Tidak pernah terpikirkan bagaimana jadinya dunia musik tanpa hadirnya musik rock. Apakah semua akan mengalun, meski tanah telah dikeruk paksa, meski hutan telah berganti etalase beton banyak rupa? Apakah semua akan tetap kita nikmati sambil mendengar suara yang mengalun? Sambil mendengarkan piano dan saxophone dengan segala keramah-tamahannya di telinga? Apakah demikian yang akan kita lakukan, sambil meneguk tequila?
Eh, tentu tidak. Kita punya minum jenis rupa; meneguk moke, tuak, dan arak sambil menyaksikan pengrusakan alam yang terjadi diiringi jazz dan musik relaksasi.
Tetapi, jika kita berharap banyak pada musik rock sebagai penyuara perlawanan, penggambaran ketertindasan zamannya, atau turut turun ke jalan-jalan melantangkan aksi dengan melodi dan pukulan drum, maka musik rock telah mati sejak awal kelahirannya.
Rock Sebagai Sirene
Saya tentu tidak menampik bagaimana jazz dengan bebunyian mengalunnya dapat mengobati beberapa fase. Terutama fase-fase healing dan menikmati kesendirian sambil mengetik di depan laptop. Tetapi, pada peristiwa-peristiwa yang berkelindan di hidup kita akhir-akhir ini, kita tak perlu menyeret bintang rock luar negeri, di Indonesia sendiri kita tak kalah bernas. Rasanya musik rock kita pun turut menjadi sebuah sirene, ketika kita mendengar God Bless, A.K.A., dan Slank tampak mengasikkan dengan kelajuan BBM yang makin ngebut, juga sembako yang makin mencekik setiap kali MBG operasional mengikuti jadwal sekolah. Pada waktu libur, orang tua bersyukur karena barang-barang yang mahal menjadi lebih murah ketimbang saat MBG beroperasi.
Tetapi, nama-nama band rock yang saya sebut di atas sudah dimakan usia. Lagu-lagunya mungkin masih relevan, tetapi spiritnya berbeda. Pendengar menginginkan rock masa kini, yang membawa spirit masa kini. Menghantarkan sebuah lagu rock kepada pendengar, sebuah cara yang dapat bersama-sama menyoraki tiran yang terus menyiksa.
Jadi, apa yang diwariskan musik rock hari ini?
Berbicara soal warisan, kita akan dipertemukan dalam berbagai persimpangan. Pertama, warisan yang selalu turun-temurun dijaga oleh pewaris sehingga dapat dilanjutkan ke generasi yang akan datang (dalam hal ini konteks zaman). Kedua, warisan yang tidak sempat dinikmati oleh generasi selanjutnya karena sudah kepalang terjual demi kebutuhan hidup sehari-hari oleh pemegang warisan. Ketiga, warisan yang tidak memiliki ahli waris atau dalam hal ini tidak ada yang akan melanjutkannya ke depan; ia hanya menjadi sebuah catatan history dan akan usang ditelan zaman.
Dalam ketiga konteks ini, apakah rock berada pada persimpangan satu, dua, atau tiga? Atau yang kita rasakan hari ini musik rock berada di persimpangan ketiga: ia ada dan terlihat sehari-hari di hidup kita, namun warisannya tak tinggal di dalam diri kita.
"Apakah kita sebagai pendengar berani teriak lebih lantang di panggung konser dengan penampil bintang rock berlatar Freeport di belakangnya?"
