Hari Ini Abu
Ilustrasi oleh: Ferdi Semai

Hari Ini Abu: Namaku, Namamu

•
3 Oktober 2026
•
dari redaksi

Tidak ada taman di sini, kita menciumi kabut asap setiap waktu. Dinding putih itu seakan beku berbulan-bulan di pandangan, bahkan tidak satu pun raja-raja yang berani mengusirnya. Hanya sembah ke Hyang, berharap Tuhan mencampakkan air bah ke jutaan titik api yang Ia tanda tangani proposalnya. Tatapan mataku dan matamu menjadi buram orang-orang pun menjadi abu-abu. Perlahan api-api itu tidak hanya menjadi asap, tetapi memburamkan pikiran. Api itu telah menjalar, setelah tinta hitam di kertas putih. Raja-raja itu bermurung duka, berhati suka. Di tubuhnya tinta api, jutaan asap dikirimnya ke rumahku dan rumahmu. Hari ini abu, namaku dan namamu.

Bahkan itu lebih dekat dari tubuhku dan tubuhmu, melampaui musim kemarau di kalender. Di mana musim basah yang tak kunjung tiba itu? Bahkan suara-suara yang aku dan kamu pernah dengar dahulu di lebak-lebak musim pasang, kini telah berganti dengan suara orgen tunggal, jutaan babi, senso, dan deru mesin pengeruk. Siapa yang mencatat hilangnya capung dan kupu-kupu? Bahkan syair-syair pun sangat jarang mengarsipkan. Seperti apa kerinduan itu, jika hal yang hilang pun tak lagi terasa?

Pengertian taman di atas tidak mengacu pada konsep taman urban di kota plastik dan kaca. Taman dalam imajinasi masyarakat Melayu di sepanjang Sungai Musi, bahkan sepanjang Bukit Barisan, adalah Taman Śrīksetra. Seperti yang tertuang pada Prasasti Talang Tuwo peninggalan Kedatuan Sriwijaya yang berbunyi:

"Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Śrīksetra dibuat di bawah pimpinan Śrī Jayanāśa. Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini—pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon—buahnya dapat dimakan. Demikian pula aur, buluh, betung, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, serta semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk, yang dapat pindah tempat maupun yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan. Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya)."

Di mana taman itu berada sekarang, saat hutan-hutan, rawa-rawa, gunung-gunung, dan bukit-bukit telah ditanami pohon seragam? Dari mana imajinasi menyeragamkan ini berasal, sehingga semua tampak sama rupa, tak ada jiwa yang berbeda, bahkan tersesat mengenal jiwanya karena telah tertutup asap membeku di tubuh?

Suara-suara di seluruh hutan hujan dan rawa basah telah hilang. Bahkan penulis sastra enggan menuliskannya menjadi sebuah barang estetika—sekalipun itu teks, lukisan, musik, patung, dan perihal tetek bengek kesenian itu.

Kami masih meyakini bahwa karya seni masih dapat menyingkap kabut asap itu, bahwa karya seni masih dapat mencopot pakaian raja-raja, menggoyang kursi empuknya, bahkan menjungkalkannya.

Maka jika telah terjadi, imajinasi keselarasan alam untuk semesta luas itu hanyalah sebuah ruang kosong yang hanya berada pada kepala mereka yang tidak pernah mengarsipkannya.