Setelah kita sama-sama tahu dan menyaksikan secara saksama hari ini, tren bergulir begitu cepat tanpa kontrol sosial, sehingga kerja-kerja budaya terasa seperti kenihilan.
Dahulu, pergerakan budaya begitu lambat; butuh waktu berpuluh-puluh tahun hingga akhirnya menjadi sebuah kebudayaan. Namun hari ini, transisi terjadi sangat masif—mulai dari tren musik yang meresap ke dalam sendi-sendi kehidupan yang kita sebut sebagai kebudayaan tadi. Tidak berhenti pada musik, tren juga bergerak memengaruhi hampir semua aspek kehidupan. Alhasil, wujud pengikut tren ini tidak pernah jelas; terus berubah-ubah tergantung tren apa yang sedang memengaruhinya.
Bangunan kebudayaan yang hendak dibangun dan telah dirancang fondasinya untuk diproyeksikan pun menjadi linglung. Tren yang timbul silih berganti membuat manusia di dalamnya menjadi orang-orang yang linglung pula. Celakanya, orang-orang linglung inilah yang menjadi fondasi awal sebelum terbentuknya kebudayaan yang ingin kita capai.
Sedari awal kemunculannya, Serkap hadir sebagai ruang percakapan untuk menelisik peristiwa hari ini dalam kacamata sastra dan kebudayaan—mendedah serta menawarkan konsep-konsep untuk membangun cita-cita susastra kita melalui pendekatan manusia masa kini. Orang-orang linglung yang kita maksud tumbuh dan terbentuk karena ketiadaan landasan kebudayaan dan susastra dalam perjalanan mereka. Akibatnya, mereka memilih jalan instan tanpa perlu memahami seluk-beluk peristiwa secara mendalam; tanpa perlu menganalisis mengapa sesuatu (tren) bisa ada dan bagaimana tren tersebut memengaruhinya. Orang-orang linglung itu berada sangat dekat dengan kehidupan kita, atau jangan-jangan, orang-orang linglung itu adalah kita sendiri yang telah tumbuh di dalam sendi-sendi keseharian.
Dari percakapan tentang orang-orang linglung tersebut, pada edisi ke-2 ini Serkap mengalami peningkatan pesat pada pengiriman Tuturan Panjang (dalam hal ini, cerita pendek). Namun, kami mengharapkan ada hal lain yang tumbuh menjadi ruang perdebatan dan ruang dialog untuk mengeja zaman ini. Serkap memiliki rubrik khusus untuk kita saling melempar gagasan, sekaligus menjadi upaya membongkar dan membangun ulang. Pada rubrik Tutur Pandang ini, esai dan opini kami buka selebar-lebarnya agar para pelaku (seniman, kritikus) dapat menawarkan rencana langkah susastra dan budaya kita ke depan.
Seperti judul yang terpampang di atas, kami menyadari ada perilaku masyarakat kita—baik secara sadar maupun bawah sadar—yang menjadi gambaran diri dalam dua ruang: dunia maya dan dunia kerja. Di dua ruang ini, kita menemukan dua pribadi yang berbeda. Beruntungnya, kita menghadapi masyarakat yang mulai kritis melihat peristiwa zaman. Meski di ruang kerja mereka menjadi orang-orang yang ramah, murah senyum, dan sopan santun, ketika berhadapan di dunia maya masyarakat kita bisa menjadi sangat beringas. Bahkan dalam menanggapi beberapa peristiwa di media sosial, mereka menjadi yang paling vokal menyuarakan, berkomentar, hingga saling bertukar pandangan.
Sayangnya, konsep "tersenyum di ruang kerja, melawan di media sosial" ini masih sangat mentah. Bayangkan jika potensi tersebut digunakan untuk hal-hal yang menggiring kita pada perubahan nyata—revolusi, misalnya. Tentu ini harus didorong melalui wacana, gagasan, dan perdebatan panjang demi menghasilkan proyeksi yang mapan dan terciptanya cita-cita tersebut.
Sekali lagi, "tersenyum tapi melawan" adalah sebuah konsep yang menurut kami layak dicoba. Sembari menyiapkan sesuatu di balik senyum ruang kerja itu, kita melawan musuh yang terus mengerdilkan kesempatan kita dalam mengubah nasib.
Kita bisa berbicara tentang revolusi melalui percakapan dan dialog di semesta digital. Dalam konteks yang sama, kami melihat konsep "tersenyum tapi melawan" sebagai pendekatan yang tepat—berbagi peran bagi mereka yang bekerja di zaman yang mengharuskan keramahan dan kesopanan ini. Dalam keadaan yang berat, senyum, keramahan, dan kesopanan adalah bentuk amarah yang terpendam.
Melihat fenomena masyarakat kita yang masih dapat tersenyum di antara himpitan ruang dan beban biaya hidup yang tinggi, mereka nyatanya masih setia berdiri melawan demi setiap pihak yang tertindas. Ini menjadi organic solidarity, kemarahan di sosial media bukan sebuah doomerism. Hal ini terlihat dari beberapa fenomena, seperti aksi solidaritas untuk Andrie Yunus, hingga bantuan untuk masyarakat Aceh, Sumatra Barat, dan Medan saat terjadi banjir bandang akibat penggundulan hutan secara masif. Dari sini kita melihat bahwa perlawanan sejati berasal dari kepedulian dan ketidakpercayaan kita terhadap pihak berwenang hari ini.
Dengan semua ini, kami mengharapkan lahirnya gagasan yang mengajak kita bersama-sama merumuskan jalan susastra dan kebudayaan masa depan. Meski harus ditempuh dengan cara-cara yang radikal, kami sangat menantikan naskah-naskah seperti itu.
Rasa syukur tak terhingga kami haturkan kepada Tuhan pemilik alam semesta. Pada edisi ke-2 ini, kami telah menerima izin untuk menggunakan ilustrasi dari seniman berkebangsaan Spanyol, Joan Cornellà. Suatu kehormatan dapat menggunakan karya-karyanya, karena kami menemukan benang merah dengan apa yang menjadi perbincangan kita di atas: Tersenyum Tapi Melawan. Namun besar harapan kami, perlawanan itu tidak berhenti hanya di dalam kamar (bilik kelambu)—mari kita sama-sama keluar dan menerka zaman hari ini.
Ilustrasi sepenuhnya hak milik sang seniman: Joan Cornella. Seorang seniman bertanda penduduk Spanyol. Dapat ditemui di akun instagramnya @sirjoancornella dengan 3,2jt pengikut.