Mengapa hal ini terjadi? Apakah kita sebagai pendengar berani teriak lebih lantang di panggung konser dengan penampil bintang rock dengan latar Freeport di belakangnya? Atau kita akan tetap menikmati musiknya, dan menganggap semua ini hanyalah musik. Kita membayar hanya untuk menikmati musik, keluar dari rutinitas kerja yang menyiksa, berteriak tanpa pernah berpikir apa yang sebenarnya terjadi itu lebih dari sekadar dirimu seorang. Pernah berpikir demikian? Jika tidak, simpan saja rencana kita di awal untuk berteriak dengan bintang rock kesukaanmu di atas panggung dengan latar Freeport di belakangnya. Kita nikmati saja musiknya, pulang dengan hati plong karena sedikit diobati kegundahan yang telah menyengat sebulan penuh ini. Kita tidak perlu mengubah apa-apa, sebab musik sejatinya hari ini dipahami sekadar musik. Tidak perlu berdebat hingga panjang lebar, jika pun kau ingin meludah silakan saja. Toh, kita hanya bertemu di virtual dan kamu masih membaca tulisan ini dengan emosi.
Jika kamu memang masih ingin tahu apa yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini, tentulah kamu sedikit menyiapkan rencana membaca lebih panjang. Sambil mendengarkan Guruh Gipsy misalnya, atau band rock terbarulah seperti Black Horses. Eh, umur muda secara hitungan umur bandnya. Tetapi secara musik, ia menggunakan warisan tahun 70-an. Tetapi, di sini saya tidak hendak mempromosikan band-band rock. Hanya mau berkomunikasi dengan pendengar musik rock. Bagaimana jadinya jika rock tidak pernah ada? Apa yang tersisa? Kita akan menikmati dalam bentuk rupa yang mana? Atau akan melintasi batas, menyeberang ke panggung pembacaan puisi?
Sebelum kita ke arena sastra dan pertunjukan, kita akan menyelam lebih jauh cikal bakal musik rock, tentu kita bukan seorang asbun yang berbunyi lalu menetapkan The Beatles sebagai pelopor musik rock. Kita akan melihat, siapa yang menyeberangi lautan musik mengalun; musik-musik yang dimainkan ketika perayaan dan pesta.
Menyeberangi lautan musik yang sama pada saat itu, tentulah sebuah keberanian. Melintasi batas yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, kegelisahan untuk menyeberangi lautan yang luas tak terhingga; menggunakan sampan kecil yang kita kenal sebagai musik rock hari ini.
Sebelum kita melihat rock sebagai genre yang kita kenal hari ini, saya ingin mengajak menelusuri pengaruh blues terhadap genre rock yang sejak tadi kita bahas. Sebab blues adalah ibu kandung dari musik rock itu sendiri.
Keluar dari Rahim Blues dan Muslim
Pada suatu ketika di ruangan Universitas Harvard, Sylviane Diouf memutar dua rekaman suara. Pertama, lantunan azan—suara yang biasa terdengar ketika memperingati waktu salat umat Muslim. Pada rekaman pertama ini, Diouf ingin meyakinkan kepada publik bahwa blues itu memiliki relasi dengan tradisi masyarakat Muslim di Afrika Barat. Terlihat bagaimana blues dinyanyikan, yang kecenderungannya mirip dengan cara-cara melantunkan azan. Setelah memutar suara azan, Diouf memutar "Levee Camp Holler", rekaman yang hampir menginjak 100 tahun yang muncul di Delta Mississippi—lagu yang berkembang di komunitas Muslim asal Afrika Barat yang bekerja di Amerika pasca-Perang Sipil. Pada lagu yang diputarkan Diouf, liriknya menyeru TUHAN terdengar seperti panggilan azan. Ia juga menunjukkan kesamaan langgam yang sengau pada lagu "Levee Camp Holler", persis menunjukkan persamaan antara azan dan blues. Tentu Diouf mendapat gemuruh tepuk tangan dari ruangan itu, setelah dapat meyakinkan publik.
Tidak hanya Diouf, Jonathan Curiel dalam tulisannya, Muslim Roots, U.S. Blues, ia mengungkapkan bahwa publik Amerika mesti berterima kasih kepada umat Muslim Afrika Barat yang tinggal di Amerika pada tahun 1600–1800 M. Terutama umat Muslim yang diangkut paksa untuk dijadikan budak. Meski dari mereka dipaksa oleh tuannya untuk menganut Kristen, tetapi Curiel mengungkapkan banyak budak dari Afrika tetap menjalankan budaya dan tradisi keagamaan mereka.
