Ilustrasi - Ketika Argentina Bermain Untuk Mereka yang Tidak Pernah Menang
Ilustrasi oleh: Arsip Sastra Serkap

Ketika Argentina Bermain Untuk Mereka yang Tidak Pernah Menang

27 Juli 2026
tutur pandang

Di Amerika Latin kemiskinan adalah tontonan yang jumlahnya mengalahkan penonton sepak bola selama turnamen Piala Dunia. Berdasarkan data FIFA. Piala Dunia 2026 di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat merupakan penjualan tiket terlaris selama perhelatan Piala Dunia sejak pertama kali pada 1930 di Uruguay. Piala Dunia 2026 mencatat rekor total sebanyak 6 juta lebih penonton hadir langsung di stadion sepanjang turnamen. Harga tiket termurah dibanderol sebesar 2.030 dolar atau sekitar 36.4 juta. Harga itu jauh melampaui kemampuan ekonomi rakyat Amerika Latin yang masih bergulat dengan kemiskinan. Menonton langsung Piala Dunia 2026 ke stadion justru kemewahan bagi rakyat Amerika Latin, benua yang masyarakatnya paling mencintai sepak bola.


Amerika Latin adalah sejarah panjang tentang politik yang berdarah sejak abad ke-15. Kemiskinan bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan luka yang melahirkan kudeta, perang saudara, revolusi, pemberontakan gerilya, penghilangan paksa, hingga rezim-rezim militer yang membungkam suara rakyat. Di jalan-jalan kota dan desa, darah sering kali menjadi air keringat yang biasa ketika negara gagal menghadirkan keadilan. Di benua ini, jutaan orang tumbuh dalam lingkaran ketimpangan yang diwariskan dari generasi ke generasi, sementara kekuasaan berganti wajah tanpa benar-benar mengubah nasib mereka. Kemiskinan telah menjadi panggung tempat politik mempertontonkan tragedinya yang paling kejam.


Argentina, negeri yang pernah dijuluki lumbung pangan dunia, adalah salah satu paradoks terbesar Amerika Latin. Tanahnya subur, memiliki sejarah sepak bola gemilang, tetapi berkali-kali dihantam krisis ekonomi yang membuat rakyatnya akrab dengan inflasi, pengangguran, dan ketidakpastian. Berdasarkan laporan terbaru, sekitar 38,1 persen penduduk Argentina hidup di bawah garis kemiskinan. Dari total populasi sekitar 47 juta jiwa. Kurang lebih 18 juta warga Argentina tidak mampu setiap bulan mengumpulkan uang sebanyak 689.853 peso atau setara dengan rupiah sekitar 8.38 juta. Jumlah uang tersebut merupakan standar minimum memenuhi sandang, pangan, dan papan ukuran hidup layak di Argentina. Namun setiap keluarga miskin tidak bertahan hidup dengan peso maupun agama, melainkan meletakkan harapan kepada sepak bola.


Dalam keadaan seperti itu, sepak bola berubah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada olahraga.

Di banyak sudut Amerika Latin, orang-orang berkata dengan nada bercanda sekaligus getir bahwa jika agama menjanjikan surga yang entah kapan datangnya, maka sepak bola menghadirkan mukjizat setiap akhir pekan. Bukan karena masyarakat kehilangan iman, melainkan karena kehidupan terlalu keras untuk hanya bergantung pada janji-janji yang tak dapat disentuh. Di stadion, di jalanan, di layar televisi kecil yang menyala di rumah-rumah sederhana, rakyat menemukan ruang untuk menangis, tertawa, dan percaya bahwa mereka masih memiliki sesuatu yang layak diperjuangkan.

Di Argentina, sepak bola menjadi perjanjian paling baru terakhir setelah Martin Luther mempromosikan Protestan. Karena itu para pemain sepak bola bukan sekadar atlet. Mereka adalah perpanjangan mimpi rakyat miskin.


Diego Armando Maradona memahami kenyataan itu sejak kecil. Ia tumbuh di Villa Fiorito, kawasan miskin di pinggiran Buenos Aires, tempat tanah becek lebih akrab daripada rumput hijau stadion. Kemiskinan membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Ketika kemudian menjadi pesepak bola terbesar pada zamannya, ia tidak pernah sepenuhnya meninggalkan identitas itu.


