidikan menengah, memilih bersuami laki-laki perantauan untuk menyambung hidup.
Di desa, laki-laki tak punya banyak pilihan. Keringnya lapangan pekerjaan membuat mereka yang telah selesai dengan kehidupan begundalnya, berduyun-duyun menapakkan kaki di negeri orang. Mereka menghabiskan separuh hidupnya di tengah lautan samudera, di dalam kubangan batu bara, atau di antara mesin pabrik milik asing yang menderu. Ketika satu warsa di perantauan, telah cukup bagi mereka untuk menaruh muka. Menggotong pundi-pundi penghasilan untuk memandikan ibunya dengan emas. Membeli sepetak tanah beserta kendaraan beroda dua maupun empat. Yang paling utama—juga ditunggu-tunggu para lelaki ini—meminang sala satu gadis desa. Para perempuan yang telah disiapkan untuk serba bisa perkara rumah. Marlena adalah salah satunya, yang mengangguk dikala lelaki itu meminta didepan teras rumahnya.
Marlena tak punya pilihan. Ia menerima kodrat yang telah digariskan sejak bibit buwit. Sejakremaja, ia sudah dilemparkan ke bilik dapur, diajarkan memasak, menyapu, mengepel, dan mencuci pakaian. Nenek, Ibu, para bibi, sepupu perempuannya, tak pernah absen menegurnya. Semua itu dilakukan demi menyambut hari dimana ada seorang lelaki sukses memperistrinya. Marlena tetap tak mengeluh. Dendang dangdut yang diputar tetangga samping rumah sedikit menghiburnya. Pinggulnya sedikit bergoyang mengikuti tabuhan gendang koplo. Ia hempaskan Jauhari melalui irama yang berdenyut. Baginya, Jauhari pulang ataupun pergi tak ada bedanya.
Dunianya sedikit lebih baik bila suami bak binatang itu berlayar di lautan. Di tengah permainan seruling yang menawan dengan suara merdu dari Tasya Rosmala, yang membawakan lagu Hadirmu Bagai Mimpi—dengan tafsir yang menyesuaikan, sekonyong-konyong suara daging yang menghantam benda padat terdengar. Marlena terperanjat, berlari sekuat tenaga dan mendapati si mungil mengerang kesakitan, memegang pelipisnya yang benjol.
Oleh Marlena si mungil dibujuk sampai lelap di bahunya. Ia lalu meraih brosur di atas meja yang sudah seminggu tidak tersentuh. Brosur yang diperoleh dari seorang perempuan berwajah ceria di pasar dengan mata yang berbinar. Perempuan itu tidak sendirian. Marlena tahu itu, gosip telah tersebar sejak awal mereka menyebarkan brosur sebulan lalu. Orang-orang desa menyebutnya “Segerombolan perempuan aneh yang tidak paham agama.” Tercantum kontak dan alamat mereka.
Marlena termenung melihat isi yang dimuat dalam kertas print berwarna itu. Terdiri dari seruan untuk mandiri, berdaulat atas tubuh, dan karir yang cemerlang di luar sana. Dalam posisi berdiri dan menggendong si mungil, sekejap ia tersungkur di lantai, Marlena merasa keanehan di perutnya. Terseok-seok ia berjalan ke kamar mandi, dan memuntahkan semua isi perut. Diam, membeku, menatap tajam ke arah cermin.
“Gimana cara aku mengurus tiga orang sendirian. Jadi empat kalau dia pulang,” batin Marlena bergejolak.
Hingga sebulan kemudian, Marlena mendatangi sebuah pendopo yang tak jauh dari desanya. Di depan pintu kayu yang termakan usia, ia disambut dengan wajah ceria dan mata yang berbinar. Kicau burung menyelinap di balik rimbunan pepohonan. Bunga-bunga bermekaran mengeluarkan harum yang semerbak. Kupu-kupu berwarna indah mengitari langit biru berawan cirrus. Di saat itu, Marlena memulai kehidupan.