Meski banyak pandangan lain tentang ini, tetapi kita sebagai pendengar pastilah tidak menampik dengan apa yang dinyatakan Curiel. Jelas gaya vokal penyanyi blues banyak menggunakan melisma-intonasi. Ini juga diungkapkan oleh Prof. Kubik, gaya vokal semacam itu sebenarnya telah hadir sejak abad 7–8 M di Afrika Barat yang menunjukkan kontak dengan dunia Islam, di mana melisma menggunakan banyak nada dalam satu suku kata. Sedangkan, intonasi bergelombang merupakan rentetan yang beralih dari mayor ke skala minor dan kembali lagi. Hal yang sangat umum dilakukan oleh umat Muslim dalam melantunkan azan dan membaca ayat suci Al-Qur'an.
Kapan Terakhir Musik Mengangkat Senjata?
Kita beranjak sejenak menarik benang merah yang kita bahas. Perang Dunia Ke-2 juga turut menuntun peralihan penggunaan alat musik, dari akustik menjadi elektrik blues, dan pembukaan yang sangat progresif pada tahun 1960–1970-an terbentuklah sebuah hibrida yang kita kenal sebagai revolusi blues rock. Itulah yang menuntun kita pada judul besar yang telah saya jabarkan sejak awal. Jika rock tak pernah ada, kapan kita angkat senjata.
Saya tidak hendak menyatakan senjata sebagai alat penghancur. Senjata bisa berarti sebuah cara pengungkapan apa yang terjadi dengan keadaan hari ini, lirik-lirik yang mestinya hadir pada musik rock untuk mengungkapkan keadaan hari ini. Seperti apa yang dilakukan oleh musisi blues sejak awal, untuk menyuarakan kesedihan, cinta, harapan, hingga perlawanan.
Namun senjata yang kita harapkan keluar sebagai lirik, sebagai nada, atau bahkan sebagai seruan yang terus menggema di panggung-panggung megah, yang turut menjadi alarm bersama tentang apa yang terjadi pada masa kini, tak juga timbul di musik kesukaan kita; rock.
"Rock tetap hidup sebagai musik. Tetapi sebagai nadi dan akar, ia telah mati sejak dilahirkan."
Pergeseran ini tentu sejak awal musik rock lahir, ketika Chuck Berry dengan aksi panggung yang energik dan memainkan blues yang begitu cepat. Alhasil, kemunculannya diterjemahkan oleh industri pada saat itu. Transisi perubahan yang begitu cepat ini melahirkan ratusan band rock pada masa itu, mereka bermain cepat, tampil stylish, dan tumbuh dengan selera pasar. Dari Chuck Berry, Elvis Presley yang murni menampilkan diri untuk industri. The Beatles mendapatkan tuah dari musik rock, dari banyaknya band rock yang muncul di permukaan. Ia yang paling banyak disorot, tentu tidak hanya musik mereka. Penampilan mereka menjadi ikonik, hingga dalam satu dekade hampir setiap kemunculan band rock berpenampilan serupa dengan The Beatles. Meski rock bertumbuh dengan berbagai macam eksplorasi nada, tetapi The Beatles tetap menjadi fenomenal. Hingga pada akhir 70-an, kemunculan band-band rock baru yang dapat menandingi secara penampilan juga secara lirik, menjadi tanda awal musik rock yang lebih progresif. Kemunculan banyak nama seperti The Rolling Stones, Black Sabbath, Pink Floyd, Led Zeppelin, hingga Jimi Hendrix membuat rock menjadi beraneka ragam, bunyi-bunyian yang fresh saat itu. Menunjukkan musik rock bertumbuh begitu cepat, bahkan meninggalkan induknya seperti blues dan folk yang memilih jalan sunyi. Masih berteriak di lorong-lorong sempit, pertunjukan independent, hingga harus siap kesepian tanpa pendengar.
Rock tetap hidup sebagai musik. Tetapi sebagai nadi dan akar, ia telah mati sejak dilahirkan.

