Ilustrasi - Jurang Kemiskinan: Syair dan Gugatan
Ilustrasi oleh: Arsip Sastra Serkap

Jurang Kemiskinan: Syair dan Gugatan

27 Juli 2026
tutur pandang

“Tapi, sayang, sayang, sayang, seribu kali sayang.”

Lantunan Silampukau pada lagu “Jurang Kemiskinan” mengajak bernostalgia dengan lagu “Fatwa Pujangga”, sebuah lagu yang ditulis oleh Said Effendi. Lantunan Melayu yang terus menggema di rumah-rumah ketika Minggu pagi, saat acara pernikahan, atau musik karaoke pada zamannya. Namun, lagu “Jurang Kemiskinan” pada album Stambul Arkipelagia Vol. 1 garapan Silampukau tidak menjadi syair cinta pujangga Melayu pada umumnya yang pernah kita dengar dari P. Ramlee, Iklim, Saleem, dan para pujangga Melayu era 50-an sampai 90-an. Silampukau justru menjelma menjadi sebuah lantunan yang menuntut sekaligus menggambarkan zaman lewat dua albumnya, Stambul Arkipelagia Vol. 1 dan Vol. 2.

Silampukau menangkap kegetiran dan frustrasi zaman di tengah keadaan yang terus-menerus mendesak. Dari kumpulan lagu pada album Stambul Arkipelagia Vol. 1 dan Vol. 2, salah satu lagu yang berulang kali mengajak bernostalgia dengan suara radio, rumah panggung, dan hamparan pulau adalah “Jurang Kemiskinan”. Kita akan terlena jika tidak menghayati liriknya. Silampukau masuk dengan lantunan yang biasa digunakan musik-musik Melayu klasik untuk rindu dan sukacita. Tetapi, pada keseluruhan lagu ini terlempar begitu gelap dan suram.

Ai, ya, sayang,

Beginilah nasib bonus demografi:

Nirdaya kala diperdaya negara;

Pakan infernal invertebrata neraka.

Pada bagian ini, sontak saja saya yang berulang kali memutar lagu ini menghentikan aktivitas mengecat patung kawat dan teringat pada suatu Minggu pagi di tahun 2000-an. Saat itu di rumah kami menggema suara Victor Hutabarat menyanyikan “Fatwa Pujangga”. Tetapi, bukan untuk kekasih seperti yang dinyanyikan Victor. Ai, ya, sayang, intro dari Silampukau adalah sebuah gugatan.

Alangkah sayang, negeri dengan demografi yang mendukung ini lagi-lagi mendapati negara yang memperdaya dan nirdaya. Silampukau menghadirkan lirik pada “Jurang Kemiskinan” berulang kali seperti menyayangkan. Mengapa kekayaan alam melimpah, letak geografis yang amat strategis. Masih membuat masyarakat menghadapi jurang kemiskinan. Silampukau mengemas musik  folk dengan syair Melayu yang relevan dan tidak terasa klise. Mereka menyeret masalah masa kini ke permukaan. Sehingga kata “sayang” di [verse 1] dan “sial” pada [verse 2], yang akan kita dapati pada lirik  “Jurang Kemiskinan” seperti dorongan dan percikan api untuk kita tersulut sama-sama menggugat tiran yang membuat lubang kemiskinan itu bernama; negara.

Ai, ya, sial

Beginilah nasib buih-buih statistika

Nirdaya kala diperdaya negara

Pakan infernal invertebrata neraka

Nirsuara kala dirudapaksa negara

Korban kolateral saga khatulistiwa

Pada lirik yang kita dapati di atas, ada beberapa perbedaan dari [verse 1] penambahan kata “Ai, ya, sial” menunjukkan betapa terpuruknya lirik “Jurang Kemiskinan” ini. Sejak awal, umpatan terlontar, “Ai, ya, sayang” dilanjutkan dengan

Ai, ya, sial

Beginilah nasib buih-buih statistika

Lagi-lagi Silampukau ingin menggambarkan keadaan negara, “Beginilah nasib buih-buih statistika” menunjukkan keadaan yang berulang kali kita hadapi. Angka-angka kemiskinan yang terus bertambah, bencana alam yang terus melonjak, BBM yang melambung tinggi, anggaran membengkak pada kebijakan tak perlu. Itu semua adalah buih-buih statistika, dan itu juga nasib yang dialami pada “Jurang Kemiskinan”.

