..bukan gelap dan kabur membuat tanda
setelah mata diletakkan dalam kepala
semisal sebuah telpon meledak di bantal tidur
tak ada yang tahu siapa pemilik metafor itu.
(Conie Sema)
Tidak ada yang mengaku siapa pemilik metafor api yang menghabisi Kalimantan dan Sumatra itu. Bahkan ribuan tentara, polisi lebih seperti pembasmi hama ketimbang memadamkan api. Memetik puisi Conie Sema pada Metronome Rawa (2021). Dalam buku kumpulan puisi, Conie mengisyaratkan semesta ini memiliki mata untuk melihat, memiliki mulut untuk berbicara. Barangpasti menjadi saksi-saksi kunci di hari pembalasan, di hari kelak semua manusia dikumpulkan. Jikapun begitu skenario setelah kematian, jikapun tidak; anak dan keturunan pemilik metafor api di hutan-hutan Kalimantan dan Sumatra menanggung beban serupa panas neraka yang ia lempar ke pulau-pulau kami.
Setiap kali kebakaran terjadi satu dekade ini, terbesit sebuah lakon Rawa Gambut disutradarai Conie Sema dan diproduksi oleh Teater Potlot pada 2017. Pada tahun yang sama, naskah Rawa Gambut mendapatkan Rawayan Award dari Dewan Kesenian Jakarta.
Naskah ini sangat berhubungan erat dengan kumpulan puisi Metronome Rawa yang diterbitkannya 4 tahun setelahnya. Dari tahun-tahun terbit lakon dan kumpulan puisi itu, kebakaran terus terjadi bahkan 26 tahun sebelum Lakon Rawa Gambut dibuat, 30 tahun sebelum Metronome Rawa dibuat. Hingga saat ini, dan mungkin hingga hutan-hutan telah berganti kota-kota plastik yang memproduksi skincare, minyak goreng, biodiesel, dan detergen.
Bahkan hari ini, kabut asap masuk ke kamar tidurmu, rumah ibadahmu, ruang kerjamu, jalan raya yang setiap hari kamu lewati. Apa sumbangan terbesar kita hari ini untuk melawan? Kesadaran kritis dari kata-kata, sebab itulah senjata, itulah kesadaran intelektual.
Kami mengundangmu untuk menulis Kritik Seni terhadap pementasan Rawa Gambut yang tayang di sini: https://youtu.be/q8U_xEoNP60?si=GOds67yg9KC8YV98.
Latar Belakang
Tulisan dari para penutur kami harapkan dapat mendorong pembacaan lebih dekat mengenai apa yang terjadi, barangpasti penutur lahir dan hidup berdampingan dengan kebakaran juga persoalan lingkungan dan sehari-hari ketika kebakaran penutur bermandikan abu.
Kami melihat, setiap karya yang dikerjakan dengan baik tentu butuh pembacaan yang sama baiknya pula. Dengan melahirkan karya-karya seni yang berakar dari permasalahan lingkungan, tentu kita akan membawa ini menjadi sebuah kabar yang menggembirakan. Bahwa seniman, tidak hanya menjelma api pada syairnya. Tapi menjadi bagian dari pengamatan itu sendiri; permasalahan lingkungan.
Kami mengharapkan tulisan yang dibuat oleh penutur merupakan Tutur Pandang dalam hal ini esai personal. Permasalahan yang dialami penutur, pergulatan antara permasalahan lingkungan, sastra, dan bahasa Indonesia sendiri.
Juga kami mendorong, esai mestilah harus berdampingan dengan teks sastra. Dalam hal ini pendekatan syair (puisi) dan tuturan panjang (prosa), menghasilkan esai yang kritis dan tidak menyingkirkan estetika susastera kita.
Kami mengundang para penutur memberikan kritik seni terhadap pertunjukan Rawa Gambut, sebuah lakon Conie Sema pada 2017. Melalui pendekatan esai personal, berkelindan antara ilmiah, sastra, dan pergulatan penutur tentang persoalan lingkungan (dulu dan sekarang).
Kami mengundang penutur berlangsung dari 25 Agustus hingga 25 September. Setelahnya kami akan memilih 5 naskah terbaik yang akan kami bukukan dalam buku antologi Opus Sastra 2026 (sebuah rekap kegiatan setahun), juga akan ditayangkan secara berkala di laman kami sastraserkap.id.
Dalam agenda ini kami akan membagi dua bagian;
Penutur dari Palembang diwajibkan untuk melakukan nonton bareng dan diskusi di Roemah Tumbuh Kembang, pada tanggal 05 September 2026.
Penutur Umum dapat mengakses link yang sudah tertera di atas.
Ketentuan
· Penutur hanya boleh mengirimkan 1 (satu) naskah esai.
· Esai harus karya asli, bukan jiplakan, tidak menggunakan bantuan AI.
Panduan
· Esai ditulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik.
· Panjang minimal esai berkisar 1.500 kata—tidak termasuk catatan kaki dan daftar pustaka.
· Di atas halaman A4, spasi 1,5 dan huruf menggunakan Times New Roman/Calibri ukuran 12.
· Biodata dilampirkan di file terpisah termasuk bubuhkan foto penutur.
· Naskah esai dan biodata dikirim ke redaksi@sastraserkap.id dengan subjek: JUDULNASKAH_NAMAPENUTUR_OPUSSERKAP-RAWAGAMBUT2026.
· Pencarian ini ditutup pada Jumat, 25 September 2026, 23:59 WIB.
· Lima naskah terpilih akan dibukukan dalam antologi buku tahunan Opus Sastra dan akan ditayangkan secara berkala di laman kami sastraserkap.id.

