Ilustrasi - Bangsa Besar: Tersesat Pada Teks
Ilustrasi oleh: Arsip Sastra Serkap

Bangsa Besar: Tersesat Pada Teks

21 Juli 2026
dari redaksi

Ada sebuah pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tetapi, apakah buah akan bernasib sama seperti pohon atau induknya? Atau masa lalu seseorang yang dilahirkan dari garis keluarga yang kelam, budaya yang kelam, dan kultur yang mengerikan. Namun apakah buah yang jatuh sepasrah itu. Ketika kita membicarakan negara mana teraman di dunia, sudah pasti kolom pencarian kita mengarah ke negara-negara orang Norsemen atau orang utara, seperti Islandia, Norwegia, Finlandia, Greenland, Irlandia, dan Denmark. Bagaimana bangsa dengan latar belakang kelam bisa berubah menjadi bangsa yang tenteram? Satu hal; mengakui masa lalunya dan bertobat. Bukan tersesat pada teks besar, yang entah di mana muaranya.

Jika menganggap menulis adalah cara menjemput ilham dari Tuhan, maka dengan itu penutur menegak racun sejak tulisan pertama.

Mengapa? Apakah kerja-kerja menulis itu harus bergerak? Bukankah menulis hanya menghadap komputer, mesin tik, atau laptop sebagai media mengaplikasikannya? Tentu anggapan seperti itu benar ketika itu sebagai benda mati, tidak bergerak, stuck, tidak memberi manfaat, dan hanya sebagai media curhat saja.

Konon penutur itu adalah makhluk kuat ketika ia disiplin menulis. Bagaimana tidak, pagi hingga sore riset sana-sini, malam mengetik hingga larut. Berulang terus hingga mencapai titik pas terhadap suatu karya yang ditulisnya berdasarkan riset, alamiah, dan terstruktur.

Lalu, pada zaman serba mudah dengan segala akses yang dapat dijangkau ini, apakah masih menemui penulis yang tanpa kerja keras?

Hanya duduk di dalam kamar, mendengar segala bisikan yang masuk ke telinga. Atau igauan yang membawanya ke dalam ruang kosong, lalu ada sesuatu yang berbunyi—kemudian menjadi sebuah tulisan. Kecenderungan yang timbul pada teks kurang lebih tentang perasaannya, persoalan pribadinya, asmaranya, kegalauannya, dan pada tingkat paling gelap yaitu mengumbar kebenciannya.

Tentu kita tidak menemukan hal yang lebih jauh. Jauh ia akan menulis nasib orang lain pada tulisannya. Menampakkan kejujuran pada teks yang ditulisnya kadangkala sulit ditemukan—antara kebenaran dan muslihat.

Realitas hari ini, penutur berkunjung ke tempat yang baru hari itu. Cenderung menulis: oh indahnya bumiku, Tuhan telah menciptakan sepetak surga di tanah Sumatra! Inilah mengapa kerja-kerja menulis tidak segampang kalimat indah yang dipajang pada story medsos, caption Instagram, atau video TikTok tanpa pertanggungjawaban yang jelas. Tentu penyair yang memilih untuk melabeli diri sebagai sastrawan tidak mau akan hal itu.

Pernahkah kamu membayangkan duduk di pelataran es yang sedang turun salju, lalu kamu menuangkan sirup Marjan ke dalam mangkuk yang sudah berisi es yang kamu cedok dari gundukan salju? Mungkin kita terlalu jauh menghayal ke arah sana, sehingga beberapa teks yang kita tuliskan tidak relate dan cenderung terasa seperti gumpalan permen kapas yang kempis ketika masuk ke dalam mulut; tidak padat seperti sedang memakan ubi madu Cilembu, atau makan pindang ikan gabus yang berdaging manis. Tentu kita tidak benar-benar merasa mengunyah ketika mendapati beberapa teks yang terasa empuk dingin—namun cenderung bertekstur kempis dan berongga. Sehingga celah-celahnya mengurangi nilai kenikmatan ketika masuk ke dalam mulut; hanya lewat saja. Tidak membuat lidah dan gigi mengecap seperti ubi madu yang tersangkut di sela gusi, atau tulang ikan gabus yang terasa mengganggu di langit-langit mulut.

Barangkali kita hanya menyesap aromanya, namun belum mendapati sari pati rasanya secara jelas. Beraroma, tapi belum membuat mulut memuji peraciknya. Begitulah kira-kira ketika seorang penulis hanya tersesat pada teks. Tanpa riset, tanpa terjun langsung pada teks yang dituliskannya. Mengapa begitu penting turun ke lapangan dan menjemput teks? Apakah riset dengan membaca jurnal, buku, dan melihat dari sepetak layar HP tidak cukup?

Seperti yang kita bahas di awal tema ini: tersesat pada teks.

Bagaimana penutur membongkar kebesaran bangsa ini, kami melihat ada sebuah cara yang dapat ditempuh. Cara-cara panjang yang terus terang sedikit sekali melakukannya hari ini, yakni kerja panjang susastera kita. Setelah bom atom Hiroshima dan Nagasaki, Jepang bertobat sebagai negara penjajah. Mulai menuliskan kembali, ke mana arah bangsa ini akan berlabuh. Norwegia setelah cerita masa lalu yang panjang dan kelam, dari penaklukan ke penaklukan. Menjadi bangsa yang beradab dengan tingkat keamanan tertinggi di dunia. Bagaimana mereka menjadi bangsa besar itu sendiri? Bertobat dan mengakui masa lalu. Menulis kembali arah bangsa ke depan.

Apakah kita akan tersesat pada narasi kita bangsa besar? Kembali lagi pada diri penuturnya, bagaimana menjadi counter naratif akan itu.