Tidak berhenti di sana, Silampukau menambahkan “Nirsuara kala dirudapaksa negara” seakan mengingatkan pendengar sekaligus menggugat. Bahwa setelah apa yang dilakukan negara berulang kali pada kita, kita masih saja “Nirsuara” sebagai pendengar tentu ini menjadi bagian yang membangkitkan kesadaran kritis.

Jika folk Melayu yang hidup semasa Bob Dylan terdengar seperti petuah, syair dari seorang pujangga merindu, atau lagu pengantar tidur, Silampukau sialnya dapat mengemas semua lantunan itu—mulai dari corak P. Ramlee, Victor Hutabarat, hingga beberapa napas yang terdengar seperti “Soliram”, sebuah lagu pengantar tidur Melayu yang pernah dinyanyikan musisi folk dunia seperti Pete Seeger dan Nina Simone.

Seperti yang telah kita gambarkan di atas “Jurang Kemiskinan” menjadi tonggak gugatan. Ia menyeruak keluar sebagai api yang mengingatkan semua orang bahwa negara ini sedang tidak baik-baik saja: kemiskinan struktural, kehilangan ruang hidup, hingga kerusakan alam yang masif. Semua itu merampas cita-cita masyarakat, dan cita-cita founding fathers pada Pancasila terdengar sebuah keremehan. Jika hari ini pemimpin, tidak dapat mengindahkannya.

Bahasa Melayu yang menjelma menjadi lingua franca pada zamannya menandai betapa berpengaruhnya demografi negeri ini, seperti terkutip di lagu “Jurang Kemiskinan”. Hingga pelabuhan-pelabuhan berdiri menjadi persinggahan banyak kapal dan budaya, bahasa Melayu menjadi bahasa perdagangan. Tetapi, dengan warisan kekayaan itu, kita justru mendapati banyak muslihat yang terus mengikat menuju jurang bernama kemiskinan. Bukan sebuah kemakmuran dan kesejahteraan.

Jika pada era 80-an kita mendapati lirik-lirik protes pada musik folk seperti yang dinyanyikan oleh Leo Kristi, Kantata Takwa, dan Iwan Fals, hari ini Silampukau menandai era baru dengan hadir menjadi bagian dari musik folk yang terus melantunkan kenyataan zaman lewat gugatan.

Kata sayang di lirik awal Silampukau terdengar seperti umpatan. Kata “sayang” ini terungkap ketika kita memiliki semua yang mestinya dengan mudah didapatkan, tetapi karena dikelola dengan cara-cara yang tidak seharusnya, membuat ungkapan itu terlontar. “Ai, ya, sayang” terlontar, dan hari-hari itu menjadi ungkapan yang berkelindan terdengar seperti “Sayang sekali, harus seperti ini,” dan sebagainya.

Jika pada kemunculan Silampukau kita mendapati duo Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening yang bercerita tentang kota Surabaya dan menjadi potret urban menyorot suasana kota, permasalahan sosial, dan potret-potret gelap kota yang jarang terlirik, kini mereka menjelma sebuah grup orkes, menjadi musik folk yang dapat dikatakan keras hari ini. Keras dalam hal ini, mereka menggunakan kekuatan lirik untuk mendobrak kenyamanan pendengar lewat satire yang bernas.

Karena mereka hari ini tidak hanya menyoal Surabaya, mereka menjadi pengingat untuk para pendengar bahwa hari ini, penguasa membuat sistem yang terus membodohi masyarakat. Negeri kaya ini menjadi potret kemiskinan dan persiapan ke jurang kehancuran yang mengenaskan. Meski dialog pada Arkipelagia tidak seperti suara yang berteriak dan maki-makian, ia menjadi dendang dan lantunan yang menggugat, mengajak, dan merobohkan kursi nyaman pendengar. Inilah yang akan kita temui pada Arkipelagia Vol. 1 dan Vol. 2.

Babak baru ini menjadi sebuah sinyal bahwa Silampukau menjelma menjadi lebih berwarna, lebih lebar. Persoalan yang tidak hanya berpusat di Surabaya, keresahan yang dibagi menjadi milik bersama, dan lantunan dengan gugatan bergentayangan menjelma sebuah getir. Silampukau membagi itu secara universal dan pendengar mesti menyiapkan sebuah rencana untuk sama-sama menghantam tiran. Meski itu terlontar lewat nyanyian, Silampukau memantik kesadaran kritis itu. Terima kasih tak terhingga untuk Silampukau telah menghidangkan ini. Umur panjang perlawanan.

Palembang, 07 Juli 2026