Maradona memilih keberpihakan. Ia mengagumi Revolusi Kuba, bersahabat dengan Fidel Castro, dan berkali-kali berbicara mengenai ketidakadilan melalui sikapnya seperti dengan membuat gambar Che Guevara di lengan kanannya. Baginya, sepak bola bukan sekadar permainan, tetapi panggung politik tempat rakyat kecil dapat memperoleh kemenangan simbolik atas kekuasaan.


Ia membayangkan dunia yang lebih setara. Berpihak kepada mereka yang tertindas.

Lionel Messi datang dari kisah yang hampir sama miskinnya, tetapi memilih jalan yang berbeda. Lahir di Rosario dari keluarga pekerja, Messi menghadapi keterbatasan ekonomi sejak kecil. Bahkan pengobatan hormon pertumbuhannya hampir mustahil ditanggung keluarganya sebelum kesempatan datang dari Barcelona. Namun pengalaman itu tidak mengubahnya menjadi sombol politik seperti Maradona. Bahkan Messi saat ini bermain untuk Inter Miami yang berbasis di Amerika Serikat bermarkas di negara bagian Florida. Klub yang berkompetisi di liga sepak bola tertinggi di  Major League Soccer (MLS). Atas dasar hal itu tentu saja Messi tidak pernah dikenal sebagai figur ideologis di hadapan gerakan perlawanan terhadap kapitalisme di seluruh dunia.


Ia tidak membangun citra melalui simbol manifesto politik ataupun revolusi. Yang ia lakukan adalah bekerja tanpa banyak bicara, mengangkat ekonomi keluarganya, membantu banyak anak melalui kegiatan filantropi dan yayasan sosial, serta memberi kembali kepada masyarakat Argentina melalui berbagai program kemanusiaan. Ia memilih gerakan amal sebagai platform gerakan, bukan dengan jalan mempelajari gerakan sosialisme seperti yang dilakukan Maradona.


Jika Maradona adalah revolusi, maka Messi adalah simbol ketekunan meskipun tertindas. Jika Maradona melawan dunia dengan amarah, Messi menjawabnya dengan konsistensi bermain sepak bola meskipun di sebuah klub dari negara yang membantai anak-anak di Palestina.

Namun perbedaan keduanya tidak mengurangi satu kenyataan penting. keduanya lahir dari lorong-lorong kemiskinan Argentina. Dan justru dari tempat-tempat seperti itulah negeri ini menemukan pahlawannya. Sebab peso dan agama adalah pengkhianat yang enggan memberikan Empanada, kudapan berbentuk seperti pastel yang mengganjal perut ketika lapar.


Sejarah Argentina di Piala Dunia memperlihatkan hubungan yang nyaris mistis antara penderitaan dan harapan. Tim nasional ini telah mencapai partai final sebanyak tujuh kali. Menjadi runner-up pada 1930, meraih gelar juara pada 1978, kembali menjadi juara pada 1986, kalah di final 1990, kembali menjadi runner-up pada 2014, menjuarai turnamen pada 2022, dan kini kembali melangkah ke final Piala Dunia 2026 menghadapi Spanyol.


Dari enam final yang telah selesai sebelum edisi 2026, Argentina mengoleksi tiga gelar juara dan tiga kali menjadi runner-up. Rekor itu memperlihatkan bahwa generasi demi generasi selalu berhasil menemukan alasan untuk terus percaya.


Kini seluruh harapan itu bertumpu lagi kepada Lionel Messi.


Bagi dunia, final melawan Spanyol mungkin hanya pertandingan sepak bola terbesar di planet ini. Namun bagi jutaan rakyat Argentina yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, pertandingan itu memiliki makna yang jauh lebih dalam. Selama sembilan puluh menit, mereka dapat melupakan tagihan listrik, harga pangan mahal, pekerjaan yang tidak memberikan kesejahteraan, krisis iklim, dan jutaan anak putus sekolah.


Sekalipun Argentina berhasil mengalahkan Spanyol, namun tidak ada trofi yang mampu menghapus kemiskinan.  Tidak ada gol yang secara ajaib mengenyangkan perut rakyat. Dari Argentina, menunjukkan bahwa harapan sering kali datang lebih dahulu daripada perubahan sistem politik ekonomi yang mendasar. Dan sepak bola adalah harapan itu, meski rezim selalu menindas. 


Mampukah Lionel Messi mempersembahkan Piala Dunia 2026 sebagai hadiah moral kepada 18 juta rakyat miskin Argentina? 


Ilustrasi: The Guardian, 26 Maret 2017.

'A runaway crisis': Argentina activists aid shanty towns state has left behind.