Dengan sekelumit peristiwa yang lalu-lalang, bertebaran, dan merongrong di media sosial, kita menyaksikan carut-marut serta konflik secara bersama-sama. Seakan-akan segenggam layar di tangan menyedot kita masuk ke arena konflik hanya untuk mengomentari, menghina, mencaci, atau meludahi. Namun, jika jutaan orang telah melakukan hal itu, apakah penutur akan menggunakan cara yang sama—cara yang telah dilakukan jutaan orang di laman media sosial?
Setelah sebuah peristiwa terjadi, publik tentu ingin mencari pembacaan yang mendalam, baik melalui pendekatan jurnalisme maupun sastra, meski porsinya hanya sekian persen. Jurnalisme sudah menjalankan tugasnya dengan cepat; berita tersebar, dikonsumsi, hingga dibagikan ulang berkali-kali. Sementara itu, respons terhadap kecarut-marutan menggunakan pendekatan sastra masih sangat sedikit.
Lalu, apakah kami harus menjemput penutur ke rumahnya? Mengetuk pintunya dan membangunkannya yang sedang tertidur di kamar sambil mendengarkan alunan piano di kanal musik? Apakah dengan cara seperti itu penutur baru akan menuliskan pendekatannya sebagai sastrawan dalam melihat carut-marut yang terjadi? Jika iya, beri kami alamat penutur dan kami akan menjemputnya ke rumah.
Hari ini, pendekatan ilmiah yang mengutip kalimat tokoh lalu mencocokkannya dengan kondisi terkini sudah bertebaran. Namun, sangat sedikit kami temui penulis yang menggunakan pendekatan tubuhnya—tubuhnya sebagai bagian dari peristiwa itu sendiri. Fenomena ini menunjukkan bahwa penutur sedang tertidur pulas atau masih mengurung diri di dalam rumah, bahkan pembaca pun segan untuk meneleponnya.
Sebagai penikmat sastra, tentu carut-marut ini menjadi tanggung jawab para penutur untuk menghidangkan pikiran mereka yang dikemas menjadi karya sastra. Pembaca merasa gelisah; mereka membolak-balik koran, menyelisik media sosial, dan memeriksa rak-rak buku terbaru, tetapi apa yang mereka harapkan tentang carut-marut yang terjadi ternyata tidak ada.
Tentu, jika pembaca ingin turut menjemput penutur bersama kami, bukan tidak mungkin penutur akan segera menyiapkan kertas-kertas di kamarnya untuk dikirim ke meja redaksi kami.

